
Emira pergi ke rumah orang tuanya. Sudah sangat lama semenjak ibunya meninggal, dia tidak berkunjung ke rumah orangtuanya. Emira rindu pada ayah dan adik perempuannya. Rumah yang cukup besar itu dibeli Emira dari hasil kerja kerasnya menjadi agen rahasia. Emira sedikit ragu saat kakinya melangkah menuju teras rumahnya.
Setahun yang lalu saat dia berkunjung, ayah dan adiknya tidak menerima kedatangannya. Dia membulatkan tekadnya untuk tetap melangkah mencapai pintu rumahnya. Emira berdiri di depan pintu. Ada keraguan untuk mengetuk. Tapi jika begini terus hubungan takkan membaik. Emira mengetuk pintu rumah itu.
Tok!tok!tok!
Suara pintu rumah itu diketuk oleh Emira. Berharap sang empunya rumah menerima kedatangannya.
Tak lama pintu rumah terbuka, ayahnya membuka pintu untuk Emira. Dia menatap Emira dengan tatapan dingin.
"Assalamu'alaikum," sapa Emira.
"Wa'alaikumsallam."
"Ayah kedatanganku ke sini untuk minta maaf dan ingin bertemu dengan ayah dan Nesya," ucap Emira. Merasa tidak enak. Tapi dia rindu.
"Masuklah! kita bicara di dalam." Lelaki paruh baya itu memperbolehkan Emira masuk. Padahal dulu selalu bersikeras memintanya untuk tak datang lagi.
Emira masuk ke dalam rumah bersama ayahnya. Dia senang akhirnya ayahnya memperbolehkannya masuk ke rumah itu lagi. Di dinding terpajang foto almarhum ibunya, Emira sedih melihat foto ibunya. Perasaan bersalahnya muncul lagi saat melihat wajah ayahnya. Seharusnya Emira bisa datang dipemakaman ibunya tapi dia tidak bisa datang. Emira duduk di ruang keluarga bersama ayahnya.
"Ayah maafkan semua kesalahan Emira, seharusnya aku menghadiri pemakaman ibu tapi aku malah tidak bisa hadir," ucap Emira.
"Saat ibu sakitpun, aku tidak bisa merawatnya. Apa gunanya aku sebagai anak yang tidak bisa merawat orangtunya," tambah Emira. Dia tahu kesalahannya sulit untuk diperbaiki. Ayahnya sudah kecewa padanya.
Pak Yudi Harmawan ayah Emira, hanya terdiam. Membuat Emira jadi merasa semakin bersalah.
"Aku tahu ayah pasti belum bisa memaafkanku atas semua kesalahanku," kata Emira.
"Emira sebenarnya kau tidak salah Nak. Kau tak perlu merawat kami juga tidak apa-apa karena aku dan ibumu bukan orangtua kandungmu nak,"
ucap Pak Yudi. Mengungkapkan kebenaran yang selama ini dipendamnya.
"Apa? aku bukan anak kandung kalian?" tanya Emira. Dia terkejut. Selama ini tak pernah terlintas dibenaknya kalau dia bukan anak kandung kedua orangtuanya. Mereka sangat menyayangi Emira. Tak ada keraguan sedikitpun.
"Ya, kau bukan anak kandung kami. Kami sepasang suami istri yang sudah sangat lama tidak memiliki anak. Hingga pada suatu ketika kami menemukan seorang bayi perempuan tergeletak di taman bunga sendirian. Aku dan istriku membawamu ke rumah kami. Karena istriku begitu menyayangimu, aku tidak tega menyerahkanmu ke polisi atau mencari orangtua kandungmu. Kami malah sepakat untuk membesarkanmu dan memberimu identitas baru sebagai anak kami," ujar Pak Yudi. Dia menceritakan semuanya. Tak peduli Emira akan marah dan kecewa padanya.
"Jadi aku bukan anak kalian," ucap Emira. Masih belum percaya.
"Maafkan kami nak, secara tidak langsung telah memisahkanmu dengan orangtua kandungmu, seharusnya dari dulu kami memberitahukan kebenaran ini padamu nak," tutur Pak Yudi.
Emira berusaha mencerna semua yang diceritakan oleh Pak Yudi. Dia tidak tahu ternyata kenyataan yang didengarnya akan membuatnya sangat terkejut.
"Ayah tahu kamu pasti marah pada kami nak yang telah membohongimu selama bertahun-tahun lamanya," ucap Pak Yudi.
"Ayah, kalian tidak sepenuhnya bersalah. Justru aku berterimakasih kalian telah merawatku. Entah apa yang terjadi jika orang lain yang menemukanku. Walaupun kalian juga sedikit bersalah karena tidak berusaha mencari orangtuaku ataupun menyerahkanmu ke kantor polisi. Tapi semua sudah terjadi percuma kalau harus saling menyalahkan," ucap Emira.
"Emira, ayah juga minta maaf telah menyalahkanmu karena tidak hadir di pemakaman Ibumu," sahut Pak Yudi.
"Tidak masalah ayah, aku memang salah saat itu. Lebih baik sekarang kita lupakan semua kesalahan yang telah terjadi dan saling memaafkan. Kita jalin kembali hubungan yang sempat renggang ini. Jujur aku rindu ayah dan Nesya," ucap Emira.
"Ayah dan Neisya juga rindu padamu Emira," jawab Pak Yudi.
Akhirnya Emira berkumpul bersama ayah dan Neisya. Sudah lama mereka tak berkumpul bersama. Neisya juga sudah memaafkan Emira atas kesalahannya. Mereka berkumpul di ruang makan untuk makan siang bersama. Bercengkrama seperti dulu. Berbagi cerita dan kebahagiaan. Emira begitu bahagia hubungannya dengan ayah dan adiknya kembali terjalin seperti dulu.
***
Emira pergi ke rumah sakit. Dia menuju ke ruang ICU tempat Dara dirawat sambil memikirkan semua yang diucapkan ayahnya tadi. Emira duduk di luar ruang ICU. Terdiam dan merenung. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya.
"Aku ditemukan di taman bunga saat masih bayi oleh ayah dan ibu. Kenapa cerita ini mirip dengan cerita hilangnya adik Dara? Apa mungkin aku adik Dara? mungkinkah aku harus membuktikannya lewat tes DNA," ucap Emira.
"Aku dan Dara selalu merasa dekat dan saling membutuhkan satu sama lain, apa memang sebenarnya kami adalah kakak adik," ucap Emira. Dia mencurigai dirinya memiliki ikatan darah dengan Dara.
"Tapi dunia ini begitu sempit hingga aku dipertemukan dengan Dara dengan cara yang seperti ini.bBahkan aku tak tahu bisa seperti ini. Aku tetap harus tes DNA biar keyakinanku benar adanya," kata Emira. Mungkin jika dia melakukan tes DNA untuk membuktikan hubungan dia dan Dara. Dia berharap Dara memang benar-benar kakaknya.
Tak lama Alzam ke luar dari ruang ICU. Duduk di samping Emira. Dia terlihat murung dan lesu.
"Alzam gimana perkembangan Dara?" tanya Emira.
"Semakin menurun, tadi paru-parunya tak berfungsi dengan baik, Dara sempat kesulitan bernafas," jawab Alzam.
Emira terdiam. Dia dan Alzam sama-sama mengkhawatirkan Dara.
"Aku ingin melihat Dara dulu, semangat Alzam!" ujar Emira.
"Iya, terimakasih Emira," jawab Alzam.
Emira mengangguk. Kemudian dia masuk ke ruang ICU. Melihat kondisi Dara. Emira duduk di kursi. Sambil memegang tangan Dara.
"Dara ku mohon bangunlah! Aku rindu padamu," ucap Emira.
"Mungkin saja aku adikmu Dara, jika benar kita bisa bersama lagi, bukankah kau ingin bertemu adikmu?" kata Emira.
Air mata Emira menetes di pipinya. Dia begitu sedih melihat Dara berbaring tak berdaya.