
“Maaf Pak, namun tidak masalah untuk itu, dari apa yang saya ketahui jaraknya juga tidak terpaut jauh, oh iya mohon maaf untuk rumah dan tanah Mbah Mirno itu sekarang jadi milik siapa ya Pak” Ucap Azman yang memilih untuk tetap membawa mobilnya dan dia sambil melihat ke arah rumah Mbah Mirno yang penampakan sekarang lebih mirip bangunan tua tidak terawat, berbeda dengan waktu dia datang kesana.
“Azman, karena tidak ada keturunan dari Mbah Mirno jadi rumah dan tanah itu tidak ada lagi pemiliknya, saya dan pihak desa berencana menjadikan tanah itu Fasilitas untuk warga, tapi warga di sini takut karena sering kali ada penampakan penampakan makhluk gaib disana” Ucap Pak Soedirjo.
“Pak, kami berdua ini bisa melihat makhluk - makhluk yang tidak bisa dilihat oleh manusia, dan kami sejak semalam tidak melihat apapun di rumah itu, mungkin karena bangunan itu dibiarkan kosong jadi warga memiliki pemikiran seperti itu, saran saya sebaiknya bangunannya dirobohkan dan dibuat bangunan baru yang bisa digunakan semua orang saja Pak” Ucap Daim ikut berbicara dan ucapan Daim yang terdengar bijaksana ini membuat Azman sedikit kaget, karena biasanya Daim menjadi sosok yang arogan dan juga cuek.
“Benarkah itu, jika kalian bisa melihat makhluk gaib dan tidak melihat apapun di rumah tua itu?” Tanya Pak Soedirjo yang nampak sangat penasaran.
“Apa yang dikatakan Daim itu benar Pak, kami berdua bisa melihat makhluk - makhluk yang tidak bisa dilihat manusia, dan jika memang ada niatan dari penduduk desa sini untuk membangunnya maka saya akan siap membantu dari segi keuangan saja tentunya” Jawab Azman.
“Kami di desa sini tidak memiliki area untuk bermain anak yang luas dan aman, jadi kami berencana membangun untuk hal itu, dan mohon maaf sebelumnya jika untuk hal itu sudah akan dibiayai oleh kepala desa” Ucap Pak Soedirjo.
“Baiklah Pak, jika demikian kami permisi terlebih dulu Pak, dan nanti bada Dzuhur kami akan pamit ya Pak” Ucap Daim sambil berdiri dan lagi - lagi Azman di buat kaget oleh ulah Daim ini yang tidak seperti biasanya.
“Ya Sudah, kalian beristirahat saja dulu ya, nanti sebelum kalian berangkat makan dulu di rumah Bapak ini ya” Ucap Pak Soedirjo.
“Terima kasih Pak” Ucap Daim yang langsung berjalan ke arah Paviliun meninggalkan Azman yang masih duduk.
“Maafkan kawan saya Pak” Ucap Azman sambil mengambil bungkus rokok dan koreknya yang dia taruh sebelumnya di atas meja.
“Mas Azman jangan sungkan ya, saya malah senang dengan kawan mas Azman itu.” Ucap Pak Soedirjo.
“Saya juga pamit dulu ya Pak, ingin selonjoran sebentar” Ucap Azman sambil berdiri.
“Silahkan, dan jika ada perlu apa - apa kabari Bapak saja ya” Ucap Pak Soedirjo.
Azman hanya mengangguk dan dia pun kemudian berjalan menyusul Daim, Azman langsung masuk kedalam Paviliun dan menemukan Daim yang duduk di kursi tamu.
“Azman, kau tidurlah dulu, nanti aku akan membangunkanmu jika sudah mau dzuhur” Ucap Daim.
Azman tidak menjawabnya melainkan dia duduk di depan Daim dan langsung menyalakan kembali sebatang rokoknya lalu menghisapnya perlahan.
“Daim, ada apa sebenarnya?” Tanya Azman.
“Azman, apa maksudmu” Jawab Daim.
“Kau ini sejak kembali dari rumah itu nampak berubah, dan ada yang kau sembunyikan dariku, menurutku tidak sepantasnya kau menyembunyikan apapun dari ku” Ucap Azman.
“Jadi apakah kau akan menunggu disini atau kau akan kembali ke rumah?” Tanya Azman.
“Jika aku menunggu di rumah ini maka jika kau tidak pulang nanti malam akan jadi pertanyaan, sudah aku akan menunggu di mobilmu saja, aku bisa tidur disitu selama kau pergi” Ucap Daim.
“Ya suka - suka kau saja, tapi apakah benar kau tidak akan ikut ke Candi Cetho dan gunung lawu” Ucap Azman.
“Tidak Azman, aku percaya tidak akan ada hal buruk yang menimpa mu” Ucap Daim yang terlihat sangat santai seolah tidak ada beban apapun.
“Oke jika demikian, namun aku harap tidak ada kejutan mu yang membuat manusia menjadi korban” Ucap Azman.
“Azman, manusia itu prioritasku, sudah kau jangan berpikiran aneh - aneh terhadapku, yang jelas jika ada bahaya yang mengancam nyawamu maka aku akan kesana membantumu, mau kau ada di alam manapun aku pasti datang” Ucap Daim berusaha menyakinkan Azman.
“Ya” Jawab Azman singkat sambil mematikan rokoknya dan langsung berjalan menuju kamar.
“Aku sengaja melepas mu sendiri, agar kau lebih bisa belajar membedakan mana siluman dan iblis, jika aku selalu ada disampingmu maka kau tidak akan berkembang, dan maaf jika aku membohongimu soal mustika” Ucap Daim dalam hatinya sambil melihat punggung Azman yang berjalan memasuki kamar.
Setelah Azman tidak terlihat Daim pun kemudian mengepalkan tangan kanannya dan saat dia membuka telapak tangannya, nampak mustika yang sebelumnya masuk ke telapak tangan Azman dan mustika itu perlahan berubah menjadi asap putih dan menghilang dari pandangan Daim.
“Tipuan kecil mustika ini ternyata selain bisa menipu kaumku bisa juga menipumu Azman” Ucap Daim kembali dalam hatinya sambil menarik nafas dalam dalam.
“Azizah, maafkan aku, namun aku akan membiarkan Azman belajar kali ini, aku tidak ingin dia salah mengenali iblis dan siluman lagi” Ucap Daim dalam hatinya kembali.
Azman sendiri sudah terlentang di atas ranjang dan tidak lama kemudian dia pun tertidur dengan pulasnya, Azman sama sekali tidak mengetahui jika mustika yang masuk ke dalam tubuhnya adalah rekayasa dari Daim dan dia meyakini sepenuhnya jika mustika itu bisa melindungi dirinya dari serangan makhluk gaib.
Waktu berlalu dengan cepat dan tepat jam setengah dua belas siang Daim pun membangunkan Azman, lalu keduanya pun kembali berjalan ke Masjid setelah terdengar suara Adzan.
“Azman, kau suka sekali tidur ya, semalam aku datang kau sangat pulas, dan tadi pun tidurmu sangat pulas” Ucap Daim yang berjalan di samping kiri Azman.
“Daim, sejak kejadian di desa tengah hutan maka aku akan selalu memilih untuk tidur selagi ada kesempatan, kita kan tidak tahu apakah nanti malam aku bisa tidur nyenyak atau tidak” Ucap Azman.
“Azman kenapa kau ingin kesana di malam hari?” Tanya Daim.
“Bukankah untuk masuk ke alam mereka lebih baik di malam hari jadi tidak akan menarik perhatian orang lain, kalau siang hari dan tiba - tiba aku hilang pasti orang sekitar akan kaget bukan” Ucap Azman sambil melihat kearah Daim dan mereka pun pas sampai di halaman masjid.