
Alzam sedang bekerja di ruang kerjanya. Banyak pekerjaan kantor yang menumpuk. Selesai bekerja dia ke luar dari ruang kerjanya. Berjalan menuju ke kamar pribadinya untuk beristirahat sebentar.
Bella melihat Alzam berjalan mendekat ke arahnya. Dia ingin coba menggoda Alzam dari hal yang kecil dan biasa dilakukan banyak orang.
"Aduh kakiku kram, sakit ..., aduh," keluh Bella.
"Bella kau kenapa?" tanya Alzam.
"Kakiku kram Alzam rasanya sakit sekali," ucap Bella.
"Tunggu dulu ya biar ku panggil seseorang untuk membantumu," ujar Alzam. Dia justru pergi meninggalkan Bella. Lalu dia kembali lagi bersama Pak Hasan tukang kebun di rumahnya.
"Pak Hasan, kaki Bella kram katanya, tolong dibantu memijatnya, Pak Hasankan jago mijat, saya ke kamar Dara dulu, tolong ya Pak Hasan," ucap Alzam.
"Baik Tuan, saya bisa mijat," sahut Pak Hasan.
Alzam meninggalkan Bella dengan Pak Hasan. Dia berjalan menuju ke kamar Dara.
"Sialan, Alzam padahal aku berharap kamu memijat kakiku tapi kenapa malah tukang kebun ini yang akan memijatku," ucap Bella dalam hatinya.
"Nona mana yang kram biar saja pijat," ujar Pak Hasan.
"Ini kaki kiri yang kram," ucap Bella berbohong.
Pak Hasan mengajak Bella duduk di sofa ruang keluarga di lantai atas. Lalu dia mulai memijat kaki kiri Bella.
"Aw ..., sakit Pak Hasan!" teriak Bella.
"Tenang Nona, ini belum seberapa," ucap Pak Hasan.
Pak Hasan meningkatkan pemijatannya dengan metode yang lain.
"Aw ... aw ... aw ..., sakit Pak Hasan. Udah stop!" ujar Bella.
"Tahan, sebentar lagi Nona, biar uratnya balik lagi," ucap Pak Hasan.
Pak Hasan mulai memijat lebih kencang lagi. Membuat Bella merengek kesakitan.
"Aw ... aw ... aw ..., sakit beneran Pak Hasan," keluh Bella.
"Nah sudah beres, gimana Nona kramnya udah sembuhkan?" tanya Pak Hasan.
"Iya udah," jawab Bella.
"Niatan bohongan, malah jadi sakit beneran kakiku, sialan apes banget aku"ucap Bella dalam hatinya.
Pak Hasan pergi meninggalkan Bella. Sementara Bella malah sakit beneran kakinya. Dia niat menggoda Alzam malah kena apes.
***
Emira kembali menyamar jadi tukang jualan nasi goreng berkeliling di malam hari. Sepanjang jalan dia telusuri sambil tetap waspada. Saat Emira sedang berjalan membawa gerobaknya, dua orang lelaki kekar memanggilnya.
"Mang nasi goreng!"
Emira langsung menghampiri kedua lelaki itu dan menepi. Lalu dia menghentikan gerobaknya di dekat dua orang lelaki kekar itu.
"Mang nasi goreng dua pedes ya."
"Iya Mang."
Emira mulai memasak nasi goreng itu. Sementara kedua orang itu sedang membicarakan hal yang ingin dia ketahui.
"Kita harus lapor ke markas hasil kerja kita."
"Betul, pasti Bos senang kita sudah berhasil menjalankan perintahnya."
Mendengar ucapan kedua orang itu Emira langsung tahu mereka dua orang yang harus dicurigai.
"Mas ini nasi gorengnya," ucap Emira memberikan nasi goreng itu pada kedua lelaki itu.
"Iya Mang." Kedua lelaki itu menerima nasi goreng yang diberikan Emira.
Mereka berdua memakan nasi goreng yang dimasak Emira. Setelah selesai makan kedua orang itu pergi. Tak berpikir panjang, Emira langsung membuntuti mereka hingga ke tengah hutan.
Di tengah hutan itu ada sebuah markas besar yang dikelilingi tembok yang kokoh. Mereka masuk ke dalam markas itu.
"Ini markas kedua orang itu, tapi ini markas apa?" ucap Emira.
"Markasnya cukup besar dan dijaga ketat, bagaimana caraku masuk ke dalam tanpa diketahui," ucap Emira. Dia terus memikirkan cara dia masuk ke dalam markas itu. Sampai akhirnya dia tertidur di bawah pohon.
Setelah hari mulai pagi Emira naik ke atas pohon untuk melihat situasi markas itu. Dia melihat ada mobil pembawa sayuran mau masuk markas itu. Emira langsung berpikir untuk masuk ke dalam mobil itu bersembunyi di antara sayuran itu. Ketika mobil melintas di bawah pohon, Emira langsung melompat ke dalam bak mobil itu. Dia mulai masuk ke dalam tumpukan sayuran. Emira menutupi tubuhnya dengan sayuran itu.
Mobil pembawa sayuran itu masuk ke dalam markas itu. Setelah sampai di dalam, Emira turun dari mobil itu. Dia masuk mengendap-endap ke dalam markas itu. Dia mulai mengaktifkan alat pengelabuh CCTV. Dia mengeluarkan robot belalang kecil yang bisa terbang, robot belalang itu sebenarnya adalah kamera.
Emira naik ke atap ruangan itu. Dia merayap di atas atap itu lalu berhenti dan coba melihat apa yang sudah didapat robot belalangnya. Ada sebuah ruangan tempat sekelompok orang berkumpul. Seorang lelaki yang duduk di singgasananya terlihat berkuasa. Dua orang itu melapor pada Bos mereka.
"Bos saya sudah membakar tempat ibadah tadi."
"Bagus, itu akan menimbulkan konflik di antara dua golongan agama," sahut Bos Lexis.
"Bos saya sudah memprovokasi warga yang sedang beronda dan nongkrong di warung-warung."
"Bagus, dengan begitu akan ada kerusuhan di antara dua daerah lagi," ujar Bos Lexis.
Selesai melapor kedua orang itu pergi meninggalkan tempat itu. Kemudian Bos Lexis mengeluarkan handpone miliknya, menelpon seseorang.
"Hallo Pak Muhgandir," ucap Bos Lexis.
"Ya, gimana apa kau sudah menjalankan tugasmu?" tanya Pak Muhgandir.
"Tentu sudah, saya sudah membuat kerusuhan di desa-desa dengan begitu mereka akan demo dan minta ganti pemimpin, jadi Anda bisa naik menggantikan pemimpin yang sekarang," jawab Bos Lexis.
"Saya suka mendengarnya," ucap Pak Mugandir.
"Tapi ingat setelah Anda naik jadi pemimpin. Anda harus memberi saya keleluasaan untuk berbagai usaha gelap dan prostitusi milik saya," kata Bos Lexis.
"Beres itu bisa diatur," sahut Pak Mugandir.
Selesai bicara Bos Lexis menutup telpon itu. Emira mulai tahu kalau dibalik kerusuhan dan konflik ini ada kepentingan pribadi yang menumpanginya. Dia tahu Pak Mugandir dan Bos Lexis yang telah merencanakan hal ini. Mereka bekerjasama untuk keuntungan mereka satu sama lain.