
Dara berbaring di ruangan yang pengap dan bau itu. Dia sangat lemah dan kesakitan setelah beberapa hari ini diperalat kedua preman itu untuk meminta-minta di jalanan. Dara terus memegangi perutnya yang sakit. Kedua preman itu datang dan memarahi Dara.
"Hei wanita penyakitan cepat bangun dan hasilkan uang lagi untuk kita." Preman itu menendangi tubuh Dara secara perlahan agar Dara bangun. Namun Dara tak memberi respon hanya meringkuk. Terdiam.
"Jangan-jangan dia mau mati." Salah satu preman khawatir Dara mati. Mukanya sudah pucat. Tubuhnya terlihat lemah. Badannya juga demam tinggi sampai mengigil.
"Biarin aja kalau dia mati tinggal dibuang."
"Iya ya."
Mereka berdua bukannya kasihan justru semakin menggila. Tak kasihan pada Dara yang sudah lemah tak berdaya. Dia bahkan sudah pasrah.
"Hei bangun!" Salah satu preman membentak Dara.
"Kita seret saja dia biar bangun!" Teman lainnya memberi usul. Tanpa memikirkan Dara yang sakit keras.
"Bener juga, pemalas sepertinya memang harus dipaksa."
Kedua preman itu menyeret Dara dengan paksa. Dara tidak bisa melawan hanya pasrah mereka menyeretnya.
Guk ... guk ... guk ...
Suara anjing pelacak itu masuk ke ruangan itu. Alzam dan Emira masuk ke ruangan itu mengikuti anjing pelacak yang masuk ke dalam. Mereka melihat Dara diseret kedua preman itu.
"Lepaskan istriku!" teriak Alzam.
"Ooo ..., kau suami wanita penyakitan ini."
"Lepaskan Dara!" titah Emira.
"Pas sekali kita bisa tanding satu lawan satu."
"Ayo kita hajar mereka berdua."
"Oke."
Kedua preman itu melepas Dara dan melawan Alzam dan Emira. Mereka babu hantam. Memukul dan menendang. Penjahat kelas teri seperti mereka tak perlu menguras tenaga. Hanya satu dua pukulan mereka sudah kelelahan dan mulai kesulitan melawan. Tak butuh lama untuk sampai mereka tumbang di lantai. Alzam langsung berlari ke arah Dara dan memeluknya. Sementara itu Emira mengikat kedua preman itu sambil menunggu polisi datang.
"Dara sayang maafkan aku terlambat mencarimu," ujar Alzam sampai menangis. Melihat kondisi Dara yang memburuk. Dia terlihat lemas tak berdaya.
"Kau tidak bersalah Mas, justru aku senang bisa bertemu denganmu lagi," jawab Dara.
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi Dara, kau tahu aku mengkhawartirkanmu dari kemarin," sahut Alzam.
Dara tersenyum. Muka pucat itu terlihat bahagia melihat Alzam.
"Aku rindu padamu Mas, aku takut akan mati sebelum bertemu denganmu," kata Dara. Suaranya sudah sangat lemah.
"Tidak sayang, kita akan terus bertemu dan bersama percayalah," jawab Alzam.
"Jika aku mati sekarang, aku sudah ikhlas, bahagialah bersama Emira!" pinta Dara.
Alzam menggeleng. Air matanya mengalir di pipinya. Bukan cengeng tapi dia sedih melihat kondisi istrinya.
Dara menikmati pelukan hangat dari Alzam. Membiarkan tubuh lemahnya dalam dekapannya. Jika memang harus mati Dara sudah tersenyum bahagia karena mati dipelukan orang yang dicintainya.
Tak lama polisi datang kedua preman itu ditangkap polisi. Mereka membawa preman itu pergi. Tinggal Alzam, Dara dan Emira yang ada di ruangan itu. Emira menghampiri Alzam. Duduk di dekat mereka. Alzam memangku Dara dalam pelukannya.
"Emira," ucap Dara.
Emira langsung memegang tangan Dara. Menghapus air mata yang turun di pipinya.
"Jika aku tak ada, jadilah penggantiku, hiduplah bahagia bersama Alzam," ujar Dara.
"Kau ngomong apa sih, aku lihat kau akan sembuh," sahut Emira. Matanya mulai berkaca-kaca.
Dara tersenyum. Tiba-tiba dia pingsan.
"Dara!" teriak Alzam dan Emira.
"Kita harus membawa Dara ke rumah sakit Alzam," ujar Emira.
"Iya," jawab Alzam.
Akhirnya Emira dan Alzam membawa Dara ke rumah sakit. Kondisinya sudah sangat lemah. Dara berada di ruang ICU. Dia berbaring lemah. Karena kondisinya memburuk, beberapa organ penting tak berfungsi. Dara koma.
Alzam duduk di luar ruang ICU. Dia terlihat putus asa dan tak punya semangat lagi. Emira menghampirinya usai melihat kondisi Dara, dia duduk di sampingnya.
"Alzam kau baik-baik saja?" tanya Emira.
"Apa Dara akan sembuh Emira?" tanya Alzam balik.
"Mungkin, tapi mendengar penjelasan Dokter, kecil kemungkinan selamat. Beberapa organ vital mulai tak berfungsi," jawab Emira. Dia tidak bisa membohongi kenyataan.
"Seharusnya aku tak pergi, diam di rumah merawat dan menjaganya," ujar Alzam penuh penyesalan.
"Alzam aku juga merasa bersalah, kalau saja aku tidak pergi mungkin Dara masih sehat. Tapi kembali lagi semua itu takdir," jawab Emira.
"Iya kau benar," sahut Alzam.
Mereka berdua duduk di luar ruang ICU saling menguatkan satu sama lain.
***
Bella dilaporkan ke polisi oleh Alzam. Dia menerima semua hukuman atas perbuatannya menjadi narapidana di penjara. Dara masih koma. Kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari. Alzam dan Emira setia menunggunya di rumah sakit.
"Sudah satu minggu Dara koma, kondisinya juga semakin memburuk," ujar Alzam.
"Sabar ya Alzam, Insya Allah pasti Dara sembuh," ucap Emira.
Alzam mengangguk.
"Oya Alzam aku mau pamit ke rumah orangtuaku dulu, paling sebentar," ujar Emira.
"Iya, cepat kembali Emira," sahut Alzam.
Emira mengangguk.
Sebelum pergi Emira masuk ke ruang ICU mengenakan baju hijau yang sudah disediakan dan ditentukan oleh rumah sakit. Dia menghampiri Dara. Duduk di sampingnya.
"Dara aku yakin kau mendengarku," ujar Emira.
"Cepatlah bangun, aku dan Alzam sangat merindukanmu. Aku janji akan mengajakmu jalan-jalan lagi," ucap Emira. Air matanya mulai menetes di pipinya.
"Katanya kau ingin bertemu denganku lagi, aku sudah kembali Dara. Aku akan membacakanmu novel, kita akan bercerita bersama lagi," ujar Emira.
Tak ada respon apapun dari Dara. Bahkan beberapa alat bantu hidup memenuhi tubuhnya. Dia seperti mayat hidup. Jika alat-alat itu dilepas Dara tak bisa bertahan lagi.
"Aku pergi dulu sebentar, nanti aku akan kembali. Aku takkan meninggalkanmu lagi," kata Emira. Dia mendekat, mencium kening Dara kemudian ke luar dari ruangan itu karena tidak boleh membesuk terlalu lama.