Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Menakjubkan


"Tuan, saya sudah menyiapkan segalanya untuk Anda malam ini. Semua pasukan sudah siap bertugas di tempatnya." Brox datang melaporkan tugasnya.


Joni hanya mematung di tempatnya. Ia lalu memberikan setelan jas mewah untuk Luca. Brox tetap berdiri di tempatnya. Ia juga tidak sabar menantikan kisah lanjutan dari bosnya itu. Begitu tugas Joni selesai, ia melakukan tos dengan Brox.


"Jadi, sudah ada yang menjemputnya? Di mana putriku?" Luca membalikkan badannya. Ia menatap dua kaki tangannya itu dengan senyuman cerah.


Setelan jas tuxedo itu tampak membuatnya gagah dan berwibawa dalam waktu yang bersamaan. Joni dan Brox memberikan jempolnya pada Luca.


"Nona Muda ada di tempatnya, Tuan. Dia sedang memainkan perannya. Penata busana sudah memberikan pelayanan terbaik untuk Putri Anda," sahut Joni.


"Lalu, dia?" Luca tak sabar menantikannya.


Ya, semalam suntuk ia tetap terjaga lantaran menunggu datangnya hari ini. Berkat Quinn, Tiffany bersedia menikah dengan Luca. Tentunya dengan drama ayah dan anak yang sangat menguras air mata.


"Beliau sudah bersiap untuk menuju altar."



Hiruk pikuk memenuhi suasana aula hotel termegah di kota. Luca sibuk menerima ucapan selamat atas pernikahannya tanpa henti. Di sampingnya, Tiffany terus-terusan tersenyum. Padahal kaki wanita itu mulai sakit karena pemakaian hak tinggi sejak pagi.


"Mommy, apa kau baik-baik saja?" tanya Quinn.


Mendengar pertanyaan dari Quinn, Luca pun menoleh. "Kembalilah ke kamar. Biar Brox yang mengantar kalian berdua."


"Apa tidak apa-apa?" Tiffany merasa sungkan. Ia tidak enak sebab Luca masih terus menyapa tamu.


"Tidak masalah. Pasti lelah untukmu karena kau bersiap lebih lama. Quinn, antar Mommy-mu ke kamar. Kau juga harus beristirahat," pesan Luca.


"Siap! Ayo, Mom." Quinn menarik tangan Tiffany. Sebelum akhirnya Tiffany benar-benar ikut dengan Quinn.


Brox membungkukkan setengah badannya. Ia tahu tugasnya menjadi lebih berat dari sebelumnya. Sebab Brox harus menjaga Tiffany dan Quinn melebihi nyawanya sendiri. Sedangkan Joni, ia mendampingi Luca untuk menyapa para tamu.


Karena Tiffany ingin sahabatnya itu bersamanya. Tiffany pun duduk di atas ranjang. Viana buru-buru mengambil pakaian ganti untuk Tiffany.


"Aku akan memesan teh hijau supaya kau sedikit rileks. Hotel ini sangat luar biasa. Yah namanya hotel termewah di kota besar ini. Quinn, kau jangan tidur dulu! Ganti pakaianmu supaya kau tidur dengan nyaman!" Viana memberikan pakaian ganti untuk Tiffany. Sebelum akhirnya ia menarik dua tangan mungil Quinn dan membuatnya bangkit dari aksi rebahan.


"Padahal punggungku baru saja menempel," keluh Quinn.


"Jangan mengeluh, Nak. Cepat bersih-bersih dan kau tidurlah." Tiffany mengusap kepala Quinn. Membuat Quinn memeluk tubuhnya erat.


"Terima kasih, Mom. Mommy adalah ibu terbaik yang aku miliki." Setelah mengatakan itu, Quinn turun dari ranjang. Ia kemudian bergerak menuju ke kamar mandi.


"Ini minumlah. Kau harus banyak beristirahat setelah ini." Viana memberikan secangkir teh hijau kepada Tiffany.


"Vi, ini sudah malam. Kau tidak kembali ke kamarmu untuk beristirahat? Terima kasih atas bantuanmu hari ini," ucap Tiffany.


"Oh itu. Kau jangan sungkan padaku. Tuan Luca sudah membayarku mahal untuk membantumu," balas Viana.


"Apa?" Tiffany terkejut. Ia tidak tahu jika Viana dibayar oleh Luca untuk membantunya. Padahal sebagai sahabat, Tiffany ingin Viana bersamanya di hari istimewa ini.


Viana duduk di samping Tiffany. Gadis itu tersenyum sambil menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga. "Kau harus berbahagia. Dia laki-laki baik. Tadinya aku sangat senang kau membiarkan aku berkeliaran di sampingmu ketika kau menikah. Tapi, Tuan Luca mengirimkan uang 15 juta supaya aku membantumu. Padahal tanpa uang itu, kau tahu aku akan tetap membantumu kan? Kau juga tahu nominal itu sangat besar untukku, Tiffany. Kau harus bahagia."


"Ya, Bibi Viana. Mommy akan bahagia karena dia akan memberiku adik bayi!" Tiba-tiba Quinn muncul dengan kata-kata yang membuat Tiffany kesal.


"Ayo, Bibi! Jangan mengganggu Mommy dan daddy aku!" Quinn menarik tangan Viana untuk keluar dari kamar hotel Tiffany.


"Ah, sampai jumpa besok, Tif! Semoga berhasil!" teriak Viana.


"Apanya yang berhasil?" Tiffany membalas berteriak. Namun, sekeras apapun ia berteriak, Viana dan Quinn tidak mendengarnya sebab dua orang itu sudah keluar.


"Dasar mereka berdua! Tapi…kenapa aku berdebar?"