Revenge Of The Fallen Hero

Revenge Of The Fallen Hero
Chapter 9. kota Jawel


Sudah sekitar satu minggu semenjak Julian dan Rose keluar dari penjara para budak, selama seminggu ini mereka telah berjalan kurang lebih 10 km menuju ke utara.


Alasan kenapa Julian memilih berjalan ke utara adalah karena informasi dari Sistem yang mengatakan bahwa di utara ada satu kota bernama Jawel yang masih tidak bergabung dengan Kekaisaran apapun.


Tidak masuk Kekaisaran apapun itu artinya, mereka belum punya hubungan dengan Kerajaan Tirani yang dipimpin oleh Alrack dan kini menguasai hampir semua Kekaisaran dan Kerajaan di benua ini.


Selain itu, Kota Jawel adalah tempat yang bagus bagi Julian dan Rose untuk beristirahat, karena tempatnya cukup dekat dengan Penjara.


Setelah beberapa waktu berjalan akhirnya Julian dan Rose melihat dinding tebal yang merupakan dinding pelindung kota Jawel.


"Akhirnya kita sampai," kata Rose dengan nafas terengah-engah. Dia pasti kelelahan telah berjalan kaki cukup jauh.


Julian hanya menganggukkan kepala, setuju dengan ucapan dari Rose dan dan dia bergegas jalan menuju gerbang kota.


Dua penjaga yang menjaga gerbang hanya memeriksa Julian. Begitu lolos pemeriksaan, Julian begitu saja di izinkan masuk tanpa di tarik biaya memasuki Kota. "Uang sepertinya tidak berlaku di Kota ini." gumam Julian.


Dalam ingatan yang Julian terima, untuk memasuki Kota biasanya akan ditarik biaya masuk. Hanya di Kota Jawel uang benar-benar tidak berguna.


Setelah memasuki Kota, Julian dapat melihat keadaan Kota yang sepi dan tenang. Hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang melewati jalanan Kota. "Mau bagaimana lagi yang terpenting adalah bisa beristirahat."


Berbeda dengan Julian yang tampak biasa saja dengan pandangan kota, Rose justru terlihat berbinar-binar karena melihat banyak bangunan yang cukup megah.


Julian hanya tersenyum melihat gadis polos itu. "Ayo Rose, kita bisa berkeliling bersama."


"Apa Anda Yakin, Tuan Julian?" tanya Rose dengan wajah gembira seperti anak kecil.


"Pertama-tama berhenti memanggilku 'Tuan' terlalu formal. Sebut saja aku dengan nama." Julian sejak awal merasa sedikit risih dengan sebutan 'tuan' yang sering diberikan oleh Rose.


"Dengan nama? Bukankah itu terlalu tidak sopan? Anda adalah penyelamatku, jadi setidaknya biarkan aku memberikan rasa hormat!"


"Hah..." Julian menghela nafas, kemudian melirik ke arah Rose, melihat pakaian kusuh yang dia pakai, dia juga teringat bahwa mereka berdua tidak pernah berganti pakaian semenjak keluar dari penjara.


Senjata milik Julian Juga telah tumpul saat terakhir kali di pakai, jadi berbelanja mungkin adalah pilihan yang baik.


"Rose ikuti aku sebentar." Tangan Julian dengan cepat meraih lengan milik Rose dan membuat gadis itu memerah karena malu.


"Eh, apa yang anda lakukan tiba-tiba?"


Julian tidak menjawab dan berkeliling mencari tempat untuk toko perlengkapan. Setelah beberapa saat berkeliling, dia akhirnya menemukan sebuah toko yang cocok.


"Tuan Julian sebenarnya kita mau kemana...? Dan tolong lepaskan tangan anda!"


Rose merona karena Julian tidak melepaskan tangannya meskipun memasuki sebuah toko yang penuh dengan orang.


Julian terus berjalan memegang tangan Rose, menuju kasir perempuan. "Nona, bisa carikan sebuah pakaian yang cocok untuk gadis ini?" tanya Julian menujuk ke arah Rose yang menundukkan kepala.


Si kasir itu melihat dua orang tersebut, pakaian berwarna cream dan compang-camping itu sangat familiar bagi siapapun. "Maaf, tapi kami tidak menjual pakaian apapun untuk budak," ucap sang kasir dengan mengejek.


Dia tahu bahwa dua orang ini adalah budak dari pakaiannya.


"Lagipula meskipun aku memperbolehkan, tapi apakah budak seperti kalian punya uang?"


Para pengunjung yang berada di toko menatap Julian dan Rose dengan tatapan merendahkan dan jijik, bahkan ada yang tertawa karena menganggap dua orang ini bodoh.


Rose merasa ketakutan, dia menarik baju belakang Julian dan bersembunyi di tubuhnya.


"Kenapa kamu bersembunyi? Apakah kamu pikir kamu lucu!?" kasir itu ingin menampar Rose, dia sedikit iri dengan paras cantik miliknya.


Tapi dengan cepat di hentikan oleh Julian.


"Jangan sentuh dia... dan kami bukan budak," ujar Julian menepis tangan si kasir. Kemudian merogoh sakunya.


"Apa segini cukup?" tanya Julian, menaruh sepuluh koin emas ke meja kasir. Itu merupakan hasil uang dari sistem.


Wanita itu terkejut, tidak menyangka sosok di depannya memiliki uang sebesar ini, jalankan untuk membeli satu baju. Sepuluh koin emas cukup untuk membeli semua yang ada di toko.


"Jadi bagaimana?"


".Cih, baiklah aku mengerti!" sang Kasir pergi ke belakang, mencarikan pakaian yang cocok untuk Rose.


"Kamu sudah bisa tenang Rose." Julian mengelus ucup kepala Rose dengan lembut.


Rose berjalan ke ruang ganti mencoba pakaian itu, sedangkan Julian akhirnya bisa melakukan aktivitas yang dia mau.


"Sistem."


[Ada apa Tuan?]


"Coba tunjukkan aku senjata pedang terbaik di sini."


[Saya mengerti.]


[Informasi tentang senjata di toko ini telah di kirim.]


"Terima kasih, Sistem."


Julian berjalan menuju tempat senjata, banyak pedang terpapar di dinding. Berkat informasi yang didapat dari sistem dia mengetahui senjata terbaik di toko ini.


Itu merupakan pedang berwarna hitam tajam dengan handle berwarna ungu. Nama pedang itu adalah 'Azura Dragon Sword'


"Statis"


...----------------...


[ Senjata : Azura DragonSword]


[senjata legendaris yang terbuat dari besi naga yang langka dan keras. Pedang ini memiliki mata pisau yang tajam seperti rahang naga]


[Statis senjata


Damage : 1.200-1.500


Daya tahan : 100


Bonus kecepatan : 250]


[Skil Senjata


Flash Kick


Deskripsi: Pengguna dapat menggunakan Pedang untuk meluncurkan serangan tendangan kilat, melompat ke udara dan menyerang musuh dari atas.nEfek: Menyebabkan 150% kerusakan tambahan pada target dan mengurangi kecepatan gerakan mereka selama 3 detik. Cooldown: 45 detik.]


[ Dragon Warth


Senjata ini memiliki kemampuan khusus untuk melepaskan serangan naga yang mematikan. Dengan mengumpulkan energi dalam pedang selama pertarungan, Pengguna dapat melepaskan serangan balasan berdasarkan jumlah kerusakan yang dia terima.]


[ Harga senjata : 100.000 coin]


...----------------...


"Senjata yang cukup menarik. Aku bisa melompat ke langit dan memberikan serangan balasan... Baiklah, aku akan membeli ini."


Julian mengambil senjata itu dan membawanya ke kasir.


Di depan kasir Julian menunggu Rose yang masih berada di dalam tempat ganti baju.


setelah menunggu beberapa saat akhirnya Rose selesai dengan pakaiannya. Dia keluar dengan sangat malu.


Kulitnya yang seputih salju diwarnai oleh pakaian berwarna putih, membuatnya lebih menawan dan menawan. Tulang selangka yang terlihat oleh suspender cerah dan menarik. Rambutnya yang merah panjang tersebar di belakang kepalanya seperti bulu lembut, dan rambutnya mencapai pinggangnya. Mungkin karena dia merasa sedikit malu, Rose menggigit bibirnya dengan tidak nyaman, semburat kemerahan melayang di pipinya yang indah, dan mata birunya berkaca-kaca.


"Bagaimana?" Rose keluar dengan tidak nyaman, melihat pakaiannya, "Aku selalu merasa aneh..."


"Tidak apa-apa.. itu terlihat cocok."


Rose menundukkan kepala dan bergegas berjalan menjauh.


"Eh.. Rose tunggu, Rose!"


Gadis itu tidak mendengar dan pergi begitu saja.