Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Di tinggal Bella


Alzam terpaksa harus keluar kota untuk beberapa hari ini. Dia menitipkan Dara pada Bella. Ada urusan bisnis yang harus diurusnya. Alzam sedang mengemasi barang bawaannya. Dara duduk di kursi roda memandanginya. Dia tidak bisa membantu Alzam membereskan barang-barangnya.


"Mas, maafkan aku tidak bisa membantumu beres-beres," ujar Dara.


"Tidak apa-apa sayang, lagi pula hanya sedikit," sahut Alzam sambil merapikan barangnya.


"Kenapa kau hanya membawa sedikit baju?" tanya Dara melihat beberapa baju di dalam koper yang terbuka di lantai.


"Iya, aku hanya tiga hari di luar kota jadi tak perlu bawa banyak baju," jawab Alzam. Dia tak tega jika harus meninggalkan Dara terlalu lama. Apalagi tak ada Emira yang bisa diandalkannya.


"Apa kau tidak membawa jaket atau sweater?di sanakan udaranya dingin," ujar Dara.


"Iya ya, makasih sayang udah diingetin. Tapi mungkin sweater saja, jaket terlalu tebal," sahut Alzam.


"Iya Mas," jawab Dara tersenyum.


"Mas jangan lupa bawa vitamin dan beberapa obat juga ya," ujar Dara. Meskipun dia tak bisa membantu suaminya paling tidak mengingatkannya apa saja yang harus dibawanya.


"Vitamin aja Dara, obatnya gak usah," jawab Alzam.


"Ya udah," sahut Dara.


Alzam memasukkan semuanya ke dalam koper berwarna hitam miliknya.


"Tidak bawa celana jeans? "tanya Dara.


"Tidak, aku bawa celana bahan saja sekalian untuk meeting dengan klien," jawab Alzam.


Alzam sibuk mengurus keperluan untuk dibawanya, melihat itu Dara jadi teringat dulu saat dia masih sehat. Dara selalu menyiapkan semua keperluaannya untuk pergi ke luar kota. Tapi kini dia hanya diam melihatnya dari kejauhan.


Setelah selesai, Alzam menghampiri Dara, memegang tangannya. Menatap mata Dara yang terlihat sendu dan berkaca-kaca.


"Dara kenapa?" tanya Alzam.


"Aku jadi rindu saat dulu mengurus semua keperluanmu," jawab Dara.


"Sayang, bagiku saat ini yang terpenting kesehatanmu, itu lebih berharga dari apapun," jawab Alzam.


Dara meneteskan air matanya. Tak tega mendengar penjelasan Alzam. Dia merasa tak berguna. Tapi suaminya selalu menyayangi dan mengerti kondisinya.


"Aku juga selalu rindu saat-saat kita bersama dulu, saat kau tersenyum bahagia," ujar Alzam.


"Sekarang wajahmu lebih pucat, aku seperti mayat, menyusahkamu," kata Dara.


Alzam memegang pipi Dara dengan kedua tangannya. Menghapus air mata yang terjatuh di pipinya.


"Jangan menangis lagi, aku ingin melihat senyuman itu selamanya," ujar Alzam.


Dara tersenyum. Meskipun hatinya terluka.


"Kau yang selalu sabar merawatku Mas. Mungkin kalau laki-laki lain sudah meninggalkanku, mengusirku karena penyakitan dan menghabiskan banyak uang," ujar Dara.


"Dara aku tidak mungkin tega meninggalkanmu ataupun mengusirmu, karena aku sayang padamu," sahut Alzam.


"Terimakasih Mas, aku tidak tahu akan seperti apa hidupku tanpamu, apalagi aku ini sudah tidak memiliki keluarga. Mungkin aku akan mati dalam kesendirian," ujar Dara.


Alzam mengangguk. Dia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan istrinya.


"Tapi kau membuatku memiliki keluarga dan tempat berlindung. Kau juga merawatku selama lima tahun ini. Aku yakin kau pasti sangat lelah," ungkap Dara.


"Dara dari pertama kita bertemu aku sudah mencintaimu dan berjanji akan menjagamu. Jadi aku selalu memegang kata-kataku itu. Semua yang ku lakukan karena aku mencintaimu," jawab Alzam.


Merekapun meluapkan semua perasaan yang dirasakan selama ini. Waktu yang lama mereka lalui bersama dalam suka dan duka. Dara merasa bahagia memiliki Alzam dihidupnya. Entah seperti apa nasibnya kalau tidak ada Alzam.


***


Alzam pergi meninggalkan Dara ke luar kota. Dara tinggal di rumah bersama Bella sebagai orang yang merawatnya. Bella menemui Dara yang sedang menonton televisi di kamarnya. Baru masuk saja Bella sudah sangat tidak suka pada Dara, dia berpikir untuk menyingkirkan Dara dari hidup Alzam.


"Dara kau bosan tidak hanya di kamar saja?" tanya Bella.


"Tidak, aku sudah terbiasa di dalam kamar seharian," jawab Dara.


"Kau tidak mau jalan-jalan ke pasar. Seru loh, banyak para penjual dan pembeli yang sedang melakukan transaksi jual beli," ucap Bella.


"Pasar? Aku belum pernah pergi ke pasar. Sepertinya terdengar menarik. Aku mau ikut ke pasar bersamamu Bella," sahut Dara.


"Oke, ayo sekarang kita berangkat ke pasar," ucap Bella.


"Bodoh, aku mau menyingkirkanmu selamanya Dara," ucap Bella dalam hatinya.


Bella mengajak Dara pergi ke pasar. Kondisi pasar itu ramai sekali. Dara begitu antusias melihatnya. Dia meminta Bella untuk berbelanja sayuran di pasar itu. Saat Dara sedang asyik memilih sayuran, Bella mengambil tas milik Dara dan meninggalkan Dara sendirian di pasar itu.


"Pasar ini sangat jauh dari rumah Alzam, dengan aku mengambil tasnya,dia tidak akan bisa kembali. Paling orang juga akan mengira dia orang peminta-minta atau orang gak waras. Selamat tinggal Dara, cepatlah mati biar Alzam jadi milikku," ucap Bella.


Setelah Dara puas memilih sayuran itu, dia ingin membayarnya. Dia mencari tasnya tidak ada, Bella tidak ada di sampingnya. Dara kebingungan. Dia mendorong kursi rodanya mencari Bella.


"Bella ke mana? Kenapa dia tidak ada? Tas ku juga tidak ada, bagaimana ini?" ujar Dara. Dia mendorong kursi rodanya ke luar dari pasar itu, beberapa orang membantunya ke luar dari pasar itu. Dara menelusuri jalan mencari Bella. Dia putus asa dan sudah kelelahan dari tadi mendorong kursi rodanya.


Dara menangis di tepi jalan raya. Dia tidak begitu tahu daerah yang ditempatinya sekarang. Apalagi dia tidak memiliki uang ataupun handphone untuk menghubungi Alzam.


Ada beberapa preman jalanan melihat Dara yang menangis di jalanan.


"Bro, boleh juga cewek ini kita jadiin peminta-minta tampangnya kelihatan ngenes pasti banyak orang yang akan memberi uang."


"Betul Bro, kita bisa manfaatkan dia."


Mereka menghampiri Dara dan memaksanya ikut bersamanya. Dara dibawa ke basecamp mereka. Dia didandani menggunakan arang dan disobek-sobek bajunya agar terlihat lebih ngenes supaya orang pada kasihan dan memberinya banyak uang.


"Hei wanita, mulai sekarang kau harus menghasilkan uang untuk kami kalau kau masih ingin hidup."


"Lepaskan aku, ku mohon," pinta Dara.


"Sayang melepasmu, kau itu tambang emas kami mulai sekarang."


"Sekarang kau minta-minta di jalanan oke."


"Aku tidak mau minta-minta, itu perbuatan yang tidak baik," jawab Dara.


"Gak mau tahu, kau turuti perintahku atau mau mati dibsini juga," ucap Preman itu sambil membawa pisau.


Melihat preman itu membawa pisau, Dara akhirnya mau menuruti kemauan preman itu. Dua preman itu mengantarkan Dara ke jalan raya.


"Kau minta-minta sana, kami mengawasimu dari sini. Awas kau berani kabur atau minta tolong pada orang lain."


Dara mendorong kursi rodanya sambil minta-minta pada setiap orang yang berjalan dijalan raya. Kedua preman itu mengawasi Dara dari kejauhan.