My Fantasy Hero

My Fantasy Hero
Part 26: Sebuah kenakalan


Tiba-tiba, Becca dan gengnya datang ke kelas.


"Loh, kok Bapak memijit Kieranza?" tanya Qilla heran.


"Mungkin karena tadi Kieranza yang menggendong Felix," ucap Becca.


"Apaaa? Kieranza menggendong Felix?" guru olahraga terkejut.


"Iya, Pak. Tadi Felix lemas di jalan, lalu Kieranza menggendongnya sampai ke sekolah," floey menjawab.


"Oh, baiklah. Karena Kieranza sudah berbuat baik pada Felix, aku akan memberikanmu nilai penuh. Dan untuk pembelajaran berikutnya, kamu tidak perlu ikut olahraga. Kamu bisa istirahat di sini saja," kata guru olahraga.


"Lah, kok gitu, Pak?" Kieran terkejut dengan keputusan tersebut.


"Kamu tidak mau? Yaudah..." kata guru olahraga, namun terputus oleh Kieranza.


"Mau, mau, Pak!" Kieranza cepat-cepat menanggapi.


"Sudah, yang lainnya cepat ganti baju dan segera ke lapangan," guru olahraga meninggalkan kelas.


"Baik, Pak," floey dan murid lain menjawab serentak.


Kemudian, Floreylla pergi ke toilet untuk segera berganti baju.


"Sudah selesai," Floreylla mencoba membuka pintu toilet, tetapi tiba-tiba air membasahi tubuhnya dengan tiba-tiba.


"Gbyurrr!" Floreylla basah kuyup terkena air yang tumpah dari atas. Ternyata, geng dari Becca telah memasang jebakan di luar toilet dan membuat bajunya basah kuyup.


Air yang tumpah membuat rambutnya terurai dan mencetak pola tubuhnya yang sedikit basah.


"Ahaha, ada yang baru mandi nih," ucap seorang gadis berkuncir sambil tertawa.


"Ahaha, jam segini baru mandi. Becca, ayok kita cepat ke lapangan nanti dimarahin bapak," kata gadis berkuncir tersebut.


"Yaudah, ayok," Becca dan gadis berkuncir lainnya meninggalkan toilet.


Floreylla merasa cemas dan mencoba menenangkan dirinya agar tidak menangis. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengenakan kembali seragamnya yang basah. "Yaudah, lah. Aku pakai seragam saja," gumam Floreylla sambil mengganti baju di dalam bilik toilet.


Kemudian, di kelas, bel berbunyi dan Floreylla masuk ke dalam kelas sambil menaruh baju olahraga di atas mejanya.


"Loh, kok masih pakai baju olahraga?" tanya Kieran heran.


"Bajunya basah," jawab Floreylla dengan sedih.


"Loh, kok bisa?"


"Emm..." Floreylla membisu dan menundukkan kepalanya.


"Pasti kamu dikerjain Becca kan?" tanya Kieran dengan kesal.


"Ish, orang itu. Yaudah, pakai aja baju aku," Kieran mengambil baju dari tasnya dan memberikannya pada Floreylla.


"Nggak usah," Floreylla menolak.


"Nih, pakai aja. Nanti kamu bisa dimarahi guru. Udah, cepetan ganti," desak Kieran.


"Ya, yaudah. Makasih, Kieran," Floreylla mengucapkan terima kasih dan kembali ke toilet untuk mengganti baju.


Setelah selesai mengganti baju dan menaruh seragamnya di atas meja, Floreylla langsung menuju lapangan.


"Floreylla, lama banget," komentar Felix.


"Maaf, tadi ada masalah," jawab Floreylla dengan malu-malu.


"Masalah apa?" tanya Felix sambil menatapnya.


"Deg-dug," tatapan Felix lagi-lagi membuatnya merasa canggung dan jantungnya berdegup kencang.


"Hei, kumpul-kumpul cepat kesini!" panggil guru olahraga.


"Yaudah, ayok," Felix menarik tangan Floreylla sambil mengajaknya pergi ke tempat berkumpul.


Setelah pembelajaran selesai, Floreylla mengajak Felix dan Kieran untuk makan di kantin. Mereka memesan tiga mangkuk bakso beserta teh manis dingin.


Kieran tampak menyendok sambal dan menuangkannya ke dalam mangkuk Felix. Felix hanya mendelik dan dengan iseng melakukan hal yang sama pada mangkuk Kieran.


"Biar lo nggak pusing!" ujar Felix dengan senyuman nakal.


Floreylla hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka. Sambil memegangi kepalanya yang mulai pusing, dia mencoba untuk menikmati makanannya.


Sambil memandangi wajah Floreylla, Kieran tiba-tiba melihat sesuatu yang aneh di jidatnya yang tertutupi oleh poni.


"Florey, itu darah?" tanya Kieran sambil menunjuk jidatnya.


"Hah, mana?" Floreylla bingung dan mencoba meraba jidatnya.


"Itu, di jidat kamu," ucap Kieran sambil mencoba melihat goresan di jidat Floreylla. Namun, sebelum dia bisa melihat dengan jelas, kepala Floreylla langsung ditarik oleh Felix. Dengan tangan dinginnya, Felix melihat goresan luka di dahinya yang mulai mengering dan terdapat sedikit darah.


"Kapan kamu terluka?" tanya Felix dengan kekhawatiran.


Floreylla merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut dan segera beranjak dari kursinya.


"Aku ke kamar mandi dulu," ucapnya terburu-buru sambil melenggang menjauh.


Namun, karena terburu-buru, Floreylla tidak sengaja bersenggolan dengan seorang lelaki di tengah perjalanan. Dengan refleks yang cepat, lelaki itu menangkap tubuh ringkih Floreylla untuk mencegahnya jatuh.


...Bersambung...