My Fantasy Hero

My Fantasy Hero
Part 11: Ayah felix


Floey keluar dari kamar mandi perempuan dan berjalan di koridor sekolah. Namun, ia melihat geng Becca yang sedang asik bersenda gurau, membuatnya merasa sedikit takut.


"Ahaha!"


"Ahaha!"


Mereka terlihat tertawa lepas dengan omongan mereka.


"Sebaiknya aku segera pergi menjauhi mereka," pikir Floey dalam hati sambil mempercepat jalannya.


"Eits, buru-buru banget, mau kemana sih kamu?" tanya salah satu dari mereka sambil menarik belakang baju Floey.


"Sepertinya dia mau menggodain Felix lagi!"


"What's berani-beraninya kamu?" tanya Becca sambil menyudutkan Floey ke dinding tembok.


"Maksud kalian apa?" tanya Floey dengan ketakutan.


"Masih nanya lagi," ucap salah satu teman Becca.


"Hh, Floey, sebaiknya kamu menjauhi Felix dan berhenti menggodanya," kata Becca dengan nada tegas.


"A-aku nggak pernah menggodanya, aku hanya ingin berteman saja dengan-nya," bela Floey.


"Alah, mau temenan ujung-ujungnya jadian juga kan?" goda gadis berkuncir pendek.


"Sudahlah, Becca, kita beri pelajaran saja," kata Becca.


"Iya, Becca."


"Ssst, jangan keras-keras dong, nanti kedengaran," ucap Becca sambil menarik ikat rambut Floey, dan pada saat itu rambut panjang Floey terurai.


"Sini, aku bisikin, kamu itu bukan siapa-siapa di sini! Kalau kamu nggak mau kita gangguin, lebih baik kamu secepatnya menjauhi Felix," bisik Becca.


Becca mendorong Floey hingga terjatuh.


"Ugh, kesian banget sih lo! Makanya turutin perkataan Becca," ucap gadis berkuncir dengan rambut pendek.


"Memangnya aku siapa harus menuruti semua perkataannya? Seharusnya kalian, kan anak buahnya," balas Floey dengan penuh keberanian.


"Apa?"


Plakk! Salah satu temannya menampar Floey.


"Aww!"


"Sakitnya sini, mau aku tambahin," sela Becca sambil mengarahkan tangannya ke wajah Floey.


Tiba-tiba, seorang lelaki berumur 40-an muncul dari mana dan menahan tangan Becca.


"Berhenti! Apa yang sedang kalian lakukan?" bentak lelaki tersebut dengan suara lantang.


"Ih, lepasin, nanti aku bilangin Papah!" Becca berusaha melepaskan tangannya dari orang yang muncul tiba-tiba.


Floey, yang masih terkejut oleh situasi tersebut, menatap orang tersebut dengan perasaan campur aduk.


"Kamu nggak terluka?" tanya orang itu sambil menatap Floey dengan kekhawatiran.


"Ayo, girls, cabut!" seru Becca, berusaha mengalihkan perhatian.


"Tunggu!" ucap orang itu, memberhentikan langkah Becca.


"Apaan sih, Om? Urusin aja tuh anaknya!" bentak Becca dengan nada marah.


"Floey," ucap Felix dari kejauhan, lalu berlari ke arahnya.


"Felix!" panggil Floey dengan suara lega.


"Ayah."gumam felix yang terkejut dengan kehadiran Zergan


"What's Ayah? Om, saya minta maaf. Maaf, Om, maaf," ucap Becca dengan nada penyesalan.


"Sini, ikut saya," ucap orang itu, yang ternyata adalah Ayah Felix, sambil menarik tangan Becca menuju ruang guru.


Felix, yang masih terkejut dengan kejadian ini, menggendong Floey secara mendadak. Sontak, ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata apa pun karena kekhawatiran yang begitu besar. Felix memutuskan untuk membawa Floey ke UKS untuk memeriksa kondisinya.


"Maaf, Om, saya nggak sengaja," kata Becca dengan nada penyesalan.


Ayah Qilla, yang merupakan wakil kepala sekolah, sedang mengadakan rapat dengan Kieranza, seorang calon ketua OSIS. Namun, mereka segera menghentikan rapat mereka saat Becca masuk ke ruangan.


"Pak Zergan, silahkan duduk," ucap Ayah Qilla, memberikan tempat untuk Becca.


"Maafkan saya karena telah mengganggu rapat kalian," ucap zergan dengan tulus.


"Becca? Ngapain kamu di sini?" ucap Kieranza dengan heran.


"Aanu!" Becca menjawab dengan singkat.


"Siapa kamu, temannya?" tanya Zergan, ketua dewan sekolah.


"Ini, Pak, perkenalkan ini Kieranza, salah satu orang yang mencalonkan dirinya sebagai ketua OSIS di sekolah ini," jelas wakepsek


"Oh, kamu ingin jadi Ketua OSIS di sini! Kamu tahu salah satu syarat agar bisa menjadi ketua OSIS yang baik dan bermutu?" tanya Ayah Felix dengan serius.


"A-apa, Pak?" Kieranza bertanya penasaran.


"Salah satunya adalah melindungi semua siswa dari kejahatan bullying," jawab Zergan dengan tegas.


Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan seseorang masuk ke dalamnya.


"Baiklah, kalau begitu," kata Kepala sekolah sambil menutup teleponnya. "Ehhh, ada Pak Zergan, apa kabar, Pak?" sambutnya sambil bersalaman dengan tamu yang baru datang.


"Papah!" seru Becca.


"Becca, sedang apa kamu di sini?" tanya Ayah Becca.


"Oh, ini putri Anda, ternyata?" tanya Zergan.


"I-iya, Pak, ini putri kesayangan saya," jawab Ayah Becca dengan bangga.


"Pak, saya permisi ke kelas," ucap Kieranza sambil pergi keluar dari ruangan.


Sementara itu di Ruang UKS...


Sampai di UKS, Felix meletakkan Floey di tempat tidur.


"Felix, seharusnya kamu nggak usah gendong aku seperti ini?" ucap Floey dengan wajah penuh kebimbangan.


"Memangnya kenapa?" tanya Felix dengan rasa penasaran.


Floey terdiam, teringat perkataan Becca yang menyuruhnya menjauhi Felix. Hatinya bergejolak, tak tahu apa yang seharusnya dia katakan.


"Tidak," Floey menjawab terbata-bata.


"Floey, bilang sama gue, Becca ngelakuin apa sama lo?" tanya Felix dengan tatapan tajam.


"Tidak, dia tidak melakukan apapun," Floey mengalihkan pandangannya.


"Floey, jawab jujur," pintanya dengan nada tegas.


"Tapi kamu jangan marah," Floey memperingatkan.


"Iya, apa?" Felix menatap Floey dengan penuh ketegangan.


"Dia nyuruh aku untuk menjauhi kamu."


"Memangnya kenapa lo harus menjauhi gue?" Felix semakin penasaran.


"Aku nggak tahu, mungkin --"


"Sudah, jangan dibahas di sini.biar gue mengobati luka lo," kata Felix dengan suara terdengar kesal.


"Iya, maaf. Kamu marah?" Floey bertanya dengan khawatir.


Felix tidak menjawab perkataannya. Dia terdiam, sambil mengobati luka Floey. Wajahnya terlihat sangat kesal dan penuh dengan pertanyaan yang tak terucap. Meskipun Floey merasa bersalah dan ingin meminta maaf, dia juga merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang harus diungkap.


Proses penyembuhan luka Floey berlangsung dalam keheningan. Felix dengan cermat membersihkan luka dan mengoleskan obat dengan lembut. Meskipun Floey merasakan sedikit sakit, dia juga merasakan adanya kehangatan dari sentuhan Felix yang berusaha menyembuhkannya.


...Bersambung...