
"Brian." panggil Gisel. Brian berhenti menulis dan mengangkat kepalanya.
"Kamu sudah datang?" tanya Brian meletakkan pulpen itu.
"Kata Pak Liam kamu sibuk. Jadi aku nggak lama." kata Gisel meletakkan beberapa kotak camilan di atas meja Brian.
"Terima kasih, Gisel. Sudah datang dan membawakanku ini." kata Brian.
"Nggak masalah. Kalau begitu kita tidak usah bertemu saat makan siang." ujar Gisel.
"Kenapa? Kamu kerja ya?"
"Akan lebih baik kalau sekarang ketemu setelah jam kerja saja. Aku ingin kamu konsentrasi dengan pekerjaanmu." sahut Gisel.
"Baiklah. Terima kasih sudah mengerti aku." jawab Brian.
"Jangan berterima kasih. Karena itu memang sudah seharusnya. Aku pamit ya."
Brian meraih tangan Gisel sebelum Gisel pergi meninggalkan ruangannya. Gisel terkejut mengapa Brian melakukan ini.
"Datanglah makan malam bersama keluargaku. Aku akan memperkenalkanmu." kata Brian. Gisel tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah."
Brian melepas tangan Gisel dan Gisel meninggalkam ruang kerja Brian. Ia bertemu sekali lagi dengan Pak Liam dan tersenyum ramah padanya.
Seseorang memotret kedatangan Gisel ke gedung Salim Group. Ternyata, Gisel lebih dikenal sebagai wanita malam di kalangan atas. Siapapun berusaha mendapatkan Gisel dan bermalam dengannya. Ia menghampiri Gisel dan mencekal pergelangan tangannya.
"Kamu Gisel kan?" ujar orang itu. Gisel mengaduh kesakitan karena tangannya dicekal cukup kencang.
"Lepasin!" seru Gisel. Tetapi dia tidak peduli dengan kesakitan Gisel.
Kemudian sebuah mobil sedan datang menghampirinya dan membuka jendela sehingga Gisel bisa melihat jelas dalang dibalik semua ini. Farshall.
Gisel duduk dengan perasaan tidak nyaman di mobil Farshall. Anak orang kaya yang mengandalkan harta orangtuanya dan selalu menyombongkan dirinya.
"Kamu sudah nggak di kelab lagi?" tanya Farshall yang memperhatikan pakaian Gisel yang sedikit tertutup.
"Apa itu urusanmu?" Gisel menjawab sinis pertanyaan Farshall.
"Hei. Ku beritahu ya. Kamu hanya wanita malam. Tidak perlu bersikap angkuh dan jawab saja pertanyaanku." kata Farshall terdengar sedikit merendahkan Gisel.
Gisel berusaha menahan emosinya agar ia tidak mencabik wajah Farshall detik ini juga.
"Apa kamu masih menggunakan harta orang tuamu untuk membayar wanita malam?" tanya Gisel pelan di telinga Farshall membuat darahnya mendidih saat itu juga.
"Apa kamu bekerja dengan benar setidaknya sekali saja untuk orangtuamu?"
Farshall tersenyum sinis.
"Apa kamu sedang mendikteku?"
"Tidak. Aku cuma mau kasih tahu. Kalau aku bukan wanita malam lagi. Aku sudah sembuh dan aku bukan orang yang bisa kamu rendahkan." jawab Gisel dengan tatapan yang tajam.
"Kamu sembuh dari kehidupan malam tapi mencoba mencari klien di Salim Group? Hah. Lucu sekali kamu." sahut Farshall.
Gisel tertawa mendengar ucapan Farshall.
"Sekarang aku mau tahu. Kamu bisa mengalahkan pacarku atau tidak di Salim Group." kata Gisel.
"Pacar? Hahahaha. Kamu sekarang punya pacar dan siapa yang mau menerimamu sebagai pacarnya? Hanya orang bodoh yang mau menerima pelacur seperti kamu!" jawab Farshall merendahkan Gisel sedemikian rupa. Gisel masih menahan dirinya menghadapi Farshall.
"Baiklah. Suatu saat nanti kamu juga tahu siapa dia. Atau kamu tidak perlu kuberitahu. Karena kamu akan pingsan." Gisel berusaha keluar dari mobil itu. Ia membuka kunci pintunya dan melangkahkan kaki keluar dari mobil Farshall.
"Siapa pacarmu? Manajer? Supervisor? Hei. Siapa?" Farshall masih berusaha menanyakan siapa orang yang berhubungan dengan Gisel di Salim Group. Tapi Gisel dengan cepat menutup pintu dan pergi dari hadapan Farshall.
*****
Gisel kembali ke apartemen dengan hati yang kesal. Ia tidak menyangka akan mendapatkan hinaan dari lelaki bejat. Ia melempar tasnya dan menelungkupkan wajah di sofa. Ia menangis karena sakit hati dengan ucapan Farshall padanya.
"Gisel." panggil Liana yang melihat Gisel menangis tersedu - sedu.
Gisel mengangkat kepalanya dan menatap Liana.
"Kenapa kamu? Kok kamu nangis begitu?" ujar Liana histeris.
"Apa Farshall mencariku ke kelab?" tanya Gisel. Liana mengangguk.
"Kenapa dia? Kamu ketemu dia tadi?"
"Laki - laki brengsek! Kenapa dia bisanya hanya membuat orang kesal? Apa dia nggak punya sesuatu yang dibanggakan selain uang?" Gisel merasa dongkol. Ia tidak bisa menerima sikap Farshall yang kelewat batas.
"Kemarin dia mengamuk lagi di kelab. Dia memintamu datang dan melayaninya. Semua orang bergantian menemani dan tidak ada satupun yang selamat setelah keluar daru ruang VIP. Mereka dimarahi, dicaci maki, bahkan ada yang disiram oleh air. Benar - benar membuat sakit kepala Farshall itu dan selalu saja membuat masalah." cerita Liana.
"Aku benar - benar menyesal kenal dengan orang gila seperti itu." ucap Gisel.
"Ya, mau bagaimana lagi. Diantara semua orang memang cuma kamu yang bisa menaklukkan Farshall. Satu - satunya biang masalah di kelab ya memang cuma dia." sahut Liana.
*****
Ternyata Gisel cukup bisa membuat sesuatu untuk dimakan, batin Brian.
Tapi ada dua kotak disitu. Untuk siapa satu kotak lagi?
Apa harus kuberikan pada Pak Liam?
Baru saja Brian akan memberikannya pada Pak Liam, tapi Brian meletakkan kotak makanannya lagi.
Biar kumakan semua sendiri.
Saat Brian ingin menyuap omeletnya, Bella membuka pintu dan menghampiri meja Brian.
Bella melihat kotak makanan di meja Brian berisi omelet.
"Kamu bawa bekal?" tanya Bella dengan heran.
"Tidak. Aku tidak membawanya." jawab Brian.
Bella terdiam dan menatap Brian yang menyuap sedikit makanannya. Kemudian Bella menaruh beberapa dokumen diatas mejanya.
"Aku mengerti kamu sedang jatuh cinta. Tapi... jangan lupakan pekerjaanmu." kata Bella menunjuk dokumen yang baru saja ia taruh.
"Kamu mau?" Brian menyodorkan kotak makanan pada Bella.
"Apa?"
"Dari Gisel." kata Brian mengalihkan pandangan ke arah lain. Bella diam saja.
"Ayolah. Tidak perlu kaku. Dengan wajahmu seperti itu, siapa yang berani mendekatimu." kata Brian yang kesal melihat wajah Bella tanpa senyuman.
Bella mengambil kotak makan itu dan pergi meninggalkan ruang Brian. Setelah Bella benar - benar pergi, Brian melanjutkan kembali makan omeletnya.
*****
Setelah selesai membersihkan butik dan juga membereskan beberapa baju, Gisel menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Aku tidak menyangka kamu serajin ini." kata Liana. Gisel hanya tersenyum kecut.
"Kalau tahu kamu bisa mengelola butik ini, aku sudah join sama kamu sejak dulu." ucap Liana membuka minuman untuk Gisel.
"Aku hanya berusaha menjadi lebih baik dari kehidupanku sebelumnya. Aku sadar aku telah menyia - nyiakan waktuku dengan bekerja di kelab selama tujuh tahun. Aku berharap aku belum terlambat memperbaiki kesalahanku." Gisel mencurahkan isi hatinya yang selama ini jarang ia ungkapkan.
"Semakin lama aku kenal sama kamu, kamu sebenarnya jauh dari kata 'angkuh'. Kamu sebenarnya cukup bisa mendapatkan pelanggan dengan keramahanmu." ujar Liana.
"Jangan memujiku. Nanti aku jadi besar kepala." kata Gisel tersenyum.
"Sepertinya aku nggak lolos dalam acara usaha mandiri yang diadakan oleh Salim Grup." kata Liana menghela napas.
"Benarkah? Aku pikir kamu lolos."
"Tapi kalau aku tidak lolos, Brian ingin memberikan modal untuk usaha butikku dan kamu bekerja join denganku." kata Liana.
"Benarkah Brian bicara begitu?"
Liana mengangguk.
"Iya. Dia bilang begitu. Aku nggak nyangka Brian bisa melakukan apa saja agar bisa membuatmu bekerja lebih baik dari pekerjaan lamamu." kata Liana. Wajah Gisel langsung berubah menjadi tidak terlalu senang.
"Kenapa? Kelihatannya kamu kurang suka." Liana bingung melihat perubahan wajah pada Gisel.
"Jangan mau dimodali oleh Brian." kata Gisel.
"Lho, kenapa? Mungkin modal dari Brian tidak ada apa - apanya, Gis." Liana merasa kurang setuju dengan Gisel.
"Kita bisa kok membesarkan usaha butikmu. Kalau mau modal, pakai uangku saja."
"Wow, aku nggak nyangka kalian mau memberikan modal untuk butikku."
Liana baru teringat ucapan Gisel pada waktu belum berangkat ke butik.
"Kamu katanya mau makan malam kan sama keluarga Brian? Pilih salah satu dress dari butikku. Aku memberimu gratis. Ayo pilih, pilih." Liana menarik tangan Gisel untuk memilih salah satu pakaian yang ada di butiknya.
"Benar aku boleh pilih salah satu?" tanya Gisel tidak yakin.
"Iya, ayo pilih. Coba satu - satu, mana yang bagus."
Liana dengan semangat memilihkan pakaian untuk Gisel. Senyum Gisel juga merekah karena Liana mengizinkannya untuk memilih salah satu dress. Sudah lama Gisel tertarik dengan dress cantik berwarna marun di butik Liana.
Pakaian di butik Liana memang cantik dan tidak pasaran. Salag satu dress yang Gisel kenakan adalah dress marun mengilap dan ada payet bunga kecil kecil di dadanya.
"Kamu selalu terlihat menarik dan cantik, Gis. Nggak heran kalau Brian mau melakukan apa saja demi kamu." ucap Liana memandangi Gisel yang sedang berkaca diri.