
"Sejauh ini aku sudah mengumpulkan bukti. Ini hasil tes DNA. Untuk itulah mengapa aku berani memberikan darahku pada Quinn. Sebab aku tahu golongan darahnya sama denganku." Luca merogoh saku celananya. Kemudian memberikan secarik kertas hasil tes DNA kepada Tiffany.
Wanita itu dengan tangan gemetar mengambil kertas yang diberikan oleh Luca. Tiffany membulatkan mata ketika Luca benar ayah kandung Quinn. Ketakutan Tiffany bertambah besar.
"Ya Tuhan! Apa Luca akan meminta Quinn?" batin Tiffany dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Luca.
Tiffany menatap Luca dengan sendu. "Apa kau ingin meminta Quinn? Ka-kalau aku tidak setuju kau membawa Quinn dariku, apa kau akan memaksa Quinn untuk ikut bersamamu?"
Luca tersenyum. Ia tahu kalau Tiffany akan mempertanyakan hal ini.
"Aku ingin lebih." Luca menggenggam tangan Tiffany.
Wanita itu merasa sedikit risih ketika Luca tiba-tiba menggenggam tangannya. Tiffany ingin melepaskan tangan Luca. Tapi, genggaman tangan laki-laki itu sangat kuat.
"Kau tahu jika Quinn selama ini sudah menderita karena ia tidak memiliki ayah, Tiffany? Akan sangat egois apabila kita berdua hanya mengedepankan ego masing-masing dari kita. Kupikir ada yang lebih penting dari sekedar rasa ingin memiliki Quinn. Mengapa kita tidak mencoba satu hubungan yang akan membuat Quinn bahagia?" Luca meneguk ludahnya sendiri.
Sungguh laki-laki itu tidak mempercayai dirinya sendiri. Sebab Luca bukanlah tipe laki-laki yang sok puitis. Lalu apa yang baru saja keluar dari mulut laki-laki itu? Sebuah ajakan menjalin suatu hubungan. Atau lebih tepatnya bisa disebut sebagai lamaran.
Tiffany menggelengkan kepala. "Sulit untuk menjelaskannya kepada Quinn tentang rumitnya hubungan kita, Tuan Luca."
"Bisakah kau buang sebutan itu? Panggil namaku, Tiffany. Aku mohon panggil namaku saja. Itu hanya akan memberikan jarak untuk hubungan kita," kesal Luca.
"Mengapa Quinn tidak mengerti? Quinn anak yang pintar, Tiffany. Berhentilah membuatnya seolah Quinn sulit untuk memahami keadaan sekitar." Luca meninggikan suaranya. Laki-laki itu kehabisan kesabaran.
"Ssst! Kau bisa membuat Quinn mendengarkan pembicaraan kita!" Tiffany menaruh satu jari telunjuk di bibirnya. Sebagai isyarat agar Luca mengecilkan volume nada bicaranya.
Luca melepaskan genggaman tangan Tiffany. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Luca frustasi. Bagaimana cara untuk membuat agar ia bisa bersama dengan putri semata wayangnya? Selain itu, ada rasa berat apabila ia harus berjauhan dengan Tiffany.
"Si*l! Perasaan macam apa ini?" batin Luca bingung.
Tiffany membeku. Wanita itu tak mampu berpikir lagi lantaran ia terlalu syok dengan fakta bahwa Luca adalah laki-laki yang ia cari. Terlebih, dari seluruh dunia mengapa Quinn meminta bantuan Luca? Apakah ini yang dinamakan ikatan batin? Padahal bisa saja Quinn menemukan orang lain. Namun, mengapa harus Luca? Tiffany tidak habis pikir.
"Tiffany, aku bilang mari kita buang keegoisan kita! Kita harus bersama karena kita memiliki Quinn!" Luca yang emosi pun menunjuk Quinn. Kedua mata Tiffany melebar ketika ia melihat Quinn sudah terbangun dari pengaruh obat biusnya.
"Quinn! Kau bangun?" Tiffany bertanya sambil berjalan cepat mendekati ranjang pesakitan Quinn. Bibir Tiffany tersenyum lebar. Quinn selamat! Quinn, putrinya yang sangat ia cintai itu sudah membuka mata.
"Apa benar Paman Luca itu ayahku, Mom?" tanya Quinn.
"A-apa?" Tubuh Tiffany bagai tersengat listrik.
"Aku sudah mendengarkan semuanya. Jadi tolong dijawab. Apa benar Paman Luca itu ayahku, Mom?"