My Fantasy Hero

My Fantasy Hero
Part 23: Gemesin!


"Eh, sudah-sudah, jangan berantem di sini, ayok, nanti bisa telat," kata Floey sambil menarik tangan Felix dan Kieran.


Setelah pembelajaran selesai, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak. Namun, Felix memiliki rencana lain.


"Floey, ayo kita ke Rooftop," ajak Felix dengan penuh semangat.


"Ngapain?" tanya Floey penasaran.


"Ikut saja!" seru Felix sambil menarik tangan mungil Floey.


Sesampai di Rooftop, mereka duduk bersama di tempat yang tenang.


"Ayok, duduk di sini," kata Felix mempersilahkan.


"Baiklah," sahut Floey sambil duduk dengan nyaman.


Felix membuka kotak bekal dari Zeora, yang berisi satu porsi salad buah yang segar.


"Sendoknya?" tanya Floey, mencari sendok untuk mereka berdua.


"Oh iya, ini," kata Felix sambil memberikan satu sendok.


"Eh, bukannya ini buat kamu sendiri? Kenapa bawa sendoknya dua?" tanya Floey heran.


"Nggak tahu, kan yang buat bekalnya ibu kamu. Yasudah, ayo kita makan berdua," kata Felix dengan senyuman hangat.


Floey teringat sesuatu yang dia lihat kemarin.


"Oh ya, aku kemarin nggak lihat ibu kamu di rumah sakit," ucap Floey, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Felix terdiam sejenak, memegangi sendoknya, dan menatap ke bawah, di mana terlihat kakinya yang memakai sepatu.


"Bunda aku udah di langit duluan," ucap Felix dengan suara perlahan, mengungkapkan kesedihannya.


"Hah? Maaf, Felix, aku nggak bermaksud—" Floey terkejut.


"Iya, nggak apa-apa, tenang aja," kata Felix dengan senyuman pahit, mencoba menghibur Floey yang khawatir.


Floey memutuskan untuk diam, tidak menanyakan alasan mengapa bundanya Felix meninggal, karena ia tahu kalau Felix akan merasa sedih.


Tiba-tiba, Kieran mendekati mereka dengan wajah polosnya yang menggemaskan.


"Ehhh, nggak diajak-ajak mau ke sini," ucap Kieran sambil mendekati Floey dan Felix.


"Kieran, sini makan salad buah," ajak Floey dengan ramah.


"Baiklah!" seru Kieran dengan antusias, langsung duduk di sebelah Floey, dan membuka mulutnya dengan lebar.


"Kenapa kamu begitu?" tanya Floey heran.


"Mau, tapi disuapi kamu," kata Kieran dengan nada manja.


"Ish," gumam Felix dengan rasa jijik.


"Baiklah, buka mulutnya," kata Floey sambil menyendok salad buah.


"Aaa," Kieran membuka mulutnya dengan senang.


Felix tidak tahan melihat tingkah mereka. "Amm," dia langsung menyuapi Kieran dengan sedikit kesal, meskipun dengan sedikit rasa gemas.


"Hah?" Floey tampak bengong. "Ahaha, kalian gemesin banget deh."


"Wleee!" Kieran tiba-tiba memuntahkan makanannya. "Nggak enak!"


"Apa!" Felix melongo.


"Nggak enak? Kalau nggak suka, nggak usah minta," Floey merajuk.


"Teganya lo bilang makanan ini nggak enak, emm ini enak, tahu buatan ibunya Floey," Felix melirik Kieran dengan pandangan tajam.


"Apa! Maksudku nggak enak karena dia yang menyuapiku!" Kieran membela diri.


"Sudahlah, sana," Floey membuang muka.


"Floey, jangan marah, aku hanya bercanda," kata Kieran mencoba meredakan suasana.


"Jangan dengarkan dia," Felix meledek Kieran dengan senyuman.


"Maksud lo apa!" Kieran merasa marah.


"Suttt, diam baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi kalian harus makan salad ini sampai habis," kata Floey dengan tegas.


"Lah, gampang," ucap Kieran dengan muka cemberut.


"Suap suapan!" seru Floey dengan semangat.


"Apaaa!" Felix berteriak. "Lah, kenapa harus aku? Aku kan nggak salah apa-apa."


"Kalau nggak mau, nggak apa-apa," kata Floey sambil berdiri.


"Eits, iya-iya, baiklah," kata Felix sambil menahan tangan Floey.


Mereka terpaksa saling menyuapi satu sama lain, meskipun dengan sedikit rasa kesal di hati.


"Aaa," Kieran menyuapi Felix.


"mmmmm, jangan banyak-banyak," Felix berkata dengan mulut penuh.


"Itu sedikit kok," jawab Kieran dengan riang.


"Nih, sekarang Aaaa," kata Felix sambil menyuapi Kieran dengan gemas


Kringgg... bel pulang berbunyi, menandakan waktu pulang sekolah telah tiba.


"Hemz, gimana mau pulang, hujannya masih deras," ucap Floey sambil melihat keluar dari jendela.


"Hemm," Felix menghela nafas dengan rasa cemas.


"Floey, tunggu aku sebentar, aku akan mencari payung," kata Kieran sambil berlari keluar.


"Lah! Felix, kita tunggu di luar sekolah saja," ajak Floey.


"Baiklah, ayo," ucap Felix setuju.


Di luar sekolah, hujan masih turun dengan derasnya.


"Kamu nggak dijemput oleh supirmu?" tanya Floey khawatir.


"Oh iya, aku akan menelepon dulu. Eh, tapi nggak ada sinyal," jawab Felix dengan kecewa.


"Terus gimana dong?"


"Kita bisa hujan-hujanan saja daripada kita terjebak di sini sampai malam."


"Nggak boleh, kamu masih sakit. Tunggu aku sebentar, aku akan mencari payung," kata Floey tegas, lalu ia berlari melewati derasnya air hujan.


Tiba-tiba, sebuah payung muncul di depan Floey. Seorang lelaki yang mengenakan jas hujan memegangnya, siap untuk melindungi Floey dari guyuran hujan.




Sementara itu, dari arah yang berbeda, Kieran ternyata telah membawa payung saat melihat Floey berdiri di bawah guyuran hujan bersama lelaki lain. Felix, di sisi lain, hanya terdiam, terpaku melihat gadis yang ia sukai berada di bawah payung bersama lelaki asing yang tak dikenalnya.


"Floey," Kieran mendekati mereka dengan langkah mantap, menarik tangan Floey dan membawanya ke bawah lindungan payung yang ia bawa.


"Eits, tunggu dulu, gue ada urusan dengan dia," tukas Alex, lelaki yang baru saja bertemu dengan Floey.


"Ngomong apa? Floey bahkan tidak mengenal lo," jawab Kieran dengan nada tajam.


"Ya, makanya gue ingin memperkenalkan diriku. Floreylla, kenalkan, nama gue Alex," ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Oh, iya," Floey hampir saja menyambut salamannya, namun Kieran segera menepis tangan Alex dengan tegas.


"Sudah, ayo kita pulang," kata Kieran sambil menarik Floey menjauh dari Alex.


Tiba-tiba, suara mobil yang tiba-tiba berhenti terdengar di dekat mereka.


"Tuan, maafkan saya karena terlambat," ucap sopir Felix sambil turun dari mobil.


"Oh, iya, nggak apa-apa," kata Felix sambil turun ke bawah guyuran hujan, menarik Floey dan Kieran masuk ke dalam mobil.


"Hemm, awas saja, Kieran," gumam Alex dalam hatinya, merasa ada persaingan yang baru saja muncul.


...Bersambung...