
"Apakah kau sudah kehilangan kemampuanmu dalam mengemudi mobil, Brox? Mengapa kau membawa mobil lelet sekali?" Luca terus memarahi Brox.
Sedangkan Brox yang ada di sampingnya terus saja diam seribu bahasa. Anak buah Luca itu sama sekali tidak tersinggung oleh kalimat Luca yang terdengar mengejek. Luca ingin sekali mengemudi mobil untuk menggantikan Brox.
Hanya saja Brox Melarang Luca untuk menggantikan dirinya. Meskipun Luca terus saja mengomel Brox tidak merasa terintimidasi sedikitpun. Laki-laki itu terus berfokus pada jalanan dan juga misi yang harus diembannya.
Sebab kalau ia gagal, tentu saja Luca akan lebih marah terhadapnya. Seperti memakan buah simalakama. Brox tentu saja bingung harus memilih yang mana. Daripada membuang waktu itulah mengapa Brox memilih terus membawa mobilnya. Dan tidak mendengarkan omelan Luca.
"Brox, kau harus lebih cepat lagi! Sial! Seharusnya aku yang membawa mobilnya! Jika aku tahu kau sangat lelet seperti ini." Luca kembali meluapkan amarahnya.
Sebab anak buahnya tidak secepat yang ia kira. Tampak sekali Jika Luca sangat panik. Brox pun sesekali melirik ke arah Luca. Ia tahu jika Luca berubah menjadi tidak sabar da sangat pemarah semenjak mengejar mobil musuh.
"Entah apa hubungan dua orang itu dengan Tuan luca. Ini sangat membingungkan. Karena seumur hidupku bekerja bersama Tuan Luca Aku tidak pernah tahu kalau Tuan Luca memiliki empati terhadap orang lain sampai seperti ini. Padahal biasanya Tuan Luca akan mengusir wanita yang terlalu kurang ajar terhadapnya. Lantas Bagaimana dengan dua orang itu? Mengapa kami harus repot-repot untuk mengejarnya? Jika bukan karena Tuan Luca aku tidak mau susah seperti ini. Akan tetapi mau bagaimanapun juga ini tetap berkaitan dengan Diego sial*n itu!" Brox membatin kesal.
Sebenarnya sebagai kaki tangan Luca Brox selalu memiliki posisi Kedua yang paling berkuasa di dalam geng mafia The Hwak. Hanya saja mengapa sekarang mereka harus repot-repot mengejar musuh hanya karena menculik dua orang perempuan saja? Meski begitu Brox menjalankan perintah Luca.
Laki-laki itu terus mengejar musuh menuju ke pinggiran kota. Entah berapa lama waktu yang harus mereka tempuh. Karena Brox juga sebenarnya ingin membawa Luca ke rumah sakit.
"Cepat! Kita bisa ketinggalan jauh! Bagaimana kalau mereka membawa Tiffany dan Quinn pergi dari tempat itu lagi? Yang ada kita juga semakin kehilangan jejak! Cepatlah Brox!" Luca membentak Brox.
"Tolong tenang, Tuan Luca. Jangan terlalu gegabah, kita bisa saja salah langkah apabila tidak memiliki rencana. Ingat, kita berhadapan dengan Diego. Anda tahu bukan siapa dia? Musuh yang sudah bersinggungan dengan kita selama beberapa waktu belakangan ini." Brox mencoba menenangkan Luca agar tidak lagi dilanda panik.
Sebab Brox takut kalau mereka sampai harus terluka atau kehilangan nyawa dalam misi penyelamatan ini. Brox tahu dan sangat paham jika Luca khawatir. Akan tetapi, Brox juga tidak bisa membiarkan ia kehilangan banyak anggota pasukan geng mafia milik Luca.
"Lalu aku harus bagaimana, Brox? Apa aku harus tenang dengan hanya menunggu kabar tentang kematian mereka berdua? Si*l!" Luca menarik rambutnya sendiri. Menandakan betapa frustasinya dia karena Tiffany dan Quinn yang diculik.
"Seharusnya aku tidak membawa mereka liburan ke pantai. Padahal aku hanya lengah beberapa detik saja tapi semua berakhir seperti ini." Luca mengusap wajahnya dengan kasar. Namun, laki-laki itu kembali sadar dengan memasang mimik wajah yang dapat mengintimidasi orang lain setelah Brox tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti? Apakah sudah sampai?" tanya Luca.
Brox tidak menjawab. Ia ternyata mengambil sebuah teropong dan memakainya. Sepertinya Brox sedang mengamati mansion musuh. Luca dengan hati yang berdebar menunggu Brox menyampaikan penemuannya dengan teropong.
"Bagaimana?" Luca kembali bertanya setelah sebelumnya diabaikan oleh Brox.
"Ya Tuhan! Ini gila!" Luca menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya. Sungguh ia menyesali rencananya membawa Quinn dan Tiffany untuk berlibur di pantai.
"Membutuhkan waktu untuk perjalanan dari markas kami ke tempat ini. Semoga saja mereka cepat membawa amunisi senjata api itu supaya Tuan Luca tidak lebih panik dari ini. Aku bisa mengatasinya apabila aku sudah tahu kondisi tempat ini. Tapi, yang paling membingungkan adalah mengapa mereka membawa korban di tempat terbuka ini? Kenapa tidak ke tempat lain? Entah mengapa firasatku tidak enak." Brox membatin gelisah.
Ya, dalam situasi yang seperti ini memang Brox sudah lebih banyak mengalaminya. Pengalaman itu membuat Brox selalu waspada ketika ia pergi kemanapun. Jebakan. Di mana jebakan memiliki peluang besar untuk menjatuhkan musuh. Sekarang, inilah yang menjadi ketakutan Brox. Gelagat musuh sepertinya memang bukan tertuju pada Tiffany dan Quinn.
"Kalau begitu, dua orang itu kemungkinan sudah diamati oleh musuh dalam waktu yang tidak sebentar. Melihat dari respon Tuan Luca aku bisa menebak jika dua orang itu belakangan memiliki hubungan khusus dengan Tuan Luca secara emosional. Ya Tuhan, kalau begitu kami harus segera bergerak. Kemana bala bantuan itu? Kenapa mereka lama sekali?" batin Brox dalam hati.
Brox mendadak ikut gelisah. Laki-laki itu khawatir apabila Luca terpancing emosinya oleh musuh. Brox memicingkan kedua matanya. Saat layar GPS yang sedang berada di hadapannya itu berkelip-kelip.
"Tuan Luca, bala bantuan tidak lama lagi akan sampai. Mari bersiap." Brox memberikan peringatan kepada Luca.
Pun tampak Luca kembali memposisikan tubuhnya dalam posisi yang tegap. Ia tidak lagi bersandar pada sandaran kursi. Brox keluar dari mobil ketika ia melihat sebuah mobil sedan hitam telah datang.
Kemudian Brox mengambil beberapa alat yang diberikan oleh anak buah Luca. Brox kini membawa sebuah drone. Ia pun mulai menerbangkan satu drone itu ke langit dan tak lama drone itu melesat dengan cepat.
Luca tersenyum menyeringai. Ia memperhatikan keadaan yang ditangkap dari kamera pengintai drone dan mengamati dengan seksama setiap sudut ruangan di mansion.
Tak hanya itu, Luca pun segera mengingat setiap sudut yang ada di mansion itu. Setidaknya sebelum masuk ke dalam mansion, Luca harus mengetahui wilayah musuh terlebih dahulu.
"Ketemu! Mereka ada di lantai dua!" Luca berseru setelah ia mendapatkan posisi di mana Tiffany dan Quinn disekap.
"Syukurlah mereka berdua baik-baik saja. Tunggu aku, Quinn. Paman Luca-mu ini akan menyelamatkanmu," batin Luca dalam hati.
"Yan, terbangkan drone yang sudah dilekatkan dinamite," perintah Brox.
"Baik, Tuan." Anak buah Luca yang bernama Yan itu memencet tombol pada remot yang dibawanya.
Yan memencet tombol bertuliskan on dan tiba-tiba saja mansion bagian depan sudah hancur diiringi suara ledakan yang memekakkan telinga.
"Mari bermain, Diego!" Luca menyeringai. Ia akan mengambil alih keadaan sekarang.