
Floey memutuskan untuk membeli notebook di supermarket terdekat karena toko tempatnya biasa berbelanja telah tutup. Saat hendak pulang, dia tidak sengaja bertemu dengan bosnya, Hendery.
"Floreylla!" panggil Hendery.
"Pak pengelola kafe!" sapa Floey.
"Haha, panggil saja saya Pak Hen," kata Hendery.
"Baik, Pak Hen."
"Dilihat-lihat dari kejauhan, kamu terlihat melamun terus."
"Hah, tidak."
"Mau kemana? Kelihatannya kamu buru-buru banget."
"Oh, tidak, saya mau beli buku."
"Oh, begitu."
"Iya, Pak, saya permisi jalan duluan."
"Oh, iya, silahkan."
Floey melanjutkan perjalanan, sementara Pak Hen hanya melihatnya dari kejauhan.
"Dia tumbuh dengan baik," pikir Hendery sambil melengkungkan senyum kecil, melihat gadis itu memakai sweater pink yang agak kebesaran berjalan menjauh.
Setelah membeli buku, Floey memutuskan untuk segera pulang. Sesampai di rumah, dia memberikan notebook itu kepada Zeora.
"Ini bukunya," ucap Floey seraya memberikan notebook tersebut.
"Lama banget belinya," komentar Zeora.
"Tadi belinya di supermarket karena toko biasa tutup."
Setelah mandi, Floey memutuskan untuk merebahkan diri di atas kasur.
"Huhh," ia menghela nafas. "Ouh, iya, Felix," tambahnya sambil beranjak dari kasur dan bersiap-siap pergi keluar.
Di toko Crispy Chicken...
"Floey, kamu mau kemana? Sudah rapih?" tanya Zeora.
"Mau jenguk Felix di rumah sakit."
"Felix? Ouh, yasudah, ini ada titipan dari ibu. Semoga lekas sembuh," ucap Zeora sambil memberikan sesuatu kepada Floey.
"Baiklah, aku pamit," kata Floey sambil melangkah keluar.
Sesampai di rumah sakit dan berada di depan kamar di mana Felix dirawat...
"Emmm..." gadis dengan rambut terurai dan pita dikepalanya merasa gugup berdiri di luar kamar rawat tempat Felix berada.
"Nak!" seseorang menepuk pundaknya.
"Hahh?" Floey terkejut. "Hallo, Tante!" sapa Floey dan menyapanya.
"Kamu teman Felix?" tanya Tante.
"I-iya, Tante."
"Cantik!" gumam Tante tersenyum.
"Hah?" Floey heran.
"Ouh, silahkan masuk."
"Baik, Tante," kata Floey sambil masuk ke dalam kamar.
"Felix, ini ada bidadari," ucap Tante sambil memperkenalkan Floey.
"Hah?" Floey terkejut.
"Floey," panggil Felix.
Lelaki yang memiliki tubuh atletis itu terlihat terbaring dengan wajah tampannya yang pucat.
"Tante, ini ada titipan dari ibu saya," ucap Floey sambil memberikan paper bag yang berisi titipan dari ibunya.
"Apa ini? Duh, jadi nggak enak, Tante," tercium aroma sedap dari dalam paper bag itu. Tante membuka kantongnya dan tersenyum lebar saat melihat apa yang ada di dalamnya.
Floey duduk di sofa dekat jendela,
"Duh, makasih ya. Tapi Felix nggak boleh makan yang pedas dulu, dia masih sakit. Jadi, Tante aja yang makan. Harum banget ini," ucap Tante dengan penuh rasa terima kasih.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan seorang suster masuk membawa makanan. Suster itu meletakkan nampan makanan di atas meja dan memberi salam.
"Selamat sore, Tante Felix. Ini makanan untuk Felix."
"Ouh, sekarang waktunya makan," kata Tante Felix dengan senyum lembut.
"Iya, Bu. Saya permisi," suster menaruh makanan di meja dan pergi dengan senyuman ramah.
Felix terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat dan lemah. Dia menghela nafas, terlihat lesu dan kurang bersemangat.
"Kenapa kamu nggak mau makan, Nak?"
Felix menggelengkan kepala dengan lesu. "Nggak, makanan rumah sakit selalu nggak enak."
Tante Felix menggenggam tangan Felix dengan penuh kelembutan. "Tapi kamu harus makan, Nak. Kamu masih sakit, nggak boleh makan pedas dulu."
Felix terlihat ragu, tetapi dia mengeluarkan senyum kecil saat melihat Floey duduk di sampingnya. "Baiklah, aku makan kalau disuapi Floey," jawab Felix dengan cepat.
Floey terkejut mendengar permintaan itu. Dia tidak pernah membayangkan dirinya memberi makan Felix.
"Uhuk, uhuk," Floey sedang meminum air itu terasa salah arah dan membuatnya tersedak.
"Floey, kamu baik-baik saja?" Tante Felix khawatir.
"i iya tan" ucap floey menahan batuk
Tante Felix tersenyum lembut. "Baiklah, baiklah, Floey. Tante minta tolong suapi anak manja ini, boleh?"
Floey mengangguk dengan wajah sedikit memerah. "B-Boleh, Tante."
Felix mengernyitkan keningnya, tetapi senang melihat Floey dengan perhatian yang tulus. "Ih, manja. Tante tuh yang nggak adil, makan ayam sendirian aja nggak bagi-bagi," kata Felix sambil merajuk.
Floey tertawa kecil mendengarnya.
"Udah, kamu makan aja itu buburnya, nanti keburu dingin... emm, enak banget kayaknya," ucap tantenya sambil mencoba menahan tawa.
"Ish," gumam Felix,
Felix merajuk karena ayam crispy yang dibawa oleh Floey dimakan oleh tantenya sendirian, dan hal itu membuat Floey ingin tertawa. Dia tersenyum dan dengan penuh kelembutan, dia mulai menyuapi Felix.
"Kenapa? Ketawa mah, ketawa aja, nggak usah ditahan-tahan," goda Felix.
"Haha, sejak kapan kamu seagresif ini?" tanya Floey, memperhatikan wajah Felix.
"Sejak aku kenal kamu!" jawab Felix dengan nada ketus, tetapi senyum kecil tersembunyi di balik kata-katanya.
Floey terdiam sejenak, terkejut mendengar Felix.
"Sudahlah, aku makan sendiri aja," kata Felix sambil merebut mangkuk bubur dari tangan Floey.
Floey menatap Felix dengan tatapan penuh kejutan dengan tatapan gemas.
"Tante, felix nya marah nih" teriak Floey dengan nada canda.
Tante Felix yang duduk di sebelah Felix mencoba menenangkan suasana. "Felix, jangan marah begitu. Floey datang dengan niat baik."
Felix masih terlihat kesal dan tidak menghiraukan ucapan Floey. Dia terus memakan buburnya dengan wajah yang cemberut.
Akhirnya, Floey memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut. "Kalau begitu, saya pamit, Tante. Takut kemalaman pulangnya," ucap Floey dengan suara lembut.
Tante Felix mengangguk dengan penuh pengertian. "Ya, hati-hati di jalan, sayang."
Felix merasa kesal melihat Floey pergi. Dia menyadari bahwa sikapnya telah membuat Floey merasa tidak nyaman. "Dia beneran pulang," gumam Felix dengan wajah yang penuh penyesalan.
Tante Felix melihat ekspresi Felix yang kesal dan mencoba mengingatkannya. "Huh, udah pergi dianya, males sama sikap kamu."
"Ish," Felix menggigit sendoknya dengan geram, merasa frustrasi dengan dirinya sendiri.
"Makanya, jadi orang jangan ambekan. Kamu harus belajar menghargai orang lain," tegur Tante Felix dengan tegas.
"Ih, Tante rese banget sih," gerutu Felix, tetapi dalam hatinya dia tahu bahwa Tante Felix hanya mencoba membuatnya menyadari kesalahannya.
"Tuh kan, marah lagi. Kamu ini demam atau darah tinggi, kerjaannya marah-marah mulu," ucap Tante Felix dengan nada menggoda.
"Apaan sih!" Felix melempar pandangan sinis ke arah Tante Felix.
...Bersambung...