Revenge Of The Fallen Hero

Revenge Of The Fallen Hero
Chapter 4. Misi menyelamatkan gadis kecil


Waktu satu minggu telah berlalu semenjak Julian mendapatkan sistem, dia sekarang berada di level 20. Kekuatan Julian telah meningkat puluhan kali daripada sebelumnya.


Julian saat ini duduk di ruang istirahat para budak, mengunyah makanan busuk yang biasa mereka terima, berupa roti basi dan air kotor. Dia tahu bahwa makanan ini tidak layak untuk manusia, tetapi inilah satu-satunya yang mereka bisa dapatkan.


Suara langkah bergema di ruangan istirahat, tiga orang budak di penjara ini mendekati Julian. Mereka adalah sekelompok orang yang suka menganggu orang lemah. Dan Julian adalah korban dari mereka.


Dulunya mereka sering sekali mengejek, membully dan menganggu Julian.


Julian bahkan dulu pernah dipukul Habis-habisan sampai hampir mati oleh mereka.


“Hei, coba lihat siapa itu? Dia adalah si pecundang itu!” Orang yang mengatakan hal ini adalah, pria dewasa yang berada di tengah.


Dua orang lainnya menganggukan kepala dan memasang senyuman mengerikan. Dalam sekejap ruangan istirahat menjadi ramai dan bising, karena kedatangan mereka. Beberapa orang menatap Julian dengan pandangan kasihan karena lagi-lagi harus menjadi korban dari mereka bertiga.


“Dia benar-benar kasihan, sejak pertama kali datang ke penjara ini, anak itu terus ditindas.”


“Aku setuju, bukankah tiga orang itu terlalu berlebihan.”


Bisik-bisik para penonton saat menatap tiga orang yang akan menindas Julian. Tapi mereka tidak mengetahui jika, Julian saat ini sangat berbeda


dengan yang dulu.


Orang itu hanya tersenyum dan bersikap acuh saat tiga orang yang dikenal menakutkan mendekatinya.


Melihat sikap Julian yang acuh tentu membuat tiga orang itu marah. Mereka berpikir bahwa Julian sudah sombong karena mulai berani mengabaikannya.


 Salah satu dari mereka berjalan dan memukul meja tempat Julian. “Hei brengsek, sekarang berani sekali kamu mengabaikan kami!”


Julian masih mengabaikan mereka dan tidak terlalu memperdulikan.


Tiga orang menjadi makin murka, terlihat dari ekspresi wajahnya, mereka berpikir bahwa ini saatnya memberikan pelajaran kepada orang tidak sopan seperti Julian.


“Tampaknya kamu menjadi makin sombong sekarang! Makan ini!”


Orang yang baru saja memukul meja Julian. Melayangkan tinjunya ke arah dia yang sedang duduk santai sambal memakan roti busuk.


Tapi dalam sekejap, Julian tiba-tiba menghilang dari tempat duduk sebelum pukulan mengenainya, hal ini membuat semua orang terkejut.


Pukulan yang biasa bisa membuat anak itu babak belur, kini dihindari dengan mudah.


“Gerakan itu sangat lambat,” suara dingin terdengar, mereka melirik dan mendapati Julian telah berada di belakangnya.


“Apa bagaimana bisa-“


-Brak


Sebelum mereka bisa menyelesaikan kalimatnya, Julian memberikan pukulan cepat, membuat salah satu dari mereka terlempar jauh ke belakang dan mengenai beberapa meja makan.


Dua orang lain tidak terima, mereka berlari dan ingin memberikan pelajaran ke Julian. Tapi dua orang itu bukan apa-apa.


-swosh


-brak


Dengan gerakan seperti bayangan yang bergerak cepat, Julian mengalahkan tiga orang pembuat onar itu.


Tiga orang itu kini terkapar lemah di lantai dan semua orang terkejut akan hal ini.


Julian dulunya adalah korban buly mereka, tapi sekarang benar-benar telah berubah.


Dengan tatapan tenang, Julian melihat segelintir tiga tubuh pria yang menganggunya. "Dengan ini aku telah membalas dendammu, Julian."


River yang berada di tubuhnya mengetahui bahwa tubuh ini terus ditindas oleh tiga orang tersebut oleh karena itu, dia membalasnya.


Dengan langkah ringan, dia kembali berjalan untuk melakukan perkejaan menambang, sekalian menambah level.


***


Waktu beberapa hari terlewat semenjak insiden di ruang istirahat, sekarang semua pandangan tentang Julian berubah.


Kebanyakan orang dulu mengira dia adalah pengecut, dan korban untuk dipermainkan, tapi sekarang berubah. Kini dia mendapatkan pandangan positif dari beberapa budak di sini.


Dan tiga orang yang seringkali menganggu sudah tidak berani dengan Julian.


Julian saat ini sedang menatap langit, tidak peduli dengan tatapan kagum dan ucapan-ucapan orang-orang yang menatapnya.


"Status!"


[Nama] : [Julian]


[Ras] : [Manusia]


[Level] : [25]


[Strength] : [100]


[Ability] : [50]


[Vitality] : [56]


[Mana] : [85]


[Skil] : [Wepon Master ]


"Sudah level 25, ya?" Seringai senang tergambar di wajah Julian. "Sepertinya ini saat yang tepat untuk kabur di penjara ini." Julian bergumam kepada diri sendiri.


Dia sekarang sangat yakin dengan level 25 dia bisa melarikan diri.


Setelah selesai dengan aktivitas menambang harian, Julian berjalan untuk kembali ke sel penjara.


Langkah kakinya bergema dalam keheningan, pikirannya terfokus oleh rencana terbaik untuk melarikan diri dari penjara ini.


Saat Julian ingin membelok di lorong dan sampai di sel penjara, dia mendengar suara kegaduhan dari salah satu sel penjara. Terlihat ada seorang penjaga pria yang mencoba menyentuh wanita berambut merah.


Wanita itu adalah remaja yang seumuran dengan Julian, dia memakai pakaian budak berwana coklat. Rambut merah panjang yang mengalir seperti api. Dia memiliki mata berwarna biru langit yang menawan, dan kehadirannya memancarkan pesona yang tak terbantahkan. Postur tubuhnya juga sangat sempurna, wajar penjaga itu tergoda.


"Hei, budak no 304! Turuti perintahku jangan melawan!"


"Tidak... tolong maafkan aku," gadis berambut merah itu menangis tersedu-sedu. Air mata terus membasahi wajahnya yang cantik.


"Diam!"


Penjaga itu melayangkan tamparan kasar ke wajah cantik gadis itu.


"Kya!" gadis itu menjerit kesakitan, tubuh lemahnya tergeletak di lantai karena tamparan itu.


Melihat tubuh cantik yang tergeletak, menimbulkan rangsangan penjaga itu makin naik dengan senyuman menjijikkan dia memegang kedua tangan gadis itu.


Menekannya dan menindih tubuh dengan tubuhnya. Jarak tubuh mereka sangat tipis, seperti sehelai kertas.


Wajah menjijikkan sang penjaga yang sangat dekat membuat sang gadis ketakutan, bahkan napas sang penjaga menggelitik di wajahnya.


gadis berambut merah berteriak, tidak bisa menyembunyikan rasa takut di hati. Air mata terus banjir karena menyadari apa yang akan dilakukan oleh pria ini.


"Kamu makin tampak mengemaskan jika menangis."


Seperti binatang yang menjijikkan, pria itu tersenyum. Perlahan kedua tangannya merogoh pakaian sang gadis.


Berusaha membuka manik-manik di bajunya karena ingin melihat aset berharga miliknya.


"Tidak! Tidak! Siapapun tolong!"


"Hahaha~ bantuan tidak akan datang, aku dan kamu akan bermain beberapa ronde... pastikan kamu bisa menenangkan hasrat priaku."


Manik-manik itu terbuka, menampilkan tubuh putih yang mulus dan dua buah gunung yang tertutup oleh kain.


"T-tidak." Gadis itu sudah tidak memiliki kekuatan untuk berteriak, suaranya terdengar sangat lirih.


"Hahaha~ kamu yang terbaik."


Di kejauhan beberapa meter, Julian hanya menatap tindakan ini dengan wajah kosong, tidak marah ataupun sedih.


Tindakan pria itu memang menjijikkan, tapi itu bukanlah urusan Julian. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi kepada gadis itu.


Sebagai orang yang pernah dikhianati oleh orang terpercaya, dia sangat wajar tidak mau lagi membuka hati untuk orang lain.


Gadis yang hampir telanjang itu menyadari keberadaan Julian dan menatapnya dengan wajah penuh air mata, berharap mendapatkan pertolongan.


Tapi dengan sikap acuh, dia berjalan berbalik, benar-benar tidak peduli.


langkahnya perlahan makin menjauh dari sel penjara itu.


[Apakah anda yakin tidak menolong gadis itu?]


Langkah Julian terhenti, memang akan sangat kejam meninggalkannya. Tapi bagi Julian, ini adalah pilihan yang benar.


"Asal kamu tahu, di dunia ini lebih baik kamu tidak berurusan dengan orang lain. Jangan percaya dengan orang lain, jangan bergantung dengan siapapun, percayalah kepada dirimu sendiri. Hubungan ikatan dengan seseorang hanya hal palsu, kita tidak tahu kapan mereka akan berbalik menerkam kita."


"Jika aku menyelamatkan gadis itu apa untung bagiku? Apakah ada jaminan dia tidak mengkhianatiku?"


[Memang tidak ada untungnya, tapi setidaknya. Dia mungkin bisa menyembuhkan luka hati Tuan]


Mata Julian membulat seketika, seolah terkejut dengan perkataan Sistem. Di dalam hati dia berharap ucapan itu benar, tapi dia masih takut jika seseorang mengkhianati lagi jadi lebih baik sendiri


"...Sungguh omong kosong yang lucu!"


Langkah kaki Julian kembali berjalan.


[Anda sungguh bodoh]


[Suatu hari anda akan menyesal.]


Julian tidak merespon ucapan dari sistem dan membiarkannya. Terus melangkah menjauh, tidak peduli dengan teriakan gadis di belakangnya yang meminta tolong.


[...Maaf jika ini memaksa, tapi anda harus menyelamatkan gadis itu!]


[Misi didapatkan!]


Julian terkejut karena layar misi tiba-tiba berada di depan matanya.


"Hei sistem apa maksudnya ini?"


[Selamat gadis itu!]


[Misi wajib!]


[Jika gagal dan menolak, maka semua status akan direset]


[Batas waktu 1 menit]


Jangan bercanda, Julian mana mungkin menerima misi ini. Tapi jika menolak maka semua status akan direset. Itu artinya dia harus mengulang lagi.


Dia secepatnya harus keluar dari penjara dia tidak punya waktu untuk mengulang.


[Batas waktu: 30 detik]


[29 detik]


[28 detik]


Terhanyut akan pikiran sendiri, waktu yang diberikan sistem makin berkurang.


"Sial tidak ada pilihan lain!" Julian menggerutu dan mengatup giginya.


Dengan cepat dia berbalik lalu menuju tempat sel penjara sang gadis.


[10 detik]


[9 detik]


[8 detik]


"Sial dasar sistem Bajingan!"


julian menaikan kecepatannya. Karena waktu semakin berkurang.


[3 detik]


[2 detik]


"Berhenti!"


-Brak


Julian tepat pada waktunya. Dia mendaratkan tendangan ke wajah pria cabul itu dan membuat pingsan.


Nafas Julian terbata-bata karena menggunakan semua tenaganya, dia mengelap keringat


"Tadi benar-benar nyaris." Julian menyeka keringat dan menatap gadis berambut merah itu.


Gadis itu benar-benar dalam kondisi menyedihkan, bajunya berantakan, robek-robek. Dan kulit putih terlihat dengansangat jelas.


"Hiks... terima kasih."


Awalnya Julian tidak menyadari ini. Tapi ketika melihat lebih jelas lagi dia menyadari sesuatu.


wajah Julian menjadi terkejut, karena melihat paras Gadis ini.


Rambut merah, mata biru dan wajah ini. Dia sangat mirip dengan Elera.