Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Hari Pertama


"Tuan Luca, ini hasil tes DNA yang waktu itu. Anda bisa melihatnya sendiri. Saya belum membukanya." Dokter Arman memberikan satu amplop berisi hasil tes DNA pada Luca.


Dengan hati yang berdebar dan tangan yang gemetar, Luca membuka amplop itu. Keringat dingin mengucur membasahi tubuhnya. Dokter Arman terus memperhatikan gerak-gerik Luca yang terlihat grogi saat ia hendak membuka amplop itu. Namun, tak lama kemudian, kedua mata Luca melebar.


"Dokter, apakah hasil ini akurat?" tanya Luca yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Apa yang tertulis di sana, Tuan Luca?" Dokter Arman bertanya pada Luca.


"Di sini mengatakan jika hasilnya 99% akurat bahwa Quinn merupakan anak kandungku!" Luca berseru bahagia. Ia tersenyum lebar ketika Dokter Arman menganggukkan kepalanya.


"Itu artinya, Quinn benar putri Anda, Tuan Luca." Dokter Arman terkejut bukan main. Saat Luca memeluknya tanpa izin.


"Ya Tuhan! Dokter Arman, aku memiliki keluarga! Quinn putriku! Dia putriku!" teriak Luca.


"Ah, to-tolong, Tuan Luca. Lepaskan saya. Saya tidak bisa bernapas.


—-


Malam ini seperti yang sudah mereka tentukan. Luca pun sampai di rumah Tiffany pukul 06.00 sore. Setelah Luca sampai di pintu rumah tersebut Luca menghela napas panjang sembari membawa buket bunga mawar merah di tangannya.


“Ya, tunggu sebentar,” ujar Tiffany yang saat ini berada di balik pintu utama rumah tersebut.


“Selamat malam,” ucap Luca ketika Tiffany membukakan pintu untuknya.


Mata Tiffany sempat membola melihat buket bunga yang disodorkan padanya. “Ini ….“


“Ini untuk kau, bunga mawar yang sama cantiknya denganmu,” ucap Luca sembari tersenyum hangat pada Tiffany.


Seketika wajah Tiffany pun bertemu mendapat hadiah seperti itu dari laki-laki yang ada di hadapannya. “Terima kasih,” ucapnya sembari mengambil buket bunga tersebut.


“Ayo masuk kalau begitu,” ujar Tiffany sembari membuka lebar dua lembar pintu rumahnya tersebut.


Setelah itu seperti yang seharusnya, Luca pun masuk ke dalam rumah tersebut. Ia pun duduk di sofa yang ada di sana.


“Aku pikir Anda akan datang 1 jam lagi, Tuan. Maaf jika aku belum bersiap,” ucap Tiffany sembari menggaruk-garuk pelipisnya. Sebuah senyum canggung pun tak pelak mengisi wajahnya.


“Tidak apa-apa, ini bukan salah kau. Aku memang terlalu awal datang ke sini,” sahut Luca dengan santai.


“Baiklah kalau begitu, aku dan Quinn akan segera bersiap. Tolong tunggu sebentar,” ucap Tiffany.


“Tentu saja aku akan menunggu kalian,” sahut luca sembari mengangguk dan tersenyum hangat ke arah Tiffany.


Segera saja Tiffany melangkah dengan cepat masuk ke ruangan yang lebih dalam di rumahnya. Ia pun segera masuk ke kamar Quinn dan mendandani putrinya itu secepat yang ia bisa.


Bahkan ia tak sempat menjawab pertanyaan pertanyaan Quin yang terdengar seperti celotehan-celotehan, menanyakan seputar wahana yang akan mereka mainkan nantinya. Karena setelah malam kemarin, Quinn seperti belum puas. Sehingga Quinn mengajak Luca untuk datang lagi.


Dua puluh menit akhirnya berlalu, kini Tiffany dan Quinn sudah keluar dari ruangan yang lebih dalam terlihat luca sedang memainkan ponselnya saat menunggu kedua wanita tersebut berdandan.


“Maaf Tuan jika menunggu lama,” ucap Tiffany sembari mengancingkan kemeja yang dikenakannya.


“Tidak apa-apa,” sahut Luca sembari bangun dari sofa yang sedari tadi didudukinya. “Ayo kalau begitu mari kita berangkat,” ajak Luca.


"Paman, terima kasih karena sudah mau ke pasar malam lagi. Aku senang kemarin. Tapi rasanya belum puas. Ada banyak permainan yang belum sempat aku coba," terang Quinn.


"Kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu, Quinn. Kau anak yang pintar. Bukankah begitu, Tiffany?" Luca melirik ke arah Tiffany yang membeku. Wanita itu hanya mengulum senyuman.


Pandangan Tiffany menerawang. Teringat saat-saat susah dulu. Tiffany tidak mampu mengajak Quinn untuk bersenang-senang. Wanita itu sedikit lega karena Luca bersedia mengabulkan permintaan Quinn.


"Walaupun permintaan Quinn sederhana, tapi aku tahu jika Quinn juga rindu sosok ayah. Aku tidak buta untuk melihat bagaimana Quinn dan Luca berinteraksi. Tidak munafik jika Quinn menginginkan kasih sayang seorang ayah." Tiffany bermonolog dalam hati. Ia berjanji akan memberikan malam indah untuk Quinn.


"Aku tidak salah. Sepertinya aku harus mendekati Tiffany. Aku ingin membesarkan Quinn dan tidak ingin dia terluka sedikitpun. Putriku, aku tidak tahu jika selama ini kau sudah sangat menderita. Bagaimana aku bisa menebusnya?" Luca membatin sedih.



"Nah bekal untuk makan siang nanti sudah selesai. Ya Tuhan, semoga saja hari pertamaku bekerja berjalan dengan lancar. Ini semua aku lakukan demi masa depanku dan Quinn. Ya, aku harus semangat!" Tiffany selesai menyiapkan sarapan dan bekal untuk makan siang Quinn dan juga dirinya.


Wanita itu segera bersiap memanggil Quinn. Ia harus berangkat bekerja sambil mengantarkan Quinn berangkat ke sekolah. Terlihat Quinn sudah selesai bersiap. Gadis kecil itu tidak ingin merepotkan Tiffany.


"Kau sudah selesai bersiap, Quinn?" tanya Tiffany.


"Sudah, Mom. Aku akan sarapan. Mommy bisa bersiap terlebih dahulu. Jangan sampai Mommy terlambat di hari kerja pertama," jawab Quinn.


"Benar. Aku tidak ingin terlambat di hari pertama bekerja. Maka dari itu aku harus ikut denganmu berangkat. Setelah aku mengantarmu pergi ke sekolah, aku bisa pergi ke perusahaan Tuan Luca." Tiffany mengukir senyuman cerah.


Mulai hari ini Tiffany akan memiliki pekerjaan tetap. Wanita itu benar-benar berharap bisa mencukupi Quinn. Sudah cukup ia harus meminta Quinn terus bersabar.


"Sekarang waktunya aku akan membahagiakan Quinn. Mungkin memang sudah saatnya aku bekerja lebih keras lagi. Sudah menjadi jalanku kalau aku mendapatkan rezeki lewat Tuan Luca," batin Tiffany.


"Mom, kenapa kau masih melamun? Mommy bisa-bisa terlambat lo," tegur Quinn.


"Eh, iya!" Tiffany tersadar.


Wanita itu melesat menembus angin untuk segera berganti pakaian seragam kerjanya. Kemarin Joni sudah memberikan seragam baru untuk Tiffany.


Hari pertama bekerja memang terkadang menjadi momok paling menakutkan bagi siapapun. Sebab mereka harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman yang baru.


Seperti itulah gambaran dari Tiffany saat ini. Wanita itu dengan canggung berjalan di lobby perusahaan sambil terus menghubungi Joni. Tiffany semakin panik ketika Joni tak juga menjawab panggilan teleponnya.


"Bagaimana ini? Mengapa Tuan Joni masih belum juga menjawab telponku?" gumam Tiffany gelisah.


Tiffany sangat cemas. Lantaran Joni belum juga menjawab panggilan teleponnya. Tanpa diduga, Tiffany tidak sengaja menabrak seseorang. Wanita itu terkejut bukan main. Buru-buru Tiffany membalik tubuhnya untuk melihat siapa yang tengah ditabraknya.


"Ma-maafkan aku!" Dengan gagap Tiffany meminta maaf.


Tiffany membungkukkan tubuhnya hendak membantu wanita yang baru saja ia tabrak. Akan tetapi, bukannya disambut uluran tangan Tiffany, wanita itu malah menampar Tiffany dengan keras. Semua perhatian orang-orang tertuju pada Tiffany dan wanita yang ditabraknya.


Plak!


Plak!


"Dasar buta! Lihat sekarang! Bajuku jadi kotor kan!" Wanita itu langsung saja memaki Tiffany.


"Ma-maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja." Tiffany membungkukkan tubuhnya lagi. Tubuh Tiffany bergetar hebat.


"Dasar manusia rendahan! Apa kau pikir bajuku ini murah ha?"


Plak!