
"Assalamualaikum warahmatullah"
"Assalamualaikum warahmatullah"
"Mah" bisik kevin pada ku
"Ada apa sayang?"
"Kevin boleh masuk ke dalam kamar tidak?" tanya nya dengan berharap sementara ardi dan keenan menatap ke arah kami sambil tersenyum.
"Yasudah pergi lah"
"Makasih mah" ucap nya sambil berlalu
"Keenan mau ikut juga?" tanya ardi pada putra bungsu ku itu
"Tidak om!"
"Bener??"
"Iyaa! bener" sahut nya sambil tersenyum memamerkan gigi gigi nya yang mungil
Kini yang tersisa hanya kami bertiga,setelah kepergian kevin kami pun melanjutkan melakukan zikir menyebut asma allah agar terlindungi dari segala marabahaya pada malam bulan purnama ini.
"Subhanallah"
"Subhanallah"
"Subhanallah"
Saat kami telah terhanyut dalam melakukan zikir,tiba tiba saja aku mencium aroma busuk bercampur dengan bau gosong yang sangat menyengat.Yang membuat ku mulai gelisah serta pikiran ku teralih ke mana mana.
Sementara itu,ardi tetap duduk tegak di depan ku! dia masih saja melafazkan nama allah dengan fasih dan lancar.Begitu pun dengan keenan yang juga mengikuti pengucapan ardi walaupun sedikit tersendat sendat.
Tak berselang lama seluruh tubuh ku tiba tiba merasa menggigil,angin di luar berhembus sangat kencang membuat horden yang terpasang di setiap jendela rumah ini berterbangan di tiup hembusan angin yang begitu kencang nya.
"Astagfirullah"
"Astagfirullah"
"Astagfirullah"
"Gubrak!!"
"Astagfirullah" teriak kami bersamaan
Keenan yang duduk di samping ardi sontak langsung mundur ke belakang dan memeluk tubuh ku.
"Apa itu mah?" tanya nya dengan suara gemetar
"Tidak apa apa sayang! itu bukan apa apa!" terang ku
"Apa bu mayang mencium bau yang sama?" tanya ardi sambil membalikkan tubuhnya menghadap kami
Aku mengangguk "Iya saya mencium nya"
"Dari mana bau ini bu mayang? perut saya mulai merasa mual" ucap ardi dengan wajah yang sedikit memerah.
Bersamaan dengan ucapannya barusan angin yang tadi nya bertiup kencang kini bertambah menjadi sangat sangat kencang,membuat horden yang terpasang di di sana seketika terlepas semua nya.Yang membuat ku berulang kali mengelus dada.
"Bu Mayang! di mana ibu letakkan gelang itu?" bisik Ardi
"Di dalam kamar di,memangnya kenapa?" tanya ku tak mengerti sambil terus memeluk tubuh keenan yang semakin ketakutan sampai membuat ku merasakan tubuhnya gemetar.
Mendengar jawaban ku itu,ardi langsung bangkit dari duduk nya lalu berjalan masuk ke dalam kamar ku.
Aku yang melihat itu tak lagi ambil pusing,aku lebih fokus pada keenan dan berusaha untuk terus menenangkan dirinya.
"Tidak apa apa sayang! kita akan baik baik saja"
"Keenan takut mah" jawabnya
Sekitar 2 menitan ardi kembali dengan membawa kevin ikut bersama nya.
"Pakai ini bu mayang!" ucapnya sambil menyodorkan 2 pasang gelang itu pada ku.
"Saya akan memakai kan untuk kevin,ibu pakai kan lah juga pada keenan" lanjut nya sambil memakai kan gelang itu pada kevin.
"Apa ni om?" tanya kevin tak mengerti namun pasrah mengulurkan tangannya pada ardi dan membiarkan ardi melilit kan benang itu pada nya.
"Tidak! ini hanya sebuah gelang biasa.Om minta jangan lepaskan gelang ini ya kevin"
Kevin yang mendengar ucapan ardi hanya diam dan terus menatap gelang itu dengan tatapan bingung, begitu pun dengan ku yang masih diam serta tak melakukan apa pun selain melihat ardi yang sudah selesai melilit kan gelang itu pada Kevin,lalu dengan cepat ardi juga melilit kan benang itu di tangannya.
"Bu mayang" panggil nya
"Emm?"
"Kenapa diam saja? cepat pakai gelang itu bu" pintanya
"Tapi di....
"Saya masih ragu dengan gelang yang di berikan mala"
"Pakai saja bu" desak nya
Akhirnya dengan terpaksa aku melilit kan gelang itu di tangan keenan dan untungnya anak ku ini tak menolak nya,tetapi mata nya terus saja menatap wajah ku.
Setelah selesai melilit kan gelang itu pada keenan,tiba tiba saja kami kembali mendengar suara dentuman keras yang berasal dari luar rumah.
"Duaaar"
"Duaaaar"
"Duaaar"
Bersamaan dengan suara dentuman yang ke empat kalinya tiba tiba saja seluruh lampu di rumah ini padam.Yang membuat suasana rumah menjadi sangat gelap gulita serta sangat mencekam.
"Mamah" rengek keenan yang semakin mempererat pelukannya.
"Ardi" panggil ku
"Apa kamu masih di sana?"
"Iya bu mayang saya masih ada di sini" jawab nya pelan
"Coba hidupkan lampu flash ponsel mu"
"Aduh! maaf bu Mayang baterai ponsel saya lowbat jadi tidak bisa menghidupkan lampu flash"
"Bagaimana kalau pakai ponsel ibu saja?" lanjut nya
"Baiklah!"
"Kevin!" panggil ku
"Iya mah"
"Mamah minta tolong kamu ikut lah dengan om ardi kembali ke dalam kamar lalu ambil ponsel mamah di atas nakas tadi" terang ku
"Tidak mau!" jawab nya
"Ayolah sayang temenin om ardi sebentar saja" bujuk ku sambil terus meraba meraba untuk mencari tangan nya.
"Tidak mah! keenan saja yang ikut om ardi"
Keenan yang mendengar namanya di sebut langsung melepaskan pelukannya dari ku lalu berkata "Tidak mau! abang saja" sahut nya lalu kembali memeluk tubuh ku.
"Ardi" panggil ku
"Di?"
"Ardi?" panggil ku sedikit keras
"Om ardi tidak ada di sini mah" jawab kevin
"Ardiiii" teriak ku
"Sebentar bu Mayang! saya sedang mencari ponsel nya" sahut nya dari arah kamar
"Ya baiklah! kamu hati hati soalnya gelap sekali di dalam sana" ucap ku memperingati nya
Sementara menunggu ardi kembali dengan membawa ponsel ku,aku memutuskan untuk melanjutkan zikir yang sempat terhenti tadi.
"Subhanallah"
"Subhanallah"
"Subhanallah"
****
Sudah 15 menit waktu berlalu namun ardi tak kunjung keluar dari kamar,aku yang sudah merasa sangat gelisah di tambah lagi rengekan rengekan kevin dan keenan yang membuat ku tak fokus.Akhirnya dengan terpaksa ku hentikan zikir ini.
"Mah! om ardi kok lama banget ya?" ucap kevin
"Mamah juga tidak tau sayang" jawab ku
"Coba mamah susul om ardi saja mah! biar kevin yang menjaga keenan di sini" lanjut nya
"Beneran kamu bisa mamah tinggalin? nanti ketakutan!" tanya ku memastikan
"Benar mah! buruan susulin om ardi" desak nya
"Ya baiklah" jawab ku sambil menghembuskan napas berat
Dengan perlahan aku berjalan menuju kamar serta ke dua tangan ku yang terus meraba raba untuk mencari pintu kamar ku.
"Ardi?" panggil ku sambil terus berjalan namun hening tak ada jawaban.
"Ardi! kenapa diam saja? jawab saya" ucap ku lagi
Saat aku sampai di ambang pintu,aku melihat dengan samar samar ardi tengah berdiri tegak di samping nakas dengan posisi membelakangi ku sambil terus berusaha menyalakan ponsel.
"Ardi?" panggil ku
"Iya bu Mayang sebentar, ponselnya tidak mau nyala" jawab nya yang masih dengan posisi yang sama.
"Keluar lah dulu,kita nyalakan di ruang tengah! kevin dan keenan sendirian di sana di,saya khawatir mereka kenapa kenapa" ucap ku gelisah
"Yah baiklah bu Mayang!" jawab nya sambil berbalik dan berjalan ke arah ku.