
Azman pun kemudian memasukkan motor tersebut dan memarkirkannya di samping mobilnya, dia tidak langsung masuk ke dalam villa melainkan mengambil beberapa tas pakaiannya dan membawa masuk tas - tas pakaian itu ke dalam villa lalu meletakkannya di kamar yang di gunakan olehnya dan melangkah menuju kolam renang kembali.
“Sungguh cantik sekali istriku itu.” Ucap Azman yang melihat jika Azizah sedang asyik berenang tanpa sehelai benang pun di gunakan olehnya.
“Sini suamiku, airnya enak sangat segar loh.” Ucap Azizah yang melambaikan tangannya ke Azman.
“Iya Sayangku.” Ucap Azman sambil melepas pakaiannya dan tidak menyisakan satu helai pun lalu dia pun melompat ke kolam renang itu.
Azman dan Azizah pun sudah satu minggu tidak keluar dari dalam villa tersebut, dan selama satu minggu juga mereka menikmati bulan madu mereka yang tertunda, dan entah sudah berapa kali Azman menuntaskan kewajibannya sebagai seorang suami.
“Sayangku selesai sarapan nanti, kita jalan - jalan keluar ya, aku penasaran dengan alam sekitar sini dan kehidupan masyarakat sini.” Ucap Azizah yang sedang memasak nasi goreng untuk sarapan mereka berdua dan Azman duduk di meja makan sambil menghisap rokoknya.
“Iya sayangku, aku juga ingin mengunjungi tempat wisata yang ada disini.” Ucap Azman.
“Kira - kira air terjunnya bagus tidak ya, kan semalam hujan cukup deras loh.” Ucap Azizah.
“Ya mungkin airnya akan keruh, dan itu hal normal bukan, toh kita bukan mau berenang disana, nanti kita berenangnya di kolam renang villa ini lagi saja ya sayangku.” Ucap Azman menggoda istrinya.
“Boleh sayang ku, selama kau masih kuat aku siap saja.” Ucap Azizah yang balik menggoda Azman.
Mereka berdua tidak lama kemudian menikmati sarapan mereka dan sesuai rencana mereka, mereka pun langsung meninggalkan villa tersebut dengan menggunakan sepeda motor matik yang di sewa oleh Azman.
Azman membawa sepeda motor matik itu dengan kecepatan hanya dua puluh kilometer per jam karena dia memang ingin menikmati alam, pagi itu suasananya sangat indah dan nyaman, ternyata selama ini di luar villa itu cukup ramai dan ada banyak orang yang berjualan sarapan disana.
Dengan mengikuti penunjuk arah mereka pun sampai di wisata air terjun pertamanya namun mereka tidak bisa menaiki motor mereka untuk sampai di air terjun itu melainkan harus memarkirkan motornya dan berjalan kurang lebih empat ratus meter dan itu bukan pendakian ke dalam hutan melainkan berjalan di galangan sawah.
Azizah yang membawa kameranya pun tampak sangat bahagia, karena kini ada banyak obyek yang bisa dia ambil gambarnya dan dia pun beberapa kali mengambil photo dari Azman dan dirinya sendiri.
Tidak banyak orang yang berjalan menuju air terjun itu karena informasi dari pihak pengelola jika selama musim hujan seperti saat ini pengunjung paling hanya satu dua orang perharinya seperti saat ini baru Azman dan Azizah saja yang datang kesana, sedangkan sisanya adalah penduduk yang memang bekerja di sawah.
Setelah berjalan di tengah sawah itu mereka pun akhirnya sampai di air terjun dan air terjun itu ternyata setinggi kurang lebih lima puluh meter dan ada sebuah danau kecil disana, air dari danau itu pun mengalir ke sebuah sungai yang penuh dengan batu batu besar, aliran airnya juga tidak terlalu deras namun memang airnya sedikit kotor karena hujan semalam.
Azman dan Azizah pun menghabiskan waktu mereka disana, dan karena hari masih pagi sehingga di sana pun masih terasa sangat nyaman untuk mereka berdua, Azman sendiri hanya duduk di atas batu sambil menikmati rokoknya sedangkan Azizah sibuk dengan kameranya.
“Suamiku, aku lapar, dan tidak lama lagi juga masuk waktu shalat dzuhur jadi sebaiknya kita kembali ke villa saja ya.” Ucap Azizah.
“Iya istriku, menurutku juga sebaiknya seperti itu, aku juga sudah lapar nih.” Ucap Azman yang langsung berdiri dan berjalan mendekati Azizah.
Mereka berdua pun kemudian berjalan menuju parkiran dan kembali berjalan di tengah sawah, akan tetapi kini sawah - sawah itu nampak sangat sepi dan tidak ada seorang pun disana.
“Suamiku, apakah ini normal, tadi pagi ada banyak orang di sawah - sawah ini, namun sekarang kenapa tidak ada siapapun, bahkan aku tidak melihat orang lain selain kita.” Ucap Azizah.
“Ini hal normal, karena biasanya jam segini para petani sudah kembali ke rumah mereka, sudah jangan memikirkan hal yang negatif, itu tidak baik.” Ucap Azman sambil terus melangkah.
“Bukan seperti itu suamiku, kan aku baru pertama kali jalan seperti ini.” Ucap Azizah dan Azizah sendiri merasa seakan - akan ada yang mengawasinya.
“Sayangku, aku merasa ada yang mengawasiku dari arah hutan itu, bisakah kita kesana, karena aku tidak bisa melihat siapa dia yang mengawasiku.” Ucap Azizah sambil berhenti melangkah dan Azman pun ikut berhenti lalu melihat ke arah hutan yang di maksud oleh Azizah dan hutan yang ditunjuk oleh Azizah itu persis di atas air terjun yang tadi mereka datangi.
“Aku akan mencari tahu dulu soal hutan itu, jika memang hutan itu bisa di kunjungi maka kita akan kesana, sekarang kita ke parkiran saja dahulu, tadi aku lihat disana ada warung nasi dan mushola, jadi kita bisa mengisi perut kita sekaligus melaksanakan shalat berjamaah disana.” Ucap Azman yang melihat jika ada kabut hitam tipis yang menutupi hutan tersebut.
“Baik suami ku, entah kenapa kabut hitam itu lagi - lagi bisa menghalangi pandangan ku, dunia mu ini benar - benar penuh misteri ternyata.” Ucap Azizah.
“Iya sayang ku.” Ucap Azman yang kembali melanjutkan perjalanannya dan demikian juga dengan Azizah.
Mereka terus berjalan dan sesampainya di area parkir tempat yang mereka tuju adalah rumah makan kecil satu - satunya yang ada disana dan secara kebetulan rumah makan itu mempunyai lesehan yang menghadap ke arah gunung yang mereka ingin tuju.
“Bu, kami pesan karedoknya dua ya dan jangan pedas ya.” Ucap Azizah ke ibu warung setelah mereka duduk di area lesehan tersebut.
“Baik sebentar ya, ibu buatkan.” Ucap Ibu warung tersebut.
“Bapak belum pernah melihat kalian berdua, apakah kalian wisatawan.” Ucap Seorang pria sepuh yang juga ada di area lesehan tersebut dan sedang menikmati secangkir kopi dan dari baunya Azman tahu jika itu adalah kopi tanpa gula seperti yang biasa dia minum.
“Benar Pak, kami dari jakarta dan kebetulan sedang berlibur kesini.” Ucap Azman dengan sangat ramah.