
Boom!
Suara ledakan itu terus menggema memekakkan telinga. Tentu saja membuat semua orang yang ada di dalam mansion itu berhamburan keluar dari mansion. Luca terus memperhatikan para anak buah Diego tampak panik dengan penyerangan yang dilakukan oleh Brox.
"Tuan Luca sepertinya mereka sudah memiliki persiapan. Lihat di ujung selatan sana. Ada seorang sniper yang sedang bersiap. Lihat dia mulai menyokong senjata ketika ledakan terjadi." Brox menunjuk ke arah selatan di mana tampak siluet yang disinyalir sebagai seorang sniper.
Luca pun mengalihkan pandangannya ke arah Sniper itu. Namun bukan Luca namanya Jika ia tidak bisa menguasai keadaan. Tentu saja Luca juga memiliki sniper yang bertugas untuk menembak musuh. Para Sniper milik Luca sudah bersembunyi dan bersiaga di tempatnya masing-masing.
"Apa yang kau takutkan Brox? Ikuti permainanku. Yan segera berikan isyarat kepada para Sniper itu untuk membalas Serangan yang diberikan oleh musuh. Aku akan menyelinap masuk setelah semuanya 60% sudah kita kuasai. Lakukan penyerangan secara besar-besaran. Dan kau Brox. Kau harus terus mengawasi dua orang yang menjadi tahanan musuh." Luca mulai melepaskan jas yang dikenakannya.
Begitu pula dengan kemeja putih yang kini mulai Luca lepaskan. Seolah Luca sedang bersiap untuk menunggu gilirannya. Kemudian salah satu anak buahnya, membawakan sesuatu. Rupanya itu merupakan rompi anti peluru yang sudah di desain oleh Luca.
Sebagai seorang ketua mafia, Luca memang termasuk salah satu orang yang sebagian besar merancang sendiri desain senjatanya. Setelah selesai menggunakan rompi anti peluru itu Luca pun kembali menggunakan kemeja putih maupun jasnya.
Tak berapa lama laki-laki itu sudah selesai. Ia pun kembali duduk di tempatnya. Mengawasi layar monitor kembali untuk memastikan jalan yang ia lalui nanti sedikit aman. Kini anak buahnya maupun anak buah Diego mulai saling menyerang satu sama lain. Ekspresi wajah Luca pun berganti. Tidak ada yang berani untuk Mengusik fokus Luca.
"Terbangkan drone yang berisi bola asap obat bius. Aku sudah menambahkan dosisnya. Kemungkinan mereka akan tidur dalam waktu 7 jam. Belum lagi kemungkinan jika mereka malah overdosis lantaran dosis yang sudah ku berikan. Sebab aku mencambur dengan sedikit racun dari bunga phollonium. Jadi Setelah semuanya aman aku akan menyusup masuk." Luca menjelaskan rencananya. Mendengar hal itu Brox pun menoleh. Anak buah Luca itu seperti ragu untuk menyetujui rencana Luca.
"Bukankah seharusnya Tuan tetap berada di sini? Kami berjanji akan membawa dua orang yang penting itu untuk anda. Jangan khawatirkan apapun." Brox mencoba untuk bernegosiasi dengan Luca. Ia juga tidak ingin mengambil resiko kalau-kalau Luca terluka nantinya.
"Aku sudah menggunakan rompi anti peluru. Apalagi yang perlu aku takutkan? Lagi pula aku juga akan membawa senjata laras panjang milikku. Apa Kau pikir aku akan menyusup ke mansion itu dengan tangan kosong?" tatapan mata Luca berubah menjadi tajam.
"Baiklah, saya mengerti, tuan." Brox tidak bersuara lagi. Laki-laki itu terus mengawasi ruangan yang dijadikan sebagai tempat untuk menahan Tiffany dan Quinn.
"Ya Tuhan. Bolehkah aku meminta? Aku minta agar dua orang yang ada di dalam itu selamat dan tidak terluka sama sekali. Aku akan sangat menyesal apabila mereka berdua terluka. Karena apa yang terjadi sekarang ini bukanlah ranah mereka untuk ikut bergabung menanggung semua konsekuensi yang sudah menjadi perbuatanku selama ini. Kumohon agar baik Tiffany maupun Quinn keduanya selamat. Ini merupakan doa pertama dari seorang Pendosa seperti itu." Luca membatin dalam hati.
Laki-laki itu untuk pertama kalinya khawatir dengan orang lain selain dirinya sendiri. Terlebih Tiffany dan Quinn bukanlah siapa-siapa baginya. Tak berapa lama setelah Luca berdoa. Laki-laki itu Mulai mengambil senjata laras panjangnya.
Brox Terus mengawasi gerak-gerik Luca yang tampak menyokong senjatanya. Ini berarti jika Luca sudah memasuki tahap mempersiapkan diri untuk menyelinap masuk ke dalam area musuh.
Ekspresi Luca membuat Brox semakin sadar. Bahwa Luca sedikit berbeda lantaran dua orang yang sekarang menjadi prioritas Luca.
"Entah mengapa Tuan Luca justru semakin bertambah keren saat ini. Meskipun emosinya juga semakin berubah-ubahtapi Tuan Luca terlihat berbeda. Aku terkejut karena Tuan Luca bisa memperhatikan orang lain selain dirinya sendiri." Brox membatin.
Kedua matanya terus memperhatikan Luca yang berjalan ke arah markas musuh. Ekspresi wajah Luca pun tidak dapat ditebak. Padahal Brox sudah bertahun-tahun menemani Luca.
"Yan, sekarang kau ambil Posisiku. Aku akan bergerak maju ke area musuh," ucap Luca. Kedua mata IlYan terbuka lebar. Sepertinya ia terkejut dengan perintah dari Luca.
"Kalau kau berani lakukan saja sana. Tapi aku akan menghabisimu. Jangan membuatku terlihat seperti pengecut yang sedang bersembunyi di ketiak anak buahnya. Di sini aku ketua mafia kalian. Akulah pemimpinnya. Apa mungkin seorang pemimpin ketakutan?" tantang Luca.
Jawaban dari Luca membuat Yan dan Brox terdiam seketika. Dua orang itu saling berpandangan. Sebab keduanya sama-sama bingung mau menjawab apa.
Beberapa anak buah Luca mulai mengambil tempat. Mereka semua tinggal menunggu aba-aba untuk melompat masuk ke area musuh.
Berbagai alat persenjataan sudah berada di tangan maupun belakang punggung mereka. mereka semua sudah bersiap untuk mengambil alih markas musuh.
"Tuan Luca apa kau sudah membawa earphone?" Yan teringat dengan earphone.
Laki-laki itu mengingatkan Luca akan earphone yang akan menghubungkan mereka semua. Tanpa Luca menjawab pun Yan Sudah tahu jika Luca telah menggunakan earphone.
Mereka semua pun sama-sama mengaktifkan earphone yang akan membimbing mereka untuk saling berhubungan. Selanjutnya, Luca menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
"Ayo kita serang!" ucap Luca dengan lantang.
Mendengar perintah dari Luca mereka semua pun bergerak. Beberapa dari mereka akan melindungi Luca. Sebagian yang lain akan ikut menyerang.
Misi mereka adalah menyelamatkan dua orang yang saat ini ditahan. Sisanya mereka akan mencari jalan lain untuk mengalihkan perhatian musuh.
Di sisi lain dua orang yang sedang menjadi tahanan itu mulai meringkuk ketakutan. Tiffany dan Quinn meringkuk di bawah lantai dengan keadaan tangan dan kaki terikat.
Hanya mulut mereka yang dibiarkan tanpa disumpal. Tiffany takut Apabila kejadian ini akan membuat Quinn trauma. Sebab Quinn memang masih berusia sangat dini untuk berada dalam situasi ini.
"Nak, Apa kau baik-baik saja?" tanya Tiffany.
"Mommy Jangan khawatir. Aku sedang menghitung waktu yang berjalan." Jawaban dari Quinn sejenak membuat Tiffany bingung.
Tiffany tidak mengerti mengapa Quinn malah terlihat santai dan semua situasi Itu. Berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh Tiffany.
"Kenapa kau menghitung waktu yang berjalan Quinn? Apa kau berpikir jika akan ada orang yang menyelamatkan kita?" Tiffany ingin sekali menangis. Mungkinkah karena saking traumanya Quinn jadi berbicara ngawur.
"Aku sedang menghitung waktu yang berjalan dan lamanya waktu terbuang. Meskipun aku yakin kalau Paman Luca akan menyelamatkan kita, tapi jika saja Paman Luca terlambat. Aku akan membuat perhitungan!"