
Ibu sibuk menata meja makan dan beberapa dekorasi. Ia ingin terlihat sempurna karena ini adalah kali pertama Brian membawa seorang wanita ke rumahnya. Tentunya sebagai istri dari pemilik Salim Group, harus menjamu dengan sepantasnya.
Bunga mawar ditata di beberapa sisi. Menu yang disajikanpun spesial. Ibu memyewa seorang chef untuk menyambut kedatangan Gisel. Ayah tersenyum melihat Ibu yang antusias menyambut kedatangan teman spesial Brian.
Brian akan membawa Gisel pukul tujuh malam. Ibu semakin mempercepat dan pelayan dengan gesit menyediakan makanan pembuka. Bella lebih dulu pulang dan melihat Ibu yang kerepotan.
"Banyak sekali makanan yang dihidangkan, Bu." kata Bella. Ibu hanya tersenyum melihat Bella yang baru pulang.
"Kita tidak pernah kedatangan tamu spesial. Sesekali kamu juga membawanya. Agar Ibu bisa menyiapkannya juga." kata Ibu lembut membuat hati Bella menjadi sedih. Karena sampai detik ini belum sekalipun ia membawa teman lelaki ke rumahnya.
"Ayahmu meminta agar kamu tidak terlalu fokus bekerja, Nak. Karena usiamu saat inu sudah saatnya menikah." Ibu mengelus wajah Bella yang terlihat murung.
"Maaf, Bu. Bella belum bisa membawa seseorang seperti itu." Bella merasa menyesal telah mengecewakan orang tuanya.
Ibu mengangguk.
"Masih ada waktu. Biarkan asisten mengerjakan sebagian pekerjaanmu. Dan kamu bisa punya banyak waktu untuk dirimu."
Bella memeluk Ibu dengan sedih dan entah kapan terakhir kalinya ia memeluk Ibu.
"Maafkan aku, Bu."
Ibu menepuk punggung Bella yang hangat.
"Gantilah bajumu. Sebentar lagi Brian pulang."
Bella mengangguk dan tersenyum pada Ibunya.
*****
Bella mengenakan baju warna merah marun dengan rambut digelung dan beberapa helai rambut terurai disisi kanan dan kiri. Liana membantu untuk memoles make up di wajahnya yang lembut.
"Aku turut bahagia. Akhirnya dalam perjalananmu yang panjang, kamu bisa menemukan titik terang." ucap Liana saat merapikan gelungan rambut Gisel.
"Apa aku akan diterima?" tanya Gisel penuh harap.
"Jangan selalu berpikir bahwa kamu ditolak. Jika kamu pernah ditolak, tempatkan posisimu di tempat yang layak, buktikan bahwa penolakan mereka berujung penyesalan." kata Liana menyemburkan kata bijak yang terdengar mewah di telinga Gisel.
"Sebenarnya aku bingung darimana kamu bisa mendapatkan kata - kata bagus seperti itu. Tapi aku maafkan karena aku tidak ingin berdebat denganmu." kata Gisel.
"Kata - kata bijak itu ada berdasarkan pengalaman yang selama ini kita jalanj, Gis. Aku cuma mau kamu bisa menumbuhkan rasa percaya dirimu saat di rumah Brian nanti. Jangan berani - berani kamu merasa kecil dihadapan mereka." kata Liana menegaskan.
Gisel hanya mendengarkan tanpa menjawab. Ia melihat ponselnya. Sudah jam setengah tujuh malam. Sebentar lagi Brian pasti datang. Hati Gisel semakin berdebar dan merasa sedikit gemetar.
Tring!
Pintu butik Liana terbuka. Brian datang dengan kemeja dan jas kantornya. Gisel segera berdiri dan menatap Brian yang terpesona pada kecantikan Gisel.
Brian sangat kagum dengan penampilan Gisel malam ini. Cantik, anggun dan elegan. Inilah Gisel yang ia kenal. Dalam hati, Brian merasa bersyukur akhirnya, Gisel kembali tampil memesona dengan balutan dress warna merah marun dengan sedikit kelip yang terlihat mewah.
"Ayo.. kita berangkat." kata Brian.
Liana merapikan dress Gisel sekali lagi dan memberikan clutch yang kemilau dengan warna gold.
"Brian pasti terpesona melihat wanita cantik seperti kamu." Liana mengedipkan satu matanya dan tersenyum jail. Gisel melangkahkan kakinya dan mendekatkan dirinya ke Brian.
"Ayo." jawab Gisel tersenyum. Brian langsung menggandeng tangan Gisel di lengannya.
Setelah keluar dari butik, Liana tersenyum. Ia turut bahagia atas kebahagiaan Gisel.
Brian menyetir mobil dengan hati - hati. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Gisel yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Jangan melihatku seperti itu terus. Aku bisa kegeeran nanti." kata Gisel yang menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Aku gugup bertemu orang tuamu." ujar Gisel.
"Santai saja. Orangtuaku juga nggak akan galak sama kamu."
Gisel tersenyum. Melihat langit yang dipenuhi bintang malam ini. Bukan itu yang ia khawatirkan. Bagaimana kalau mereka tahu kalau Gisel telah berada dikehidupan malam selama tujuh tahun lamanya? Apakah mereka tidak malu terhadapku? Dan apakah aku tidak akan mencoreng nama baik keluarganya?
Gisel terus berdebat dalam hatinya. Ia semakin gelisah dan khawatir. Tapi ia tidak mengungkapkan itu semua pada Brian. Bisa marah nanti.
Mobil Brian memasuki rumah megah dengan lampu yang menyala di hampir seluruh rumahnya. Rumah yang didesain dengan desain minimalis tapi mampu memperlihatkan kesan mewah dari rumah itu.
Brian membukakan pintu untuk Gisel. Kaki Gisel melangkah keluar dan ia tersenyum melihat Brian yang tidak hentinya menatap wajahnya.
"Rumahmu bagus sekali." ucap Gisel dengan kagum melihat rumah Brian.
"Biasanya tidak semua lampu dinyalakan seperti ini." kata Brian.
Gisel melangkahkan kakinya perlahan dan memasuki ruang tamu. Sudah ada Ayah, Ibu dan juga Bella yang telah menunggunya.
Ibu menghampiri Brian yang menggandeng tangan Gisel. Gisel langsung melepas tangannya dari lengan Brian dan menyalami Ibu Brian.
"Selamat datang, Gisel. Silahkan duduk." kata Ibu mengajak Gisel untuk duduk di sofa. Gisel menyalami Ayah Brian dan juga Bella. Walau sedikit memasang wajah yang kecut, Bella tidak banyak bicara
Sekali lagi Gisel takjub dengan desain yang ada di ruang tamu itu. Tertata bunga mawar hampir di setiap sudut ruangan dab terlihat sangat cantik.
"Selamat datang, Gisel. Beginilah suasana rumah Brian." sapa Ayah. Gisel mengangguk dan tersenyum pada Ayah.
"Iya, Om." jawab Gisel mengulas senyum di wajahnya.
"Tante semangat sekali mendekorasi ruangan dan juga menyiapkan makanan untuk menyambut kamu." ujar Ayah dengan tawa yang renyah.
Bella hanya diam saja mendengarkan mereka berbicara.
"Dekorasinya cantik. Tante pintar ya memilih tatanan dan warna yang bagus." Gisel memuji Ibu Brian yang terlihat sederhana. Tidak ada kesan glamor ataupun mewah seperti yang dipikirkan Gisel selama ini.
Tidak lama, Brian keluar dalam dan mengenakan kemeja yang berbeda.
"Kamu cantik sekali. Siapa namamu, Nak?" tanya Ibu kagum dengan kecantikkan Gisel.
"Nama saya, Gisel, Tante. Gisel Zahran." jawab Gisel sedikit malu - malu.
"Gisel... Gisel... Zahran... Sepertinya Om pernah mendengar nama itu." kata Ayah memikirkan dimana ia pernah mendengar nama itu.
"Kita makan dulu yuk. Kita bisa ngobrol nanti." kata Brian yang sudah terlihat lapar.
Ibu menyetujui perkataan Brian.
"Baik, ayo kita makan."
Gisel diajak ke ruang makan dan dituntun oleh Ibu. Hati Ibu cukup baik hari ini. Ia selalu tersenyum dan Ayah sangat senang melihat Ibu ceria.
Gisel kembali dibuat takjub oleh hidangan makan malam yang mewah.
"Tante... memasak semua ini?" Gisel menanyakannya secara tidak sadar. Tapi, Ibu memang ramah. Ia menjawab apa yang Gisel tanyakan.
"Tante menyewa chef. Nggak mungkin Tante memasak semua ini tapi Tante harus tetap tampil cantik." ujar Ibu tertawa.
Gisel ikut tersenyum. Bella hanya mendengarkan saja. Gisel menikmati makan malamnya. Brian memperlakukan Gisel dengan cukup baik. Hingga membuat Bella sedikit iri melihatnya.
Ayah menahan diri untuk bertanya tentang siapa Gisel sebenarnya. Walau sebenarnya ia sudah sangat penasaran dengan nama Gisel yang ada nama 'Zahran' dibelakangnya. Ayah merasa tidak asing dengan nama itu.
Gisel terlihat cantik saat tersenyum dan ia juga mengendalikan dirinya agar tidak makan terlalu banyak di rumah Brian. Walau rasanya ingin sekali ia membungkus semua makanan yang ada disana.