Revenge Of The Fallen Hero

Revenge Of The Fallen Hero
Chapter 2. Reinkarnasi sebagai budak


Lima tahun berlalu setelah peristiwa pengkhianatan tersebut, pada akhirnya dunia mengira bahwa River yang dikatakan pahlawan tidak berhasil mengalahkan Lord Malakar dan mati.


Di sisi lain, beberapa kerjaan kini telah dikuasai oleh panglima perang Tirani yang bernama Alrac, dia bagaikan dewa kematian. Siapapun yang berhadapan dengannya dapat dipastikan akan mati.


Dunia telah dilanda keputus-asaan, ini semua karena kekalahan sang pahlawan.


......................


Di tengah pertikaian yang terjadi, di sebuah penjara khusus para budak. Terdapat seorang remaja bernama Julian yang terkapar di selnya.


Dia merupakan remaja berambut pirang yang tergurai rapi, memiliki mata warna ungu yang berbadu pas. Menambahkan kesan elegan, akan tetapi.


Dia terlihat penuh luka dan babak belur, baru-baru ini dia mengalami penyiksaan fisik sehingga membuat anak ini terluka parah.


Tidak ada yang mencintai seorang budak itu adalah hal normal.


"ugh..." mata remaja itu perlahan terbuka, memancarkan warna ungu yang indah di mata.


"Di mana aku berada?" remaja bernama Julian itu melirik ke segala arah, seperti sedang kebingungan.


"Argh!"


Rasanya seperti tersetrum listrik, pikiran Julian penuh oleh banyak potongan-potongan ingatan, dan ini tanpa sadar membuat remaja itu meneteskan air mata.


"Pahlawan... Elera... Dan River? apakah itu adalah ingatanku?"


julian masih bingung dengan pikirannya, kedua ingatan antara Julian dan sosok pahlawan bernama River bercampur aduk.


Alih-alih memperjelas, Julian justru semakin bingung akan identitas aslinya.


"Hei, budak no 345, segera keluar!"


Penjaga penjara datang, jumlah dua orang dan mereka memiliki tubuh lebih kuat dari Julian.


Julian yang masih dalam kebingungan karena ingatan aneh terus bermunculan hanya bisa diam sambil mengerutkan wajah.


"Apa yang kamu lakukan dasar sampah! Ayo segera keluar!"


Penjaga itu menarik tubuh julian dengan sangat kasar, prilaku itu tidak layak dilakukan untuk anak seumuran Julian.


Penjaga itu terus menyeret lengan Julian dengan paksa membawanya ke suatu tempat yang luas.


Itu adalah tempat menambang dengan banyaknya budak yang dirantai kaki dan tangan. Mereka terlihat sangat kurus dan dipaksa untuk terus menambang tanpa henti.


Jika ada yang mencoba berhenti atau melarikan diri, maka nasibnya akan berakhir seperti pria itu.


"Aku tidak kuat lagi! Aku akan pergi.."


Pria itu berlari untuk kabur tapi ada monster berupa naga kecil yang menghalangi dan monster tersebut membunuhnya dengan gigi tajam. Darah mengalir dari mayat pria tanpa nama itu.


Julian menatap dengan membuka mata lebar, terkejut akan peristiwa yang terjadi dan membeku.


"Apa yang kamu lakukan dasar sampah? Cepat bekerjalah!" salah satu penjaga penjara mendorong tubuh remaja itu hingga terjatuh lalu melemparkan sekop untuk menambang.


Untuk saat ini Julian hanya bisa mengikuti perintah dan melakukan apa yang disuruh, lagipula dia masih mengalami kebingungan.


Dengan langkah terhuyung-huyung, Julian berjalan menuju salah satu batu tambang.


Menggenggam erat skop lalu memukul batu penambang.


Sekujur tubuh Julian merasakan rasa sakit, padahal hanya satu kali pukulan di batu, tapi seolah-olah tangannya seperti tersetrum sesuatu.


-Plak


Julian mendapatkan pukulan kayu dari salah satu penjaga, membuat dia merintis kesakitan. "Dasar budak tidak berguna! Tambanglah batu itu dengan lebih baik!"


"B-baik..." jawab Julian dengan suara sangat lirih.


Julian melanjutkan aktivitas tambang paksa itu, terus memukulnya tanpa kenal lelah dan tanpa henti.


...----------------...


"Untuk hari itu cukup! Kalian boleh beristirahat."


Penjaga yang mengawasi aktivitas menambang membalikkan badan dan pergi.


Setelah kepergian para penjaga, banyak budak yang langsung tergeletak kelaparan dan kehabisan tenaga, Julian adalah salah satunya.


Dia merasa tubuhnya sangat lemah dan sangat lapar. Bahkan perutnya keroncongan.


Makanan ini tidak layak untuk manusia tapi hanya ada ini, jadi para budak terpaksa makan demi keberlangsungan hidup dan tidak mati kelaparan.


Setelah makan, para budak kembali dipaksa kerja dengan parah, seolah menganggap manusia sebagai mahkluk ternak.


Malam harinya tidak ada jatah makanan tapi para budak sudah boleh kembali ke sel penjara masing-masing untuk istirahat. Julian berjalan kembali menuju sel penjara dengan borgol di kedua tangannya dan sedang dibuntuti oleh dua penjaga.


Walaupun sebenarnya tempat sekecil dan sekotor itu tidak layak untuk dihuni oleh manusia bahkan hewan ternak pun bisa mengalami sakit jika tidur di sel penjara.


"Ayo segera masuk!"


Julian menatap ruang penjara yang sangat sempit itu dengan tatapan sangat malas.


"Ada apa dengan wajah itu, jangan membuat kami marah!" penjaga yang jengkel dengan sikap Julian, melancarkan pukulan dan mendorong paksa Julian ke sel penjara itu.


Julian terkepar di lantai karena babak belur, karena baru saja dia dipukuli oleh para penjaga.


"Cepat tidur dan kerja dengan lebih baik besok!" ucap penjaga tersebut lalu pergi meninggalkan Julian.


Julian saat menatap langit dengan pandangan kosong, ingatan pagi hari yang muncul sedikit mengganggu pikiran.


"Pahlawan yang dikhianati, dari mana ingatan itu muncul?"


"Kamu ternyata lebih lemot dari pada yang kupikirkan."


Suara wanita tiba-tiba terdengar di samping Julian, remaja itu dengan cepat menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat sosok wanita misterius berada di sampingnya.


Julian berdiri dari posisi tidur dan memasang kuda-kuda perlawanan. "Siapa kamu? Jangan bilang para penjaga itu lagi?"


Wanita misterius dengan rambut hitam lebab itu hanya mengeluarkan senyuman lalu berkata, "Aku adalah dewa yang bertanggung jawab atas reinkarnasi yang kamu alami, Julian atau lebih baik kusebut River?"


"Reinkarnasi? Apa yang kamu katakan sedari tadi?"


"Kamu adalah Pahlawan yang bereinkarnasi, tapi tampaknya ingatan River dan ingatan Julian menyatu menjadi satu, itulah yang membuatmu bingung."


"?? Jadi intinya semua ingatan yang ada di pagi hari adalah diriku sendiri?"


Julian berasumsi dan itu seratus persen benar.


"Karena terburu-buru aku sampai lupa, memberikan sesuatu yang penting. Julian tutup matamu sebentar,"


wanita misterius itu berkata dengan wajah cantiknya, tatapan itu sangat serius sehingga Julian terpaksa menurut.


"Anak pintar~"


-cup


Saat matanya terpejam, tiba-tiba ia merasakan kehangatan yang lembut dan manis di bibirnya. Tubuhnya merinding, dan hatinya berdetak semakin kencang.


Begitu matanya terbuka, dia terkejut menemukan wanita itu telah menciumnya dengan lembut. Ciuman singkat itu membuat perasaannya berkecamuk, sensasi yang tak tergambarkan dengan kata-kata.


Dengan cepat wajah Julian memerah. "A-apa yang anda lakukan?" suara itu terdengar gemetaran.


"Kenapa? Itu karena aku ingin."


Dengan pose imut, wanita berambut hitam panjang itu memegang bibir merahnya dengan satu jari telunjuk.


Tatapan Julian tidak bisa berhenti untuk menatap bibir manis itu, melihatnya saja membuat dia teringat akan sensasi lembut beberapa detik yang lalu.


Dan sekali lagi Julian merona.


"Hahaha~ kamu sungguh orang yang lucu, River. Tidak lebih baik aku menyebutmu dengan nama Julian." Wajah wanita itu semakin cantik dengan senyuman yang ceria.


"Yang barusan adalah hadiah berupa sistem dariku... itu pasti akan berguna, dan bye. Aku harap suatu hari kita akan bertemu Julian~"


"Tunggu! Pembicaraan belum selesai dan juga apa itu sistem?"


Pertanyaan itu sudah terlambat. Wanita itu telah menghilang perlahan seperti kegelapan. Tidak ada jejak sama sekali di sel miliknya.


Julian menghela nafas, dia sempat berpikir bahwa dia akhirnya gila dan berhalusinasi.


'Sepertinya aku sudah gila.'


[ Ting! ]


[ Selamat anda telah mendapat sistem ]


Mata Julian terbuka lebar karena melihat sebuah hologram yang muncul di langit. Dia menelan ludah. "Apa ini?"