
Semula Cika terlihat ragu dan hanya menatap saja obat yang dipegang oleh Rambo, dia trauma dengan berbagai kejadian yang menimpanya, Cika yakin ada seseorang dibalik semuanya.
"Maaf Rambo, tapi aku tidak bisa meminum obat ini." meletakan kembali obat tersebut ketangan Rambo.
"Jangan ragu dan takut padaku, disini aku bekerja sebagai pelindung untukmu nona, percayalah."
"Rambo, apakah aku tidak akan mati karena keracunan makanan."
"Tentu, tapi aku pastikan jika hal ini tidak akan terjadi lagi padamu, nona."
"Rambo sepertinya tulus ingin membantuku, aku yakin jika Lisa dalang dibalik semua ini, tapi aku harus tetap waspada sebelum semuanya terbukti.
Disebuah ruangan mewah perusahaan, Rapat kerja sama pun dimulai, tanpa pikir panjang lagi kedua belah pihak langsung menandatangani surat kerja sama mereka, dia sudah tertarik melihat kinerja perusahaan Alex yang diyakininya akan mampu mengembangkan perusahaannya menjadi lebih besar lagi.
"Okey Alex, mulai sekarang perusahaan kita resmi bekerja sama."
Mereka mengulurkan tangannya berjabat tangan, menadahkan jika bisnis besar mereka akan segera dimulai.
Begitu selesai pertemuan pentingnya, Alex segera menuju rumah sakit. dia begitu mengkhawatirkan kondisi sang sekertaris kesayangannya, Cika.
"Cika, apa kamu baik-baik saja?" tanya Alex begitu sampai, dia melihat kondisi Cika masih lemas, sebelah tangannya sudah terpasang alat infus.
"Tuan maafkan aku, gara-gara aku sakit perut. bisinis kerjasama perusahaan tuan hampir aku buat gagal."
"Tidak! tapi aku merasa kelaparan sekali." mengelus perutnya dengan ekspresi memelas.
"Baiklah, kamu mau makan apa?" tanya Alex mengulum senyum, dia benar-benar gemas melihat ekspresi imut Cika.
"Martabak, pizza, ayam mercon, nasi goreng ayam gulai, soup iga." tanpa sadar Cika menyebutkan semua jenis makanan kesukaannya dan dilanjutkan dengan berbagai jenis minuman segar, membuat mata elang Alex membulat tidak percaya. sedangkan Cika menundukkan kepalanya malu.
"Apa kamu yakin mampu menghabiskan semuanya?" tanya Alex, Cika menganggukkan kepalanya malu-malu.
"Rambo, pesan semua jenis makanan yang diinginkan Cika. tapi sebelumnya lakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap makanan tersebut."
"Siap, tuan."
Alex mengambil alih obat ditangan Rambo dan membantu meminumkan pada Cika. Ada perasaan tenang dan nyaman saat mendapatkan perlakuan manis dari Alex, Cika merasa dikelilingi beribu-ribu bunga. begitu juga dengan Alex, pria itu tidak bosan-bosannya memandangi wajah cantik Cika, sebelah tangannya mulai menyentuh dan mengelus penuh kasih sayang wanita pertama yang membuat hatinya bergetar dan selalu ingin disampingnya.
"Kamu terlihat begitu polos, lucu dan sangat imut, apakah aku mulai jatuh cinta padamu, Cika?" bathin Alex berusaha mengendalikan gejolak didadanya.
"Lagi....lagi usahaku gagal, tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menyingkirkan dirimu, Cika." umpat Lisa mengepalkan tangannya penuh dendam dan kebencian.
Rambo yang melihat ekspresi yang ditunjukkan Lisa, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tahu jika semua ini perbuatan gadis itu, namun sejauh ini Rambo masih berusaha untuk melindungi Lisa, agar perbuatannya tidak diketahui oleh Alex.
Tidak lama pesanan makanan Cika datang, mata gadis itu berbinar-binar bahagia. Cika langsung menyantap makanannya dengan lahap, Alex tertawa kecil melihat tingkah polah Cika. tidak seperti para gadis biasanya, yang selalu jaga image dihadapan Alex, sedangkan Cika malah sebaliknya.