Sekretaris Kesayangan, CEO

Sekretaris Kesayangan, CEO
Tidak mungkin dia


Satu tahun kemudian,


Seorang wanita cantik tengah sibuk dengan laporan penjualan toko kue-kuenya yang selalu meningkat, bahkan sudah memiliki beberapa anak cabang.


Kemampuan sang ibu yang ahli dalam membuat aneka kue dengan resep andalannya, menular pada Cika, ditambah lagi Cika yang sengaja merekrut beberapa chef ternama. agar usahanya semakin maju dan dikenal banyak orang.


"Tok!tok!tok"


"Masuk!"


"Bu Cika, toko kue kita mendapat pesanan kue dalam jumlah besar dari perusahaan Art King, untuk menjamu acara besar mereka, namun kali ini, mereka meminta ibu untuk mengantarkannya secara langsung." lapor Sinta selaku asisten pribadi.


"Oke, tolong kamu handel semua pekerjaanku sampai aku kembali." Cika berdiri mengambil tas, bersiap untuk pergi menuju perusahaan terbesar di kotanya.


"Baik Bu."


Cika melangkah anggun dengan penampilannya yang sederhana, namun terkesan mewah dan elegan. dia membiarkan rambut panjang sebahunya tergerai bebas.


"Selamat pagi, saya ingin mengantarkan pesanan kue." ucap Cika pada seorang resepsionis.


"Ibu Cika ya, dari toko kue Sunflower."


"Iya Mbak."


"Kalau begitu ibu langsung saja kelantai sebelas, karena rapat besar akan dimulai dua puluh lima menit lagi."


"Baiklah, terimakasih." Cika segera menuju lift diikuti beberapa karyawan tokonya yang membawa beberapa bok kue berisi penuh dikedua tangan mereka masing-masing.


"Ini adalah acara besar, saya harap tidak ada yang melakukan kesalahan. Tunjukkan keseriusan dan kenerja kalian demi kemajuan usaha toko kue kita. dengan memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada pelanggan." ucap Cika mengingatkan para karyawannya.


"Baik Bu."


"Sebagian dari kalian akan mendorong troli berisi kue-kue kering dan basah, dan lainya menata menu di meja yang sudah disediakan, Kalian paham."


"Paham Bu."


"Sebentar lagi acara di aula utama akan dimulai, segeralah bersiap." Cika memperhatikan seragam para karyawannya apakah sudah rapi atau belum, mereka juga diminta memperbaiki riasan wajah agar penampilan terlihat selalu segar, rapi dan bersih, sehingga enak dipandang mata, mengingat pelanggan mereka kali ini bukanlah perusahaan sembarangan.


Setelah menata menu pembuka dengan rapi, Cika diikuti karyawannya keluar untuk sementara waktu. nantinya mereka akan dipanggil lagi saat acara makan akan dimulai.


Satu jam berlangsung, mereka kembali diminta untuk segera bersiap-siap karena acara makan besar akan segera dimulai.


Tanpa sengaja mata Cika tertuju pada sosok pria tampan, postur tubuh tinggi tegap menuju kearah Aula utama. dengan setelan biru tua yang pas dilengkapi dengan tubuh yang kekar dan dada yang bidang. Cika lebih memilih untuk menundukkan kepalanya, namun dia bisa melihat sepasang kaki lurus sempurna yang mengarah kearahnya. Sepasang sepatu kulit coklat, sudut tatapan pria itu memiliki aura yang begitu kuat, apalagi semakin lama dia semakin mendekat.


"Sangat tampan, dan penuh kharisma." gumam salah seorang karyawan Cika tanpa sadar. pelayan wanita itu terus memuji ketampanannya. Pria itu memakai kaca mata hitam, diikuti beberapa orang yang mengenakan jas berwarna hitam dibelakangnya. rasa penasaran membuat Cika mengangkat kepalanya perlahan.


"Ciko Jevericho, tidak mungkin dia?"


Cika mengedipkan matanya, tidak yakin pada penglihatannya sendiri. jika pria dihadapannya saat ini adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya dulu. mereka memiliki banyak kesamaan selain hobi dan makanan kesukaan, mereka berdua juga memiliki kemiripan nama Ciko dan Cika, begitu juga juga sebaliknya, pria tampan itu menatap lekat kearah Cika. seakan mengagumi wajah cantik natural dihadapannya.


"Astaga, aku kembali merasakan debaran itu. benarkah dia Ciko sahabatku dulu? jikapun benar tidak akan merubah keadaan Cika, ingat! kamu seorang


Single parent. cukup sudah rasa sakit yang kamu terima dari Alex, tutup pintu hati dan cintamu pada seorang pria. karena hal itu hanya akan membuatmu menjadi wanita yang lemah." bathin Cika kembali menyingkirkan rasa yang sudah lama dia kubur dalam-dalam.


Cika memandangi layar ponselnya, terpampang fotonya bersama Kyano, balita kesayangannya.


"Anakku sayang, mommy hanya ingin hidup tenang bersamamu. love you, Kyano." bathin Cika mengusap sayang bibir mungil tersebut yang selalu membuatnya bahagia dan sedih menjadi satu, karena raut ketampanan yang dimiliki Kyano foto kopian dari wajah sang ayah Alexander, pria yang sudah menorehkan luka yang mendalam dihatinya.