Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Pagi yang sempurna


Malam telah berlalu. Digantikan pagi dengan cahaya yang masuk membuat dahi Brian mengernyit. Ia mencoba menutup matanya yang silau karena cahaya matahari yang menyapa dengan riangnya, Setelah membuka matanya, Brian sedikit lupa bahwa ia sedang berada di kamar Gisel. Dengan nuansa aesthetic putih membuat dirinya betah berlama-lama di kamar Gisel yang wangi ini.


Tidak lama setelah Brian terbangun, Gisel masuk dan menyapa Brian menggunakan dress putih yang terlihat cantik dikenakan oleh Gisel.


"Hai, Sayang, sudah bangun rupanya." sapa Gisel.


Brian membalikkan badannya. Ia ingin segera tidur lagi.


"Bangun dong. Sudah pagi nih." kata Gisel menarik badan Brian. Bukannya terbangun, Brian malah menarik badan Gisel hingga terjatuh dalam pelukannya.


"Sejak kapan sih kamu mandi? Badanmu jadi wangi, aku kan jadi betah ingin menciumi badanmu pagi ini."


"Sudah siang loh. Kamu nggak mau kerja?" tanya Gisel


"Boleh nggak aku bolos satu hariiii saja?" tanya Brian.


"Jangan dong. Itu namanya nggak profesional. Kamu harus profesional. Antara kerjaan dan urusan pribadi." ucap Gisel


"Oh, ya, jangan sampai ketahuan kalau aku sedang jatuh cinta ya gitu?" canda Brian


"Hahaha...bangun yuk, aku sudah membuat sarapan. Kamu lapar kan?"


Brian tersenyum dan membelai rambut Gisel dengan lembut.


"Kalau sudah menikah apa kita akan tinggal disini?" tanya Brian


"Dimanapun kamu tinggal aku akan ikut kamu, Bri." jawab Gisel lembut. "Tapi apartemen ini bagus banget, aku nyaman deh. Sayang juga kalau disuruh ninggalin apartemen ini." kata Gisel.


"Aku sudah yakin kamu pasti suka sama apartemen ini."


Gisel menganggukkan wajahnya.


Mereka berjalan menuju ruang makan. Gisel sudah membuat sarapan roti serta potongan buah dan segelas jus buah.


"Aku nggak tahu kamu biasa sarapan apa. Kamu bisa kasih tahu aku ya besok-besok, kamu lebih suka sarapan apa." kata Gisel.


"Nggak apa-apa. Nanti lama-lama kamu juga mengerti kebiasaanku kok." sahut Brian


"Kalau ini suka?" Gisel menunjuk menu sarapannya yang ia buat pagi itu.


"Roti aku suka. Buah suka. Jus suka. Tapi kalau siang aku harus makan nasi ya. Kalau pagi aku makan apa aja oke, asal bukan nasi." Brian mengunyah roti yang dibuat Gisel.


"Oke, aku akan ingat."


"Sebisa mungkin jangan buat kamu repot ya"


"Kenapa? Aku suka kok kalau direpotkan apalagi itu tentang kamu." jawab Gisel.


Brian menikmati sarapannya sendiri dan melihat Gisel yang hanya memerhatikan dirinya.


"Kenapa kamu nggak ikut makan?" tanya Brian.


"Aku ingin melihatmu menghabiskan sarapannya."


"Kita makan bersama saja ya." Brian mengambilkan piring kecil dan mengoles selai coklat ke roti yang akan ia berikan untuk Gisel.


Gisel menerima roti yang dibuat oleh Brian.


Sangat menyenangkan diperlakukan dengan baik oleh seorang laki-laki,,dan itu hanya bisa aku dapat dari Brian,,batin Gisel.


"Aku mau bertanya sesuatu." kata Gisel. Sebenarnya ia tidak yakin apakah ia harus menanyakan ini atau tidak.


"Apa yang membuatmu kemarin ingin melamarku?" degup jantung Gisel berdebar lebih cepat. Entahlah kenapa ia menanyakan pertanyaan yang bodoh itu.


"Aku tahu, aku juga nggak mau kehilanganmu. Apa kamu nggak ada alasan lain?"


"Seperti apa maksudmu?" Brian sedikit tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Gisel.


"Aku sudah melihat banyak laki-laki menikah pada saat aku bekerja di kelab malam. Dan mereka juga sudah mempunyai anak. Tapi mereka malah lebih suka menghabiskan waktunya di kelab malam dibandingkan bersama keluarganya. Terkadang aku berpikir buat apa menikah kalau suatu waktu mereka akan mengkhianati keluarganya dengan begitu menyakitkan? Mengetahui suami sendiri tidur dengan wanita lain itu sangat menyakitkan." kata Gisel


"Terus?" Brian masih ingin mendengarkan cerita Gisel.


"Terlebih lagi aku terkadang merasa apa yang aku lakukan dimasa lalu tidak pantas untukmu, Brian."


Brian mengangguk mengerti dengan apa yang Gisel bicarakan.


"Aku nggak mau kamu dilecehkan lagi oleh laki-laki lain, itu salah satu alasanku." ucap Brian. Gisel sedikit tertegun dengan jawaban Brian.


"Rasanya sakit hatiku melihat kamu dilecehkan lelaki lain terlepas dari apa pekerjaan yang kamu lakukan di masa lalu. Kalau soal mencintai, kamu nggak perlu bertanya,aku yakin kamu tahu, selama lima belas tahun lebih aku mencari keberadaan kamu. Kalau nggak cinta kamu, buat apa aku mencari keberadaanmu yang aku sendiri nggak tahu kamu dimana. Dan kalau ditanya kenapa aku mau menikahimu itu karena kamu memiliki hati dan kepribadian yang baik. Nggak semua wanita memiliki kepribadian sepertimu. Aku pikir kamu nggak perlu mengkhawatirkan hal-hal semacam itu lagi. Aku hanya ingin kamu bersamaku mendampingi aku dan fokus dengan keluarga kita selanjutnya." kata Brian menjawab semua pertanyaan Gisel.


Gisel terenyuh dengan setiap kata yang Brian ucapkan. Ia merasa hatinya lemah saat Brian mengatakan itu semua. Brian mematahkan semua keraguan Gisel. Brian juga menjawabnya dengan tenang tanpa ada satu katapun menyakiti Gisel. Ia memeluk Brian dengan penuh kasih. Membelai lembut rambut Brian.


"Terima kasih, Brian. Aku akan selalu ada disisimu. Aku akan selalu mencintaimu lebih dan lebih lagi. Dengan pertengkaran-pertengkaran kecil nantinya kemudian berbaikan lagi. Mendengarmu mengatakan itu semua, aku merasa masih ada kamu yang melihatku sebagai wanita yang berharga." kata Gisel.


Mendengar itu, Brian membalas pelukan Gisel dan mengusap punggungnya.


"Mari kita saling menghargai satu sama lain." ucap Brian. Gisel mengangguk setuju.


Saling menghargai adalah kunci dari sebuah hubungan. Jika tidak bisa saling menghargai, bisa saja hubungan tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang diimpikannya.


"Baiklah, sekarang kamu mandi, aku akan merapikan meja. Oh ya, apa kamu mau bawa roti untuk camilan di kantor?" tanya Gisel sambil melepas pelukannya dengan perlahan


"Boleh" jawab Brian mengangguk


"Aku akan buatkan."


Gisel beranjak dari tempat duduknya. Baru saja Gisel akan melangkah lagi ke dapur, tubuhnya dikunci oleh Brian yang memeluknya dari belakang.


"Aku harap kamu nggak akan pergi meninggalkan aku lagi." ucap Brian pelan.


"Aku akan tetap disini. Berada disisimu." jawab Gisel,


"Baiklah, aku akan mandi sekarang. Tunggu aku ya, kita berangkat bareng." kata Brian


Gisel tersenyum melihat Brian yang begitu tampan dan berwibawa di kantor dan di rumahnya ia bertindak seperti lelaki remaja yang takut ditinggal ibunya.


Brian, Brian. Bagaimana aku tidak mencintaimu kalau kamu seperti itu? batin Gisel dalam hati.


Ya. Gisel sangat mencintai Brian. Begitu pula sebaliknya.


************************


Hai readers~~


Apakabar kalian semua?


Bosen nggak author update cerita tiap hari?


Semoga nggak bosen ya~~


Seperti biasa kritik dan saran akan selalu author tunggu di kolom komentar ya~~


Gomawo readers semua ^^~~