
Luca melirik pada Quinn yang sedang menangkupkan kedua tangannya. Tangan mungil itu sudah berada di posisi itu untuk beberapa waktu lamanya. Quinn juga memejamkan kedua matanya.
"Hebat, dia tidak merengek. Biasanya bocah kecil seusianya terlalu banyak menangis dan merengek. Tapi dia?" Luca membatin kagum pada Quinn.
Dua orang itu tak berbicara sama sekali. Keadaan yang sudah berjalan beberapa waktu membuat sekitarnya terlalu sunyi. Joni pun juga berada di sana.
Mereka bertiga bersama-sama menunggu para dokter keluar dari ruang operasi. Mereka semua sedang melakukan tindakan pengambilan peluru yang bersarang di belakang punggung Tiffany.
"Tuan Luca, apa dia tidak makan dulu?" bisik Joni.
Luca kembali melirik Quinn. Benar sekali. Seharusnya Quinn sudah makan. Lirikan Luca berpindah pada jam tangan yang melingkar di tangan. Hari pun sudah gelap gulita.
"Quinn, apa kau tidak lapar?" Luca bertanya dengan nada lembut.
Kedua mata Quinn terbuka. Gadis kecil itu menatap Luca dengan tatapan yang sendu. Melihat tatapan mata dari Quinn membuat luca merasakan sakit hati. Laki-laki itu segera mengalihkan pandangan dari Quinn.
"Tapi aku tidak lapar, Paman Luca." Quinn menjawab dengan nada lesu.
Biasanya Quinn sangat bersemangat ketika mendapatkan pertanyaan seperti ini. Namun tiba-tiba perut Quinn berbunyi. Membuat Luca tak mampu untuk menyembunyikan rasa terkejutnya. Laki-laki itu tersenyum. Melihat ekspresi wajah Quinn yang sangat laku lantaran a terbukti sudah berbohong.
"Mungkin kau tidak lapar. Tapi perutmu terdengar berbunyi. Tidak baik menunda makan. Kau akan sakit nanti. Apakah kau ingin membuat Mommy sedih? Mommy Tiffany akan sedih apabila ketika ia bangun Nanti melihat anak pintarnya ini sedang sakit. Kau yakin ingin membuat Mommy Tiffany sedih?" Luca membujuk Quinn agar bersedia makan malam.
Mungkin saja sejak siang bocah kecil itu juga belum terisi makanan apapun. Mengingat Quinn baru saja diculik. Quinn terlihat berpikir. Tak lama kemudian Quinn tersenyum. Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia turun dari kursinya.
"Ayo Paman. Kita harus segera makan malam. Supaya nanti kalau Mommy selesai operasi aku bisa menunggunya." Quinn kembali bersemangat. Hal itu membuat Luca dan Joni bernapas lega. Tadinya kedua laki-laki itu beranggapakln Quinn akan susah untuk dibujuk.
"Ayo. Paman yang akan mentraktirmu." Luca berdiri dari duduknya.
Setelah itu ia dan Quinn pun berjalan menuju ke kantin rumah sakit. Luca tidak akan membawa Quinn untuk pergi keluar rumah sakit. Sebab Luca yakin jika Quinn tidak akan bersedia.
"Aku akan makan banyak. Supaya nanti kalau Mommy bangun aku bisa terus menemaninya," ucap Quin.
"Makanlah yang banyak. Paman akan membayar semuanya. Kau tahu kalau Paman memiliki banyak uang. Jadi jangan khawatir." Luca menyahut dengan memberikan jempol jarinya pada Quinn. Seolah Luca sedang meyakinkan Quinn bahwa semua akan baik-baik saja.
"Baiklah."
Selama berada di kantin baik Luca maupun Quinn tidak ada yang berisik. Meskipun Luca tidak menyukai makanan kantin, tetapi Luca tidak banyak bicara. Laki-laki itu menikmati makan malam dengan menu yang sederhana.
"Aneh sekali. Seumur hidup aku tidak pernah merasa tidak berdaya seperti ini. Entah mengapa melihatnya bersedih aku menjadi merasa sakit hati. Padahal aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun selain bisnis. Tapi ngomong-ngomong kenapa aku merasa nyaman bersama Tiffany maupun Quinn? Ini terdengar lucu sekali. Namun begitulah adanya," batin Luca dalam hati.
"Oh iya aku baru ingat. Apakah Paman Luca mau ikut denganku? Aku harus pulang mengambil baju momen dulu. Juga dengan baju-bajuku." Quinn baru teringat tentang baju ganti Tiffany dan dirinya sendiri.
Gadis kecil itu melirik Luca dengan perasaan takut. Ia takut apabila Luca menolak permintaannya.
"Bukankah kita bisa membelinya di toko terdekat?" tanya Luca.
"Tidak bisa Paman. Ini sudah pukul 11.00 malam. Kemungkinan Ada banyak toko yang sudah tutup. Aku tidak bisa terlalu bergantung kepada kebaikan Paman. Bagaimana kalau nantinya aku menjadi terbiasa? Sedangkan aku dan Mommy hidup dalam keterbatasan?" jawaban dari Quinn menyinggung perasaan Luca. Akan tetapi Luca tidak berani untuk mengatakannya. Sebab Tiffany menjadi seperti ini juga karena urusan dunia gelapnya.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu untuk mengambil barang-barangmu. Apakah sudah puas dengan hal itu?" Luca mencubit pipi Quinn. Pipi Quinn terlalu menggemaskan.
"Terima kasih, Paman Luca."
Di sisi lain Luca dan Quinn mulai memasuki mobil. Quinn menjadi tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Di mana Di sana ia dan Tiffany setiap hari menghabiskan waktu bersama. Padahal belum satu hari Quinn tidak pulang ke rumah.
Entah mengapa Quinn merasa rindu dengan suasana rumahnya ketika malam hari. Sebab jika di malam hari ia akan dibuatkan segelas susu oleh Tiffany sebelum tidur.
Sesederhana itu hidupnya sehingga Quinn selalu merasa baik-baik saja. Namun untuk pertama kalinya hari ini Quinn merasa ia dan Tiffany akan mati.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Luca.
Laki-laki itu sesekali melirik Quinn yang sedang melamun. Quinn menoleh. Gadis kecil itu tersenyum tipis.
"Aku hanya membayangkan bagaimana kehidupan aku dan Mommy, Paman Luca. Sederhana dan mungkin saja aku selalu hidup kekurangan. Tapi, aku tahu kalau itu merupakan bagian dari jalan hidupku. Selama ini aku sangat jarang sekali menangis. Mungkin ketika aku sakit, barulah aku akan menangis karena rasanya tidak enak. Hari ini pertama kalinya aku sangat takut. Aku takut kehilangan mommy. Jadi, aku menangis keras. Apa aku terlalu cengeng?" Quinn menatap Luca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Luca menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sayang. Wajar saja kau menjadi takut. Sebab selama ini kau hanya hidup berdua dengan ibumu. Lebih baik, kau banyak-banyak berdoa supaya operasinya berjalan lancar dan ibumu baik-baik saja."
"Aku tadi sudah banyak berdoa. Paman kan ada di sampingku. Masa tidak tahu?" Quinn memalingkan wajahnya. Ia kesal pada Luca yang tidak sadar kalau dirinya sudah banyak berdoa.
"Jadi, dia tadi sedang berdoa? Yah, Luca. Apa kau lupa kalau bocah ingusan inilah yang sudah banyak membantumu? Mengapa kau masih saja heran Quinn selalu bisa mengejutkan semua orang?" Luca membatin kagum.
"Mommy Tiffany pasti senang memiliki putri yang pintar seperti dirimu, Quinn. Tapi, boleh aku bertanya? Mengapa sepertinya Tiffany tidak tahu kemampuanmu?" Luca tiba-tiba teringat tentang hal ini.
Ia sangat penasaran. Apalagi kemampuan Quinn bisa diasah dan Luca yakin apabila Quinn akan sukses di kemudian hari.
"Aku sudah berulang kali memberikan isyarat jika aku bisa menggunakan komputer. Hanya saja mommy tidak percaya kalau aku bisa membobol data perusahaan. Aku pikir, sangat jarang orang yang akan mempercayaiku. Jadi aku diam saja sekarang. Mommy juga tidak akan percaya," ungkap Quinn.
Hening melenggang. Quinn pun diam setelah ia tidak mendapatkan balasan apapun dari Luca. Keduanya seolah sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tanpa sadar, mobil sudah berhenti tepat di depan rumah kontrakan Tiffany dan Quinn.
"Akhirnya kita sampai di rumah," kata Quinn.
Keduanya pun turun dari mobil. Quinn dan Luca sama-sama berjalan menuju ke rumah kontrakan Tiffany. Quinn segera membuka pintu dan berlari mencari tas besar milik Tiffany. Gadis kecil itu menyeret tas besar Tiffany dan memberikannya pada Luca.
"Paman, tolong bantu aku kemas baju-baju milik mommy. Aku akan mengemas bajuku sendiri. Kau mau membantuku bukan, Paman Luca?" tandas Quinn.
"Yah, baiklah anak pintar. Kita jangan membuang waktu. Ayo, cepat." Luca menerima tas besar itu.
Quinn kembali berlari menuju ke kamarnya. Sedangkan Luca berjalan masuk ke dalam kamar Tiffany. Laki-laki itu berdehem. Untuk pertama kalinya Luca memasuki kamar seorang wanita.
"Ehem. Permisi. Aku hanya ingin mengambil baju-bajumu, Tiffany. Kuharap kau tidak dendam padaku," ucap Luca.
Laki-laki itu kemudian membuka lemari pakaian Tiffany. Namun tiba-tiba saja dahinya mengkerut. Alisnya pun menukik tajam.
"Ya ampun, ini semua disebut baju? Ah, ini … Terlalu sederhana. Astaga, Luca! Kau terlalu banyak bicara!" Luca menepuk bibirnya sendiri. Ia berusaha keras untuk menahan kata-kata ejekan keluar dari mulutnya.
Sepuluh menit sudah Luca memasukkan baju-baju milik Tiffany. Namun, Luca tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak dan kotak itu terbuka dengan posisi tengkurap. Luca berdecak kesal.
"Haish! Kenapa kau pakai acara jatuh segala?" kesal Luca.
Laki-laki itu menaruh terlebih dahulu tas Tiffany. Kemudian Luca berjongkok untuk mengambil kotak tersebut. Kedua matanya membulat seketika. Bahkan jantung Luca berdetak semakin keras. Luca buru-buru memungut barang yang keluar dari kotak hitam.
"Bukankah ini kalungku? Jangan-jangan? Dia wanita itu? Kalau begitu Quinn?"