
Azman tidak mematikan mobilnya karena dia belum mengetahui situasinya, dia hanya memarkirkannya lalu turun dari dalam mobilnya itu lalu berjalan menuju ke jembatan.
Jembatan itu sudah rusak parah, dan benar - benar sudah terputus sepenuhnya.
“Sungai ini ternyata sangat dalam, dan tidak memungkinkan untuk menyebranginya tanpa jembatan, apakah ada jembatan lain untuk menuju ke ujung.” Ucap Azman yang berbicara sendiri sambil melihat ke ujung jembatan dan dia melihat para penduduk desa yang juga sedang melihat ke arahnya.
Azman mengambil ponselnya dan melihat jika masih belum ada sinyal di ponselnya itu sehingga dia pun melangkah kembali ke mobilnya lalu masuk dan mengambil gps navigasi garmin miliknya.
Azman langsung mencari jalan lain melalui gps navigasinya dan ternyata ada jalan lain yang di tunjukkan oleh gps navigasi tersebut.
“Baiklah, mari kita lihat jalan ini, meskipun jauh namun harus aku coba cari tahu terlebih dahulu.” Ucap Azman sambil meletakkan gps navigasinya dan mulai memutar mobilnya itu, dan tidak lama kemudian dia pun teringat dengan janjinya, janji dengan Pak Deni yang akan mengantarkan alat - alat pertukangan modern sehingga dia pun mengambil telepon seluler satelitnya lalu menghubungi Pak Deni.
“Assalamualaikum, mohon maaf dengan siapa apakah ada yang bisa saya bantu.” Ucap Pak Deni memulai percakapan telepon itu karena nomor telepon yang di gunakan Azman berbeda sehingga Pak Deni tidak mengetahui siapa yang menghubunginya.
“Walaikumsalam, Pak Deni ini saya Azman, mohon maaf saya ingin menginformasikan jika sepertinya pengiriman alat - alat pertukangan modern itu belum bisa di kirimkan pagi ini, karena desanya kini sudah hancur akibat dari gempa semalam, dan bagaimana kondisi desa anda Pak.” Ucap Azman.
“Di desa kami juga banyak yang menjadi korban Pak, bangunan banyak yang rubuh akibat gempa bumi, bahkan banyak jembatan yang kini tidak bisa di lintasi, saya dari tadi coba menghubungi Bapak namun nomor Bapak di luar jangkauan terus, tadinya saya hendak menginformasikan jika saat ini untuk menuju ke lokasi Bapak itu mustahil di lakukan, akses ke sana terputus Pak.” Ucap Pak Deni.
“Jadi demikian, oke tidak masalah, yang penting tolong disiapkan saja dahulu, jika perlu di simpan di penginapan Bapak saja terlebih dahulu, nanti berapa biayanya maka di kirimkan ke sini saja pak, dan saya minta tolong di belikan bahan bangunan untuk membangun banyak rumah warga Pak.” Ucap Azman.
“Pak Azman, apakah anda akan membangun rumah penduduk yang rubuh karena gempa bumi.” Ucap Pak Deni.
“Rencana saya demikian Pak, tidak mungkin saya berdiam diri sedangkan saya masih mampu melakukannya, toh uang bisa di cari tapi kebahagiaan dari para penduduk itu susah di carinya Pak.” Ucap Azman.
“Pak Azman, saya rasa lebih baik anda membangun rumah tahan gempa saja sekalian Pak, saya ada kenalan orang yang bisa membangun rumah tahan gempa dan biayanya pun tidak terlalu mahal.” Ucap Pak Deni.
“Jika demikian silahkan anda hubungi, sampaikan jika saya akan membangun paling sedikit dua ratus rumah tahan gempa untuk warga, berapapun biayanya silahkan di kirimkan saja tagihannya kepada saya ya.” Ucap Azman.
“Baik Pak, saya akan menghubunginya terlebih dahulu, semoga bisa segera di laksanakan pembangunannya.” Ucap Pak Deni.
“Terimakasih atas bantuan anda ya Pak.” Ucap Azman.
“Pak Azman, anda dimana saat ini, gempa semalam sangat dahsyat dan saya coba hubungi anda namun tidak bisa - bisa, maaf saya lupa menghubungi di nomor yang ini.” Ucap Pak Jaja yang terdengar sangat khawatir dengan kondisi Azman.
“Alhamdulilah saya baik - baik saja Pak, namun tidak dengan penduduk desa tempat saya berada saat ini, anda posisi dimana Pak?.” Ucap Azman.
“Saat ini saya masih di jalan ke arah kabupaten Ciamis Pak, saya baru selesai membagi tugas untuk anak buah saya karena ada banyak sekali bencana di selatan pulau jawa ini.” Ucap Pak Jaja.
“Itu kebetulan sekali, bisakah anda merubah tujuan dan bertemu saya di Kabupaten Pangandaran, ada satu desa yang semua bangunan rumahnya hancur dan juga jembatan penghubungnya roboh Pak, ini saya dan Istri saya juga terpisah, saya sedang mencari jalan alternatif untuk ke lokasi istri saya.” Ucap Azman.
“Pak Azman, berikan lokasinya, saya akan segera kesana dan mengirim orang - orang saya untuk lebih dulu kesana.” Ucap Pak Jaja.
“ Baik segera saya kirimkan lokasinya, oh ya apakah anda ada kenalan jasa konstruksi yang bisa membangun jembatan darurat dengan cepat, saya dengar jika ada banyak jembatan yang juga roboh Pak.” Ucap Azman.
“Mengenai hal itu anda jangan khawatir, saya sudah mendapat informasi jika pemerintah juga saat ini sudah turun tangan untuk membuat jembatan darurat itu pak, dan meskipun yang di utamakan adalah jalan provinsi namun saya yakin jembatan penghubung desa juga akan di perbaiki Pak.” Ucap Pak Jaja.
“Oke Pak, ya sudah anda dan tim langsung kesini saja ya.” Ucap Azman sambil menghentikan mobilnya karena dia akan mengirimkan lokasi desa ke Pak Jaja.
“Baik Pak.” Ucap Pak Jaja dan panggilan telepon itu pun di akhiri oleh Azman, Azman pun kemudian mengirimkan lokasi dari balai desa, karena dia tahu jika warga desa itu lebih utama sedangkan untuk bangunan akan dia urus nanti belakangan dengan Pak Deni.
Azman yang telah mengirimkan lokasi balai desa pun langsung menjalankan kembali mobilnya, dan beruntung untuknya membawa mobil Jip karena Gps Navigasi Garmin miliknya itu menunjukkan jalan yang menuju hutan.
Azman keluar dari jalan Aspal dan dia berbelok ke arah kanan seratus meter setelah lokasi masjid, dan kini dia memasuki jalan yang merupakan jalan tanah berbatu, yang hanya muat satu mobil saja, sehingga jika ada kendaraan lain maka akan sangat susah.
“Semoga saja jalan ini bisa di lalui, sungguh dalam jurang sebelah kiri ini ternyata.” Ucap Azman sambil menjalankan mobilnya perlahan dan dengan penuh kehati - hatian, dia tidak ingin mengambil resiko apapun karena memang kini dia mengendarai mobil yang di sebelah kirinya adalah jurang yang dalam sedangkan sebelah kanannya adalah perkebunan milik warga desa.
Azman mengenali perkebunan itu karena dia sudah berjalan kaki di tengah perkebunan tersebut dan dia pun mengetahui jika jalan itu menuju ke hutan atau lebih tepatnya ke arah gunung besar yang ada di kawasan sumber mata air.
Mobil Jip itu pun terus melaju dengan kecepatan yang hanya tiga puluh kilometer per jam saja, meskipun pelan namun Azman yakin jika dia bisa sampai di tujuannya, dia sadar jika istrinya baik - baik saja namun dia tidak yakin dengan kondisi dari sebagian besar penduduk desa itu.