Sekretaris Kesayangan, CEO

Sekretaris Kesayangan, CEO
Banyak hal yang telah berubah


"Cika, kamu pasti Cika kan?"


"I..iya, dan kamu juga pasti Ci.. Ciko, Ciko Jevericho kan?"


"Betul sekali, sudah sekian lama kita tidak bertemu. kamu apa kabarnya sekarang?" tanya Ciko seraya tersenyum penuh kerinduan terutama pada kenangan indah persahabatan mereka dulu, walaupun mereka berdua tidak pacaran dan saling cinta dalam diam.


"Banyak hal yang telah berubah Ciko, yang jelas aku bukan Cika gadis belasan tahun yang dulu kamu kenal."


"Ya, karena Cika yang sekarang jauh lebih cantik dan dewasa." puji Ciko.


"Kamu ngapain menemuiku keruangan ini. bukankah kamu tamu istimewa dan harusnya masih berada diruang rapat?"


"Tidak masalah Cika, ini perusahaan kakekku dan sekarang sudah jatuh ke tanganku sebagai penerusnya."


"Sultan mah bebas ya!"


"Bukan begitu, aku sengaja menemuimu kesini untuk memastikan jika kamu benar-benar Cika, yang dulunya ingusan sampai ke pipi." ledek Ciko yang tawanya hampir meledak, sedangkan Cika wajahnya langsung memerah karena malu.


"Kenapa sih yang diingat kejelekan ku saja." cemberut.


"Bukan itu saja yang aku ingat darimu Cika, banyak hal. terutama senyuman, kepolosan dan tentunya wajah imutmu ini."


"Emang dasar Ciko, kamu tidak pernah berubah ya." kali ini Cika seakan kembali menemukan keceriaannya yang pernah hilang, mereka tertawa lepas bersama.


"Ciko dan Alex sama-sama memiliki wajah tampan, badan tinggi dan tegap, walaupun dari segi sifat. Ciko jauh lebih lembut dan humoris, sama sepertiku. sedangkan Alex lebih cool dan mesum. Astaga kenapa juga aku harus membandingkan mereka berdua? ingat Cika! Alexander hanya masalalumu, ayo move on darinya Cika!!!"


"Cika, kenapa bengong?" Ciko mengibaskan tangannya di depan wajah Cika. hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Aku?" Cika bingung harus menjawab apa, sehingga Ciko tertawa renyah melihat wajah lucunya.


"Oya Cika, semua makanan itu berasal dari toko kue milikmu ya? aku sangat menyukainya."


"Iya, terimakasih atas pujiannya."


"Boleh nggak aku berkunjung ke toko milikmu, aku ingin pesan yang banyak untuk ibu dan para art di rumah. aku yakin mereka pasti menyukainya."


"Boleh, pakai banget lagi." jawab Cika tersenyum senang.


***


Pagi ini Ciko terlihat sangat rapi, dia sudah tidak sabaran untuk bertemu kembali dengan Cika. dia menepikan mobilnya diparkiran toko kue yang cukup populer, sebelum melangkah turun dia memastikan penampilannya.


"Cika, ternyata kamu wanita yang mandiri dan cukup sukses." bathin Ciko memperhatikan pengunjung toko Cika yang selalu ramai. bahkan sudah memiliki banyak cabang.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" sapa pelayan toko.


"Ya, saya mau pesan kue, tapi saya mau yang melayani pemilik toko kue ini." ucap Ciko.


"Maksud bapak, ibu Cika."


Tanya pelayan memastikan, karena tidak biasanya pengunjung meminta pelayan prima seperti ini, dia memperhatikan penampilan Ciko yang terlihat seperti bangsawan dan bukanlah pengunjung biasa.


"Ya."


"Sebentar ya pak, daya konfirmasikan dulu pada beliau apa dia tidak sibuk."


"Ya silahkan."


Pelayan wanita itu menghubungi Cika melalui intercom, setelah memberitahukan jika ada pengunjung yang minta dilayani oleh owner secara langsung. Cika langsung menyanggupi karena dia sudah tahu jika itu dari Ciko.


Cika keluar dari ruangan kantornya, dia langsung menemui Ciko.


"Hai, selamat datang di Toko kue ku, pak Ciko." sambut Cika hangat dan penuh senyuman.


"Hai juga Cika, kamu pa kabar?"


"Baik-baik pak Ciko, kan baru kemaren kita bertemu. bapak sendiri bagaimana? are you oke?"


"Begitu ya, kok aku jadi pelupa." canda Ciko.


"Kita ngobrol-ngobrol ditaman belakang ya." ajak Cika menuju sebuah ruangan yang terhubung langsung dengan kafe miliknya.


"Tempat yang nyaman dan sejuk." puji Ciko.


"Terimakasih, jika bapak menyukai tempatku yang sederhana ini."


"Jangan suka merendah, satu lagi jangan panggil aku, dengan sebutan bapak. karena aku masih tidak percaya, dibalik sikap lembut seorang Cika. ternyata dia Wanita yang sukses dan mandiri." puji Ciko, dia melihat Cika yang sekarang jauh lebih pintar, berwawasan luas dan semakin cantik aura kedewasaannya semakin terpancar.


"Yah beginilah, tapi kamu tidak tahu apa dibalik kesuksesanku ini." ucap Cika tersenyum getir.