
"Biasanya aku malas harus berurusan dengan hal seperti ini," ujar Emira berjalan menghampiri keduanya.
"Tapi, aku tidak bisa melihat seorang wanita disiksa aki-laki sepertimu," tambah Emira dengan tatapan tajamnya. Kali ini Emira mengenakan kostum miliknya. Dia tidak lagi berdandan sebagai Alzam.
"Cuma seorang wanita, mana bisa melawanku," kata David. Dia meremehkan kemampuan wanita di depannya.
"Tolong aku hik ... hik ... hik ...," teriak Fanny. Dia sudah tak berdaya. David begitu kejam padanya.
Tubuhnya babak belur disiksa David.
"Diam kau Fanny!" bentak David.
"Banci! Beraninya ma wanita," ujar Emira yang masih bersantai memangku tangannya sambil tersenyum tipis.
"Jangan banyak omong lawan aku kalau berani!" titah David yang mulai berapi-api marah padanya Emira. Tak terima disebut banci.
"Boleh juga, sudah lama aku tak merenggangkan otot-ototku," jawab Emira. Mulai melepas tangannya.
David melepas Fanny. Berjalan dengan cepat ke arah Emira untuk memukulnya. Bergegas tangan kanannya langsung memukul Emira tapi ditangkis oleh Emira. Kemudian dia mencoba menendang, sayangnya Emira menangkap kaki David dan membantingnya dengan satu gerakkan.
Bruuug ...
David terjatuh di tanah. Punggang dan pinggangnya kesakitan. Dia memeganginya.
"Aw ...," keluh David.
Emira hanya tersenyum. Melihat David terjatuh hanya dengan satu gerakan balasannya.
"Wanita sialan!" pekik David. Dia belum kapok kembali melawan Emira dengan pukulan dan tendangan berkali-kali, Emira terus menangkis dan menghindar lalu dia menyerang balik dengan pukulan dan tendangan hingga David terpojok. Tapi David mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke kepala Emira.
"Kau akan mati," ucap David pada Emira.
"Silahkan! Lakukan!" titah Emira. Tak gentar dengan pistol yang diacungkan padanya. Dia malah mengambil permen karet dan mengunyahnya dengan santai sambil melihat ke arah David yang terlihat marah padanya.
"Mati kau!" teriak Davin mau menekan pistolnya. Namun dengan kecepatan maksimal, Emira langsung menendang tangan David hingga pistol itu terjatuh.
Praaang ....
Pistol itu terjatuh ke bawah. Cukup jauh dari jarak David berdiri.
Kini giliran Emira yang mengeluarkan pistol jarum pelumpuh syaraf miliknya. Dia menembak ke kaki David.
Dor ...
David langsung terjatuh di tanah, kakinya menjadi lumpuh tak berdaya terkena jarum yang mengenai syaraf di kakinya.
"Jarum ini bukan jarum biasa, kau akan lumpuh untuk beberapa saat. Mungkin satu sampai tiga hari ke depan. Menginaplah di hutan ini ya. Belum pernahkan menginap di alam liar?" ujar Emira tersenyum licik.
"Kau! Kakiku," keluh David memegang kakinya yang sulit digerakkan.
"Pasti seru dan menakutkan jika malam datang," sahut Emira.
"Kau berani sekali membuatku seperti ini," ucap David.
"Aku memang tidak mungkin membunuhmu, tapi paling tidak memberimu sedikit pelajaran," kata Emira. Dia tidak mungkin membunuh. Itu menyalahi kode etik agen rahasia yang tidak boleh sembarangan membunuh orang tanpa alasan pasti.
"Selamat tinggal! jaga dirimu baik-baik di sini," ucap Emira. Dia meninggalkan David yang berbaring di tanah karena kakinya mengalami kelumpuhan sesaat. Kemudian Emira menghampiri Fanny. Dia mengajak Fanny pergi dari tempat itu. Di perjalanan kembali menuju ke kota, Emira berbicara pada Fanny.
Fanny mengangguk.
"Hari ini aku berbaik hati menolongmu, jika tidak David mungkin membunuhmu," tambah Emira.
"Iya terimakasih Mba," ucap Fanny.
"Jangan pernah menemui Alzam lagi, kalau tidak, kau akan berurusan denganku," ujar Emira.
"I-iya," jawab Fanny ketakutan. Wanita di sampingnya itu sangat kuat. Tak mungkin orang biasa bisa melukainya. Masalah besar jika dia berurusan dengannya.
"Jika kau melanggar, aku tak akan menolongmu lagi jika David kembali menyakitimu lagi," ucap Emira.
"Baik, terimakasih Mba," sahut Fanny.
"David akan jadi urusanku, dia akan ku jebloskan ke penjara dengan bukti yang tadi sempat ku rekam dan kesaksianmu, jadi dia tidak akan mengganggumu lagi," ujar Emira.
"Iya, terimakasih, kau sudah menyelamatkanku dari lelaki kejam seperti David," kata Fanny.
"Iya, cobalah memulai hidup baru yang lebih baik. Aku yakin kau akan bahagia dan menemukan seseorang yang mencintaimu apa adanya," ucap Emira.
Fanny hanya diam meratapi nasibnya.
"Aku akan pastikan David tak mengganggumu lagi, asalkan kau juga tak mengganggu Alzam lagi, sepakat?" tanya Emira.
"Oke, aku tak akan mengganggumu Alzam lagi," jawab Fanny.
Setelah itu Emira mengantar Fanny pulang ke rumahnya. Fanny langsung masuk ke rumahnya. Sedangkan Emira mengendarai mobilnya menuju ke rumah Alzam.
Enam Bulan Kemudian
Setelah satu tahun berobat di luar negeri akhirnya Alzam dan Dara pulang juga. Dara belum sembuh total tapi dia ingin pulang, Dara tak sanggup menjalani proses pengobatannya lagi. Dia ingin menikmati hari-harinya. Emira menjemput Alzam dan Dara di bandara. Dia pangling melihat Dara yang kini terlihat segar dari sebelumnya. Rambutnya kembali tumbuh bahkan panjang sebahu. Wajahnya juga sedikit bercahaya. Tubuhnya mulai terlihat berisi. Emira langsung menghampiri Dara dan memeluknya.
"Dara, aku merindukanmu," ucap Emira.
"Aku juga rindu padamu Emira, hampir satu tahun kita tidak bertemu. Setiap hari aku selalu berharap segera bertemu denganmu," ucap
Dara.
"Aku senang saat mendengar kabar dari Alzam kalau kondisimu sudah mulai membaik," kata Emira.
"Ini semua berkat doa dan dukungan semangat darimu dan juga berkat Alzam yang selalu ada untukku selama ini," sahut Dara.
Emira melepas pelukannya lalu mengantar Dara dan Alzam ke luar bandara. Mereka naik ke mobil yang dibawa Emira.
Sampai di rumah, Emira dan Alzam mengantar Dara ke kamarnya. Dia berbaring di ranjang. Dara memperhatikan perut Emira yang terlihat datar.
"Emira apa kau sudah melahirkan?" tanya Dara.
Emira dan Alzam terkejut. Selama tujuh bulan Alzam dan Dara pergi ke luar negeri. Seharusnya Emira sudah melahirnkan. Jantung keduanya berdebar tak karuan. Harus menjawab apa biar tak terjadi masalah ke depannya.
"Dara, sebenarnya aku tidak hamil," ujar Emira.
"Apa? Kau tidak hamil?" Dara terkejut. Mendengar pernyataan Emira. Seingatnya Emira hamil tapi kenapa bilang tidak hamil.