
Fajar telah datang menghampiri sejuknya mentari pagi di permukaan bumi.
Aslan pagi ini berangkat ke kantor untuk lanjut menyelidiki kasus yang ia tangani. Sebelum kekantor, ia melihat keadaan Alaina terlebih dahulu.
Aslan masuk kamar Alaina. "Masih tidur dik?". Sambil menempelkan tangannya di jidat Alaina. "Alhamdulillah udah turun panasnya".
Alaina bangun. "Mas, udah dari tadi di sini?". Langsung duduk.
"Baru aja. Panas kamu udah turun".
"Ya mas Alhamdulillah".
"Jadi, hari ini kamu sekolah?". Tanya Aslan.
"Nggak mas. Alaina udah izin kok. Soalnya mau pulihkan stamina tubuh Alaina dulu mas. Baru nanti sekolah kalau udah benar baikan".
"Ya udah. Jangan lupa makan ya. Mas berangkat dulu".
"Ya mas. Mas juga ya mas". Sambil menyalami Aslan.
Aslan berlalu pergi ke kantor. Selepas Aslan pergi, Alaina mandi agar badannya lebih segaran. Sewaktu mandi, Shelina masuk kamar Alaina.
"Aina!". Berteriak ke arah kamar mandi. "Gue pinjam handphone Lo bentar dong. Handphone gue lagi error kayaknya".
"Ya udah pakai aja kak. Ada di balik bantal". Teriak Alaina dari kamar mandi.
"Sandinya apa dik?". Kembali berteriak.
"Gabungan nama kita kak". Teriak lagi.
"Oke". Sambil mencoba membuka handphone Alaina.
Handphone Alaina udah terbuka. Shelina membuka WhatsApp Alaina karena iya ingin menghubungi temannya. Shelina langsung menelpon nomor temannya.
"Hello Sani. Ini gue Shelina. Gue pakai hp Alaina. Hp gue lagi sakit. Nanti kita jadi pergi kan?". Tanya Shelina.
"Oo kamu Lin. Iya jadi. Nanti kita pakai mobil aku aja. Pas pulang kampus kita kumpul ya". Ucap Sani.
"Oke terserah kalian aja. Ya udah. Bye". Shelina menutup teleponnya.
Shelina ingin meletakan handphone Alaina di tempat semula. Tapi ada pesan masuk. Dan nggak sengaja terbaca oleh Shelina. Shelina kemudian langsung meletakan handphone itu.
"Thanks sis. Gue berangkat dulu". Berlalu pergi meninggalkan kamar Alaina.
Alaina selesai mandi dan siap-siap. Setelah selesai ia melihat handphonenya. "Pesan dari Iksan?". Alaina membaca pesan itu "Yangg, udah enakan belum badannya?. Kalau udah, aku ajak kamu jalan-jalan ya?. Gimana kamu mau nggak?".
Alaina mikir bentar, kemudian balas "Oke boleh san".
"Setengah jam lagi aku jemput ke rumah ya. Bawa baju ganti ya yangg. Aku udah pesan kamar di villa dekat puncak. Kita pulangnya besok, jadi nginap semalam dulu". Pinta Iksan.
"Kamar?. Nginap?. Maksudnya san?". Alaina bingung.
"Iya aku udah pesan kamar buat kita nginap".
"Kamu jangan aneh-aneh deh san".
"Pesan kamar kok dibilang aneh. Tenang aja, aku pesan dua kamar kok yangg. Kamu aja yang pikirannya kemana-mana". Sambil beri emot ketawa 🤣.
"Oo. Maaf😁. Salah kamu, jelasinnya nggak sampai akhir 🙄".
"Ya oke. Maaf yangg...🤗".
"Ya udah. Kabari kalau kamu udah jalan ya san".
"Ya yangg".
***
Kasus yang di tangani oleh Aslan menunjukan titik terang. Ia dan tim langsung melacak keberadaan pelaku. "Dia masih muda. Kita harus mencari dimana keberadaan dia sekarang". Ucap Aslan.
"Ya Ndan". Jawab Alin.
Fais mencek dengan lebih teliti lagi biodata pelaku yang sudah berhasil mereka temukan. "Ndan, kita berhasil menemukan titik keberadaannya Ndan". Ujar Fais.
"Siapkan semua yang kita butuhkan kita langsung berangkat sekarang". Pinta Aslan.
Alin dan Fais "baik ndan". "Semua udah siap ndan". Ucap Fais.
"Ya udah kita harus cepat sampai di lokasi". Ujar Aslan.
"Mulai geledah isi rumah dan sekitarnya". Perintah Aslan.
"Baik Ndan" Ucap tim sambil memberikan hormat kemudian langsung berpencar.
Aslan bertanya di warung terdekat. "Permisi buk. Mohon maaf menganggu waktunya sebentar. Rumah itu apa masih ada penghuninya?". Tanya Aslan sambil menunjuk kearah rumah yang mereka selidiki.
"Setahu saya sudah nggak pak. Tapi, sesekali anak yang punya rumah datang ke rumah itu pak". Jawab Buk Warung.
"Apa orangnya ini buk?". Alin menunjukan foto pelaku pada ibu warung.
"Iya ini anaknya. Kasian bangat anaknya, udah ditinggal kedua orang tuanya". Ujar ibu warung.
"Emang orang tuanya kemana buk?". Tanya Alin.
"Udah lama meninggal". Ucap Buk Warung.
"Meninggal kenapa buk kalau boleh tahu?". Tanya Aslan.
Alin mencatat penjelasan ibuk warung itu.
"Terima kasih atas waktu dan informasinya buk.". Ucap Aslan.
"Ya pak, buk. Sama-sama". Ucap buk warung.
"Permisi buk". Ucap Alin sambil tersenyum.
Alin dan Aslan kembali ke halaman rumah Pelaku. Para tim kembali berkumpul.
"Ada yang kalian temukan". Tanya Aslan.
"Lapor komandan". Memberikan Hormat bentar. "Kita menemukan foto-foto ini di dalam suatu ruangan ndan". Sambil memberikan fotonya.
Aslan dan alin melihat satu-persatu foto itu.
"Ini mungkin korban-korban yang udah di habisi oleh pelaku". Gumam Aslan.
"Mohon maaf komandan. Wajah ini, tampak familiar bangat Ndan". Ucap Alin sambil menunjukan foto itu ke Aslan.
Aslan sontak kaget dan langsung menelpon seseorang.
"Kita harus cari dimana keberadaan dia sekarang. Ini bahaya!". Tegas Aslan.
"Baik komandan". Ucap Alin sambil hormat dan langsung bergegas masuk mobil.
Aslan, alin dan Fais satu mobil dan yang lain mengikuti mobil Aslan dari belakang. Sambil Aslan menyetir, ia meminta Fais untuk melacak kembali keberadaan pelaku.
"Kita menemukan dia Ndan". Ujar Fais.
"Segera kasih tahu tim yang lain buat segera menuju lokasi". Pinta Aslan sambil langsung membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
"Biar saya saja yang kasih tahu. Kamu fokus melihat arah pelacak itu aja Fais". Pinta Alin.
"Baik buk". Ucap Fais.
*****
Hiruk pikuk suara teriakan memenuhi area lapangan sepak bola. Pertarungan sangat sengit dan tak berselang waktu lama akhirnya tim sepak bola RAKGMATA menang. Semua yang mendukung Tim Rakgmata berteriak kegirangan untuk menyambut kemenangan.
"Huuuu...... Kita menang". Teriak Korleo dengan gembira sambil mengangkat tubuh Tara dengan bersemangat.
Tara yang mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari Korleo merasa risi "Turunin gue nggak". Ucap Tara dengan geram.
Gron dan Markus hanya ikutan ketawa melihat dua sahabatnya itu saling menjahili satu sama lain.
"Coba aja RAKGMATA masih lengkap. Pasti akan lebih seru". Gumam Gron disela ia memperhatikan Tara dan Korleo yang masih adu debat dan menjahili.
"Lo benar. Kalau nggak ada Rai itu, berasa ada yang kurang aja. Terlepas dari itu semua kita harus ikhlas. Raislan pasti udah lebih bahagia dan tenang di sana". Sambung Markus.
Tara dan Korleo mengehentikan gelutnya. "Kita harus secepatnya bantu tuntaskan apa penyebab Raislan meninggal. Gue merasa Raislan belum pergi dengan tenang. Maka dari itu kita harus tahu, apa penyebab botol kaca itu bergerak dengan secepat kilat dan menikam Raislan". Sela Tara.
"Ia kita tunggu Shelina sama Alaina senggang dulu. Beberapa waktu lalu gue telpon Shelina, katanya ia masih sibuk. Kalau udah ada waktu katanya baru ia akan ajak kita ketemu dan bahas hal ini". Timpal Karleo.
"Selain sibuk, seperti mereka juga belum siap buat mengingat kembali kejadian pahit yang menimpah saudaranya. Mereka pasti butuh waktu untuk menenangkan diri". Sambung Gron.
Mereka semua pun sepakat untuk menunggu Shelina dan Alaina siap buat membahas hal tentang Raislan lagi.