
"Assalamualaikum" Sapa ku pada pak andre dan bu rahma yang saat ini tengah duduk di ruang tamu.
"Waalaikumsalam pak nanda" jawab mereka bersamaan
"Masuk lah pak!"
"Mari"
"Mari"
"Jangan sungkan sungkan! anggap saja rumah sendiri" ucap pak Andre yang datang menghampiri ku dan mengajak ku untuk masuk ke dalam
"Ah,iya pak terimakasih" jawab ku dengan senyuman mengembang
"Mau minum apa pak nanda?" tanya bu rahma saat aku baru saja mendarat kan bokong ku di sofa.
Aku menggeleng kan kepala cepat "Tidak usah bu rahma! tidak perlu repot repot" tolak ku hati hati.
"Saya tidak akan lama" lanjut ku
"Aduuh! pak nanda ini ada ada saja! masa cuma di suguh kan minuman di bilang ngerepotin" sahut pak andre
"Sudah mah! buat kan saja kopi untuk pak nanda" pintanya pada bu rahma
"Tidak pak! saya baru saja minum kopi tadi sebelum datang ke mari" potong ku cepat
"Baiklah! kalau begitu teh saja ya pak nanda!" ucap bu rahma
"A-aaah iya! teh juga boleh" jawab ku dengan senyuman yang sedikit di paksakan.
Sebenarnya saat ini aku tidak merasa haus sedikit pun,karna aku benar benar sudah minum kopi bersama dengan rekan kerja ku tadi.
Tapi, yasudah lah mau bagaimana lagi? kalau terus menolak juga tidak enak.
"Sebentar ya pak nanda! saya buat kan dulu" ucap bu rahma dan berlalu menuju ke arah dapur.
"Gimana pekerjaan nya pak nanda?"
"Apakah lancar?" lanjut nya
Aku menghela napas sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari pak andre
"Yaaa,bisa di bilang begitu lah pak"
"Bisa di bilang begitu gimana pak nanda?" tanya nya bingung
"Perusahaan saat ini sedikit mengalami penurunan yang cukup berpotensi pada kebangkrutan jika terus terusan terjadi" lanjut ku sambil mengusap wajah ku kasar
Pak andre yang mendengar jawaban dari ku itu juga ikut menghela nafas berat dan sedetik kemudian tampak dia menundukkan kepalanya.
"Ini teh nya pak nanda silahkan di minum" ucap bu rahma sambil meletakkan segelas teh itu di atas meja
"Terimakasih bu rahma" jawab ku lalu ingin meraih gelas itu
"Aaah! huuh! huuuh!"
"Panas" ucap ku sambil mengibas ngibaskan tangan ku
"Astaga pak nanda! kenapa di pegang gelas nya? Ucap bu rahma yang terlihat terkejut
"Kalau tidak di pegang gimana cara saya meminum nya bu rahma?" sahut ku agak kesal mendengar perkataan nya yang tidak masuk akal itu
"Eeeh! anuu! bukan begitu maksud saya pak nanda" ralat nya cepat
"Lalu?" tanya ku lagi yang membuat pak andre tertawa kecil
"itu,teh nya kan masih panas pak nanda! tunggu lah sebentar lagi" lanjut nya
"Baiklah" jawab ku
******
Tak terasa waktu sudah berlalu dengan cepat,selama itu juga aku belum menyampaikan niat dan tujuan ku datang kemari.
Karna istri pak andre ini terus saja mengajak kami mengobrol ke hal hal yang menurut ku kurang menarik.
Sehingga membuat ku dan pak andre berulang kali menarik dan menghembuskan nafas gusar! serta sesekali mengangguk kan kepala tanda mengerti.
Sedangkan aku hanya terus diam dan menyimak pembicaraan antara suami istri ini.
"Pah?"
"Papah?"
"Emmm? apa lagi si mah?" jawab pak andre malas
"Iiih papah kok gitu si? mamah lagi ngomong lo sama papah" sunggut bu rahma
"Sudah lah mah! Tidak usah di lanjutkan lagi.Telinga papah sudah panas dengerin mamah ngoceh terus"
"Coba liat itu wajah nya pak nanda" tunjuk pak andre tepat pada wajah ku
"Memangnya kenapa pah?" tanya bu rahma masih belum mengerti yang membuat ku kembali menghela nafas berat.
"Pak nanda juga ikut lelah mendengar ocehan mamah" lanjut nya yang membuat wajah bu rahma yang tadi nya terlihat antusias kini mulai meredup.
Aku yang menyadari perubahan pada wajah nya langsung mengalihkan topik pembicaraan agar suasana tidak tegang.
"Ekhem"
"Bu rahma tidak perlu cemberut begitu,maafkan saya karna sudah membuat bu rahma merasa kecewa karna wajah saya ini" ucap ku yang lagi lagi lagi membuat pak andre tertawa kecil
"Maksud kedatangan saya ke sini itu sebenar nya ingin mengobrol secara langsung dengan pak andre,suami ibu tentang rumah yang saya beli tempo hari"
"Ibu masih ingat kan?" lanjut ku yang membuat wajah nya kembali seperti semula
"Ah,iya pak nanda! saya baru ingat"
"Begini lo pah! sebenar nya kemarin malam pak nanda juga datang ke rumah kita,tapi karna keponakan papah datang jadi pak nanda langsung pulang" lanjut nya yang di balas anggukan oleh pak andre
"Baiklah! kalau begitu saya akan langsung menjawab pertanyaan dari pak nanda kemarin di telpon"
"Jadi begini pak nanda, sebenar nya itu bukan lah rumah saya! melainkan rumah keponakan saya"
"Jadi,keponakan saya meminta kepada saya untuk menjual kan rumah itu!"
"Baiklah saya tak akan mempermasalahkan hal itu pak andre" sahut ku
"Yang saya tanya kan saat ini kenapa bapak,tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada saya bahwa rumah itu berada di tengah hutan?"
"Jujur,saya sangat kecewa dengan hal itu pak andre" sambung ku
"Saya mengerti akan hal itu pak nanda! saya juga merasa sangat bersalah pada nanda.Tapi,mau bagaimana lagi pak? saya tidak bisa berbuat apa apa"
"Karna keponakan saya,terus saja mendesak agar membantu nya menjual rumah itu"
"Karna sayang pak! rumah itu sudah lama tidak di tinggali oleh mereka sejak beberapa tahun yang lalu"
"Sebenarnya rumah itu awal nya tidak lah seperti itu bentuk dan fasat nya"
"Dulu itu hanya lah sebuah rumah sederhana dengan berdindingkan papan yang sangat tua dan hampir roboh! tapi, sekitar 2 tahunan sejak keponakan saya yang 1 ini yang datang kemarin malam! memutuskan untuk bekerja di kota"
"Sejak saat itu lah dia mulai membangun secara perlahan lahan rumah itu,hingga menjadi bagus dan sangat layak di huni"
"Lalu? kenapa keponakan bapak tidak tinggal saja di sana setelah rumah itu selesai di bangun? tanya ku
"Cerita nya sangat panjang pak nanda! saya juga tidak ingin menceritakan hal itu pada nanda"
"Kenapa bapak tidak mau menceritakan nya pada saya? bukan kah saya punya hak untuk mengetahui apa saja mengenai rumah itu"
"Karna saya sudah membeli nya pak! dan saat ini anak dan istri saya tinggal di sana!" lanjut ku yang mulai tersulut emosi.tetapi pak andre tetap diam dan kekeh tidak menceritakan nya pada ku
"Baiklah kalau begitu" ucap ku pasrah
"Apakah bapak bisa pertemukan saya dengan keponakan bapak itu? saya ingin menemui nya sekaligus bertanya mengenai hal ini" sambung ku
"Baik pak nanda! saya akan mengirim nomor telpon keponakan saya melalui via WhatsApp! bagaimana pak nanda?"
"Yaaah! baiklah saya akan menunggu sampai bapak mengirimkan nya pada saya"
"Kalau begitu saya harus segera kembali ke kantor sekarang! karna ada seseorang yang harus saya temui malam ini juga" pamit ku
"Permisi" ucap ku langsung berlalu keluar rumah dan masuk ke dalam mobil ku.