Six Blood

Six Blood
44. Mulai terlihat


Tringgg....


Bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini di sekolah Alaina. Alaina memasukan semua alat tulisnya ke dalam ransel berwarna pink dan warna yellow di sebagian tas, yang tiap ke sekolah dibawanya. Tiba-tiba Zee menarik Alaina buru-buru ke suatu tempat.


"Kamu mau ngapain Zee. Kita mau kemana?". Ucap Alaina heran sambil mencoba untuk menghentikan langkah kaki Zee yang sedari tadi terus saja menariknya.


"Udah ikut aja. Ntar Lo juga bakalan tahu kita mau kemana". Ujar Zee sambil mengedipkan satu matanya.


Zee terus menarik tangan Alaina dan setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai di tujuan.


"Akhirnya kita sampai juga". Ucap Zee sambil menarik napas lega.


"Kamu ngapain bawa aku ke sini. Kita mau ngapain?". Ujar Alaina makin heran.


"Udah Lo tenang aja. Duduk aja dulu". Ucap Zee sambil membantu Alaina duduk di kursi yang sudah disiapkan.


Alaina duduk sambil melihat pemandangan yang indah di atas atap gedung sekolah. "Ini kita sebenarnya mau ngapain si Zee. Udah hampir setengah jam kita nunggu disini. Kita lagi nungguin siapa si?". Kesal Alaina.


"Lo sabar dulu lah. Makan aja tu cemilan yang ada didepan Lo". Ujar Zee santai.


"Ni anak kemana si. Kok lama bangat ya. Niat buat lakuin ini nggak sih". Ucap Zee pelan, karena udah mulai bosan juga buat nunggu.


"Lakuin apa Zee?". Tanya Alaina penasaran karena masih kedengaran ucapan zee tadi walau Zee tadi bicara pelan.


"Lakuin apa. Salah dengar Lo Ai (ngeles). Udah jangan berpikir macam-macam. Lo tenang aja. Kita tunggu bentar lagi". Ujar Zee.


Tak lama setelah Zee dan Alaina berdebat seseorang pun berjalan kearah Zee dan Alaina berada.


"Tu orangnya datang". Ucap Zee dengan tersenyum lebar.


Alaina yang mendengar ucapan Zee ikut memutar pandangannya ke arah pintu masuk. Dan betapa kagetnya gadis mungil itu melihat siapa orang yang saat ini berada tepat di depan matanya. Seketika makanan yang ditangan Alaina pun terjatuh tak berdaya menyentuh lantai.


*****


Selepas pulang kampus Shelina mampir dulu ke klub taekwondo. Ya, meskipun kaki nya belum pulih. Tapi Shelina masih ngotot ke tempat latihan taekwondo. Katanya sih, Shelina cuman mau lihat perkembangan anak-anak yang lain latihan.


"Gue temani Lo aja ya Lin. Kebetulan hari ini gue juga nggak ada lagi kegiatan kok". Ujar Sani sambil ikutan keluar dari mobil dan menghampiri Shelina.


"Nggak usah. Lo pulang aja. Nanti gue pulang sendiri". Ucap Shelina datar.


"Tapi.., Kondisi...., (Ucapan Sani terpotong).


"Kaki gue? (sambil melihat kakinya). Lebai bangat Lo. Gue cuman luka di kaki. Bukan lumpuh!". Tegas Shelina dengan nada penekanan di kalimat Gue cuman luka di kaki. Bukan Lumpuh!. Kemudian Shelina berlalu pergi memasuki ruang latihan taekwondo.


Latihan taekwondonya sudah selesai. Selama anak-anak yang lain latihan, Shelina benar-benar hanya melihat perkembangan latihan anak-anak didik yang di klub taekwondo itu karena kondisi kakinya juga belum memungkinkan buat latihan. Latihan hari ini selesai jam delapan malam. Cukup lama memang. Shelina meminta supir keluarga nya untuk menjemput dirinya di klub taekwondo. Cukup lama shelina menunggu tapi mobil yang menjemput Shelina belum juga kunjung datang. Gadis tomboi itu juga sudah berkali-kali menelpon supir yang akan menjemputnya tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Shelina putuskan saja berjalan perlahan untuk melihat taksi lewat. Shelina berjalan perlahan dengan memakai handset untuk mendengarkan musik. Disela-sela langka kaki Shelina ada langka kaki lain juga terdengar. Tapi sewaktu Shelina menoleh ke kebelakang, ia tidak melihat siapa pun. Shelina lanjut berjalan tanpa memperdulikan hal itu. Suasana jalan yang dilewati gadis tomboi itu memang terlihat sepi dan hanya sedikit juga kendaraan yang berlalu lalang. Semakin Shelina abai. Semakin terasa ada yang mengikuti Shelina. Karena Shelina anak nya nggak suka basa-basi, akhirnya dia bilang "Kalau mau bicara sama gue nggak usah ngumpat- ngumpat. Tunjukin aja wujud Lo. Gue nggak takut". Ucap Shelina lantang.


Tidak ada jawaban. Shelina pun lanjut jalan. Tapi tiba-tiba tongkat Shelina jatuh dan Shelina pun ikut terjatuh nyungsep ke aspal karena tidak kuat menahan tubuhnya dengan satu kaki. Gadis itu mencoba untuk mengambil tongkatnya dengan sedikit ngesot. Hampir saja ia mendapatkan tongkat itu. Tapi tiba-tiba saja ada seorang pria berambut gondrong menarik satu kaki Shelina begitu saja dengan sangat kuat kemudian membanting Shelina ke dinding trotoar jalan. Setelah itu pria itu pun menghilang tidak tahu pergi kemana. Hilang seperti angin.


"Aww (merintih kesakitan). Siapa Lo?. Lo mau apa?". Bentak Shelina dengan mata yang mondar mandir mencari pelaku.


"Jangan Lo pikir dengan kondisi kaki gue yang kayak gini, gua bakalan takut sama Lo!. Keluar Lo!". Teriak Shelina sambil berusaha berdiri dengan satu kaki di injit nya.


Dringgg... (Suara telpon berdering).


Deringan dari ponsel Shelina membuat ia kaget. Shelina mengangkat telepon itu dengan marah-marah. "Kenapa baru telepon saya!. Dari tadi saya menunggu telepon dari Bapak!". Bentak Shelina karena kesal.


"Mohon maaf non. Saya tidak bermaksud mengabaikan panggilan dari non. Tadi Mobil yang saya bawa mogok non. Jadi saya bawa ke bengkel dulu. Dan sewaktu saya mau mengabari non, ternyata handphone saya baterainya habis non. Jadi tadi saya pinjam casan orang yang di bengkel non. Sekali lagi saya minta maaf non. Ini saya udah dekat di posisi jemput yang non bilang non". Ucap supir Shelina dengan logat Sunda.


"Ya sudah. Cepat sini pak. Saya kirim lokasi terbaru saya". Ujar Shelina dengan nada sudah rendah tapi masih kesal.


"Ya baik non". Ucap supir itu di seberang telepon. Panggilan pun berakhir.


Beberapa menit kemudian supir Shelina sampai. Lelaki yang hampir memasuki usia paru baya itu langsung bergegas keluar, kemudian memapah Shelina untuk masuk mobil. Ditengah perjalanan supir Shelina sesekali melirik kebelakang. Ingin rasanya pria itu bertanya pada Shelina. Kenapa gadis tomboi dan jutek itu penampilannya jadi berantakan seperti itu. Tapi niat untuk bertanya itu beliau urungkan takut majikannya makin marah padanya. Mata Shelina memang sibuk mengedarkan pandangan di jendela mobil. Tapi ia tahu kalau sedari tadi supirnya itu sibuk memperhatikannya. Hal itu membuat ia risih.


"Fokus nyetir saja pak!". Ketus Shelina.


"Aa..(kaget). I..ya.. non". Ucap supir itu dengan sedikit gugup.


Supir Shelina benar-benar mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia lebih memilih untuk menyetir dengan fokus sebelum majikannya itu marah lagi. "Biar lah penasaran dari pada nanti saya di tikam sama singa". Gumam supir Shelina dalam hati dengan logat Sunda.