
"Aku harus memberitahu Alzam soal ini," ucap Emira. Dia berjalan ke luar dari kamarnya menuju ke ruang kerja Alzam. Tanpa perlu mengetuk, pintunya terbuka sebagian.
"Assalamu'alaikum," sapa Emira.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alzam.
"Masuklah Emira!" titah Alzam yang melihat Emira berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
Emira mengangguk. Masuk ke dalam ruang kerja Alzam.
"Duduklah!" titah Alzam.
Emira mengangguk. Dia duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Alzam.
"Emira ada urusan apa kau menemuiku?" tanya Alzam.
"Alzam, aku akan pergi menjalankan misi dari markas, kemungkinan aku tidak akan merawat Dara untuk sementara waktu," jawab Emira.
"Kau akan pergi Emira? Lalu bagaimana dengan Dara? Aku harus pergi bekerja setiap hari. Paling cepat sampai rumah jam 4 sore. Siapa yang merawat Dara selama aku tak di sisinya. Bibi Nur sudah sangat kerepotan mengurus rumah ini," jawab Alzam. Terkejut dengan keputusan Emira.
"Tenang,Bosku akan mengirim agen level S ke rumah ini besok. Dia akan bekerja di sini selama aku menjalankan misi dari markas," sahut Emira.
"Dara sudah begitu dekat denganmu. Dia juga sangat nyaman dan senang dirawat olehmu. Dia pasti akan sedih kalau kau pergi dari sini walaupun hanya sementara," ucap Alzam.
"Aku tahu itu, tapi misi ini penting, menyangkut keselamatan sahabatku dan terselesaikannya misi sesuai kontrak yang telah disetujui. Aku akan segera kembali setelah misi ini selesai," terang Emira.
"Tapi Darakan tahunya kau hamil, bagaimana caranya aku beralasan padanya, kau tahu sendiri Dara pasti akan mengkhawatirkan dirimu dan bayi yang dikandungmu," ujar Alzam.
"Benar juga, bagaimana kalau kau bilang aku pulang ke rumah orangtuaku dulu, ada acara di sana," saran Emira.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa melarangmu pergi Emira. Tapi jika misimu telah selesai cepatlah kembali, aku dan Dara sangat membutuhkanmu," ujar Alzam.
"Oke, aku tahu itu," sahut Emira. Dia berdiri berjalan menuju pintu.
"Emira aku mencintaimu, kembalilah padaku," ucap Alzam.
Emira terdiam. Langkahnya terhenti sesaat. Mematung dengan perkataan Alzam. Sekilas terlintas kebersamaannya bersama Alzam. Namun dia menepisnya. Kembali melangkah ke depan ke luar dari ruang kerja Alzam, menuju kamar Dara. Dia ingin berpamitan pada Dara. Emira masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Dara sedang membaca novel kesukaannya.
"Dara, kau sedang membaca novel?" tanya Emira sambil menghampiri Dara dan duduk di sampingnya.
"Iya Emira, aku sedang membaca Novel baru yang dibelikan Alzam," jawab Dara.
"Dara, besok aku tidak merawatmu lagi untuk sementara waktu," ucap Emira.
"Memang kenapa Emira? apa kau capek merawatku?" tanya Dara.
"Tidak, ada urusan keluarga yang harus ku urus, nanti setelah selesai aku akan kembali," ucap Emira.
"Emira selama aku bersamamu, aku merasa senang dan aman. Kau selalu menjaga dan merawatku dengan baik. Bahkan aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Aku sangat sedih kau akan punya pergi," ujar Dara meneteskan air matanya.
Melihat Dara meneteskan air matanya, Emira ikut sedih, dia memeluk Dara.
"Dara, aku juga sudah mengganggap mu sebagai saudaraku, aku sayang padamu Dara. Tapi aku harus menyelesaikan urusanku terlebih dahulu. Aku janji setelah urusanku selesai, aku akan kembali ke rumah ini secepatnya," ujar Emira.
"Aku akan kesepian lagi tanpamu Emira saat Alzam pergi bekerja. Kau membuatku jadi lebih semangat untuk sembuh dan melakukan banyak hal yang menyenangkan," ucap Dara.
"Aku akan menelponmu jika ada waktu senggang. Jadi kita bisa berbicara dan melepas rindu," kata Emira.
"Baiklah, kau harus kembali lagi ke rumah ini setelah urusanmu selesai, aku pasti sangat merindukanmu Emira," ucap Dara.
"Oke, aku pasti akan kembali untukmu Dara," sahut Emira.
Dara mengelus perut datar Emira.
"Jaga bayimu, kau dan bayimu harus sehat," pinta Dara.
Emira mengangguk.
Dara sangat sedih mendengar Emira akan pergi dari rumahnya. Selama ini Emira selalu merawat Dara dengan baik. Emira juga begitu sabar dan perhatian padanya. Dara hanya bisa berharap Emira akan segera kembali ke rumahnya.
***
Fanny sedang joging di sekitar komplek rumahnya. Dia memakai masker dan kaca mata agar orang tidak melihat wajah buruk rupanya. Saat dia sedang berlari santai dari arah belakang ada yang menubruknya hingga terjatuh.
Kaca mata dan maskernya terlepas, wajah buruk rupanya terlihat jelas. Semua orang di sekitarnya ketakutan dan jijik melihat Fanny. Bahkan anak-anak kecil mengejeknya.
"Muka Tante itu kok kaya badut ya."
"Habis digigit tikus ya muka Tante."
"Tante kaya alien."
Mendengar ejekan anak-anak kecil itu Fanny langsung pergi meninggalkan anak-anak itu dengan kesal. Di jalan yang berada di depan rumahnya ada ibu-ibu komplek yang sedang belanja sayuran di tukang sayur lewat. Fanny berjalan melewati mereka tapi malah diajak ngobrol sama ibu-ibu komplek.
"Nak Fanny mukanya kenapa?"
"Iya, apa habis kecelakaan, kok kita gak tahu ya."
"Padahal muka Fanny sebelumnya cantik ya, kasihan jadi begini."
"Operasi plastik aja Fanny biar mukanya gak jelek lagi kaya gitu."
Fanny malas menjawab ucapan ibu-ibu komplek. Dia langsung berjalan menuju ke dalam rumahnya. Lalu berbaring di ranjang kamarnya sambil menangis.
"Kenapa mukaku jadi begini? aku jadi buruk rupa, orang-orang pada mengejekku," ucap Fanny.
Ibu Yeni masuk ke kamar Fanny, menghampirinya dan mengajaknya bicara.
"Fanny kenapa kau menangis?" tanya Ibu Yeni.
"Bu kapan mukaku bisa cantik lagi, setiap bertemu orang pasti mereka mengejekku Bu," keluh Fanny.
"Apa kita jual rumah ini untuk operasi plastikmu?" tanya Ibu Yeni.
"Kita tinggal di mana dong nanti Bu?" tanya Fanny.
"Ngontrak dulu, tar dapet cukong kaya kita beli rumah lagi," jawab Ibu Yeni.
"Pokoknya aku mau cantik lagi Bu, malu," ucap Fanny.
Di luar rumah Ibu-ibu komplek itu masih berbelanja di jalan depan rumah Ibu Yeni. Mereka menggosipkan Fanny.
"Itu Si Fanny mukanya jadi jelek banget, udah kaya monster aja."
"Dapat azab kali Bu, dia kan merebut suami orang."
"Kau Ibu tau dia merebut suami orang dari mana?"
"Suka ada cowok datang ke rumah Fanny sampai pulang malam dan menginap tapi gak jelas statusnya."
"Jangan-jangan wanita simpanan."
"Apalagi kalau bukan wanita simpanan, makanya sekarang dia kena azab tuh."
Ternyata Ibu Yeni ada di belakang mereka saat mereka menggosipkan Fanny.
"Ibu-ibu jangan bicara sembarangan ya, anak saya itu anak baik-baik bukan wanita simpanan," ucap Ibu Yeni.
"Bu Yeni, memang kita ini bodoh apa? Ada lelaki asing datang ke rumah tanpa status yang jelas, apa bukan wanita simpanan namanya."
"Iya, Fanny itu kan janda seharusnya jaga diri dong jangan sembarangan membawa laki-laki masuk ke rumah, kaya gak punya harga diri aja."
"Kalian seenaknya ya ngomong begitu. Gak tahu apa-apa gak usah komentar."
"Kami gak ngomong seenaknya kalau gak ngelihat sendiri, lagian Bu Yeni selama ini kami jadi resah sejak Fanny sering membawa masuk lelaki ke rumah, kalau suka nikahkan saja dari pada jadi zina, iyakan ibu-ibu?"
"Iya betul."
Ibu Yeni kesal dan meninggalkan ibu-ibu itu. Dia masuk ke rumahnya. Fanny yang melihat Ibunya terlihat kesal menghampirinya dan berbicara padanya.
"Bu, kenapa kok kelihatan kesel?" tanya Fanny.
"Tetangga kita sudah mulai curiga dan resah. Kita harus segera pindah dari sini Fanny," ucap Ibu Yeni.
"Kita jadi jual rumah?" tanya Fanny.
"Iya, ibu capek diomongin tetangga terus tiap keluar atau mau beli sayuran. Mereka itu bisanya nggosip seenaknya saja," ucap Ibu Yeni.
"Gak cuma Ibu, aku juga sama baru ke luar aja ditanya ini itu sama tetangga, nyebelin deh Bu," tambah Fanny.
Ibu Yeni dan Fanny berencana untuk menjual rumah mereka. Agar bisa membiayai operasi plastik Fanny.