
"Apapun itu, namun kamu berhasil membuktikan kesuksesanmu pada semua orang. itu sudah cukup hebat dan frestasi yang luar biasa."
"Ciko, kamu jangan selalu memujiku."
"Ya, karena kamu pantas mendapatkan pujian dariku, Cika." ucap Ciko yang membuat wajah Cika memerah melihat tatapan mata Ciko yang dalam baget, seakan ingin menembus relung hatinya yang masih beku.
"Cika, apa aku boleh tahu tentang foto anak laki-laki di ponsel mu, apa kamu sudah menikah dan memiliki seorang anak?" tanya Ciko hati-hati, seraya mempersiapkan hatinya yang bisa saja terluka setelah ini.
"Kamu melihatnya ponselku?"
"Ya, tapi aku tidak sengaja!"
"Dia anakku, namanya Kyano."
Pertanyaan ini membuat Cika merasa malu, mempunyai anak tanpa status pernikahan. tapi dia juga tidak bisa berbohong, dia yakin setelah mengetahui kebenaran ini, Ciko akan mundur dengan sendirinya, dada Cika terasa sesak, namun dia berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja dan tetap tenang dihadapan Ciko.
"DEGH!!"
"Siapa pria beruntung itu, Cika?"
"Seseorang yang tidak penting Ciko, karena aku sudah pergi jauh dari hidupnya." jawab Cika sendu.
"Syukurlah."
"Apa?"
"Maaf Cika, aku keceplosan."
Ciko menggaruk rambutnya yang tidak gatal, antara malu dan senang menjadi satu, mengingat Cika yang masih sendiri, soal anak itu bonus buatnya, bathin Ciko.
Cukup lama mereka ngobrol-ngobrol, sesekali padangan mata mereka bertemu, diiringi detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. ditatap terlalu lama membuat Cika salah tingkah. hingga deringan panggilan masuk di ponsel Ciko, menghentikan obrolan seru mereka, karena sang asisten meminta Ciko untuk segera kembali kekantor ada hal yang tidak bisa dia wakilkan pada siapapun.
Cika mengantarkan Ciko sampai depan tokonya, sebelum melajukan mobilnya pria itu melambaikan sebelah tangannya pada Cika, yang dibalas dengan hal yang sama oleh Cika.
"Ceiye.... sepertinya bos kita tengah Heppy nie ye?" goda asistennya Sinta, yang sudah seperti sabahat baik bagi Cika.
"Cie...cie... namanya saja mirip, berarti sudah jodoh. ingat Bu Cika, bagaimanapun Kyano butuh sosok seorang ayah."
"Sok tahu kamu Sinta, Kyano hanya butuh aku dan neneknya."
Beda dengan kehidupan yang dijalani Cika, Alex justru semakin terpuruk dalam kesedihan. dia hampir tidak pernah lagi datang ke kantor, hari-harinya lebih sering diisi dengan minuman keras, sebagai upaya untuk melupakan Cika dan rasa penyesalannya.
"Alex! aku hamil anakmu, ini anak kita."
Kata-kata terakhir Cika, seperti peluru yang setiap saat menembus relung hati Alex, sehingga dia terus berusaha untuk mencari Cika, termasuk mengarahkan semua orang-orangnya, namun hingga detik ini mereka belum juga berhasil menemukan Cika, seolah-olah ada yang sengaja melindungi keberdaan Cika.
Berita terakhir yang didapat Alex, ada yang mengatakan, jika Cika sudah meninggal bersama bayi dalam kandungannya dalam sebuah kecelakaan. tapi mereka juga tidak bisa membuktikan kebenaran berita tersebut.
"Kak, please jangan seperti ini lagi. hari ini kak Alex harus ikut bersama kami kekantor. semua investor menuntut pertanggungjawaban dari kita, karena kerugian perusahaan yang semakin besar, aku yakin pasti salah seorang kepercayaan kakak ada yang berkhianat dan korupsi uang perusahaan." lapor Lisa.
"Aku tidak peduli lagi, aku hanya menginginkan Cika dan anakku kembali." jawab Alex dengan tatapan kosong, pikirannya belum sepenuhnya sadar karena terlalu banyak minum minuman keras.
"Kak sadarlah, kembalilah menjadi Alexander yang dulu kuat dan ditakuti para musuh, tidak lemah hanya karena seorang perempuan seperti ini." teriak Lisa yang mulai emosi menghadapi sikap Alex uang tidak mau peduli dengan sekitarnya lagi.
Senyum manja dan sikap polos Cika menari-nari di pelupuk mata Alex, sehingga bibir pria itu tersenyum mesum dengan fantasi liarnya, beberapa kali Lisa pernah memanfaatkan alam bawah sadar Alex, dengan berpura-pura menjadi Cika, namun usahanya tersebut selalu gagal.
"Cika kamu dimana sayang, apakah kamu baik-baik saja bersama anak kita?" teriak Alex frustasi.
"Dasar gila! sudah sekian lama perempuan itu pergi, tapi dia masih menyebut-nyebut namanya."
Umpat Lisa kesal, karena rencana yang disusunnya tidak sesuai dengan harapan. dia selalu gagal mendapatkan cinta dan menjadi pendamping Alex, meskipun Cika sudah tidak berada disisi pria itu lagi.
"Jangan pergi... jangan tinggalkan aku Cika!!"
Tangan Alex menggapai-gapai diudara, mimpi buruk dimana Cika pergi dan meninggalkannya kembali menghantui, keringat membasahi wajah dan tubuhnya tubuh Alex.
Saat terjaga Alex kembali meneguk minumannya, agar bisa menghapus bayangan Cika dan rasa bersalahnya pada gadis itu.