Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Teror Gisel


Bella melihat Brian baru datang setelah istirahat di luar. Pak Liam juga tidak ikut dengannya. Bella semakin hari semakin penasaran kemana Brian pergi sebenarnya. Karena tidak biasanya ia meninggalkan pekerjaan pada saat jam kerja.


Pak Liam memasuki ruangan Brian. Dan melihat jam yang ada di dinding ruangan Brian.


"Tuan." panggil Pak Liam. Brian hanya menjawab tanpa melihat Pak Liam dan menulis di atas mejanya.


"Iya, Pak?"


"Saya rasa lebih baik besok Tuan makan siang di kantor saja." saran Pak Liam.


Brian berhenti menulis dan menengadah ke arah Pak Liam.


"Kenapa, Pak? Apa ada masalah?" tanya Brian.


"Tidak, Tuan. Hanya saja Ibu Bella selalu memperhatikan kemana Tuan pergi." jawab Pak Liam.


Brian terlihat berpikir setelah Pak Liam mengatakan itu semua.


"Pak Liam tahu siapa yang saya temui selama ini?" tanya Brian. Ia penasaran karena Pak Liam tidak pernah menanyakannya.


"Saya hanya tahu itu adalah seseorang yang Tuan temui pada saat di taman hias." jawab Pak Liam sesederhana itu. Brian mengangguk mengerti.


"Tolong bantu saya sementara ini. Pada akhirnya saya juga akan mengenalkannya pada keluarga saya." kata Brian. Kemudian disambut dengan angukan Pak Liam..


"Baik, Tuan. Untuk besok akan saya belikan makanan dulu. Tuan bisa bertemu dengannya setelah pulang kerja." sahut Pak Liam.


"Terima kasih, Pak."


Pak Liam mengangguk tersenyum dan pamit meninggalkan ruangan Brian. Brian melanjutkan pekerjaannya dan memikirkan cara bagaimana agar bisa bertemu dengan Gisel.


*****


Gisel kembali ke butik dan melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Liana masih belum kembali juga ke butik. Hanya ada satu karyawan yang sejak tadi menjaga butik.


"Liana belum kembali?" tanya Gisel pada karyawannya.


"Belum, Bu." jawab karyawan itu menggelengkan kepalanya.


Gisel mulai menanyakan keberadaan Liana yang tidak jelas kemana perginya.


Sementara itu, ternyata Liana menyerahkan proposal tentang usaha mandirinya ke kantor Brian tanpa sepengetahuan Bella. Brian cukup terkejut dengan kedatangan Liana yang secara tiba - tiba dan formal seperti ini.


"Interview usaha mandiri sudah selesai, Liana." kata Brian. Liana terlihat kecewa.


"Kemarin Bella datang ke butikku dan menyampaikan bahwa ada usaha mandiri yang akan jadi partnership. Tapi aku belum selesai menyelesaikan proposalku. Jadi meskipun telat, aku berusaha kemari." jelas Liana. Brian merasa tidak enak Liana mendatanginya seperti ini.


"Jadi kamu tahu info ini telat?" tanya Brian.


Liana mengangguk. Kemudian Brian mengambil proposal yang Liana bawa dan membaca rinciannya. Ia membolak balikkan proposal itu dan Liana menunggunya dengan harap - harap cemas.


"Akan aku pikirkan semua ini. Pengumuman tinggal dua hari lagi. Aku harap aku masih bisa merundingkan ini dengan Bella." jawab Brian. Liana tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih, Brian. Seandainya proposalku tidak diterima, tidak apa - apa. Mungkin di waktu lain aku masih ada kesempatan untuk menjadi partner bisnis di perusahaan ini." kata Liana. Brian tersenyum dan mengangguk.


"Kamu sudah tahu kan kalau Gisel keluar dari kelab?" tanya Brian langsung kepada intinya. Liana sedikit salah tingkah jika Brian menanyakan tentang Gisel padanya.


"Iya, aku sudah tahu kok." jawab Liana.


"Apa kamu tahu apa yang Gisel kerjakan sekarang? Karena dia sudah tidak di kelab lagi, pasti ada hal lain yang dia lakukan." tanya Brian. Liana hanya tersenyum mendengar pertanyaan Brian.


"Dia bekerja di butikku." jawab Liana pelan.


Brian terbalalak kaget dan tidak percaya dengan apa yang Liana katakan.


"Bekerja di butikmu?" tanya Brian.


Liana hanya mengangguk pelan mengiyakan. Brian terlihat berpikir apa yang seharusnya ia lakukan agar Gisel bisa mengolah butik seperti Liana.


"Seandainya proposalmu tidak diterima karena telat dan tidak mengikuti interview, aku akan memberikan tambahan modal untuk butikmu."


Mata Liana bersinar terang dan bahagia mendengar apa yang baru saja Briab katakan.


"Tapi, Gisel adalah partner bisnismu ya. Bukan orang yang bekerja di bawahmu." ucap Brian menekankan itu pada Liana.


Liana hanya menyeringai pelan.


Gisel lagi, Gisel lagi.


Liana hanya bisa mengatakan dalam hati.


*****


Liana kembali ke butik dan melihat Gisel yang sudah selesai menghitung stoknya. Sekarang Gisel sedang makan di sofa yang biasanya ia tempati.


"Sudah kembali? Kamu dari mana saja?" tanya Gisel. Liana menghela napas dan melempar tasnya diatas sofa.


"Aku habis dari perusahaan Brian." jawab Liana.


"Untuk apa?" tanya Gisel terkejut.


"Aku menyerahkan proposal usaha mandiriku. Bella memberitahuku telat sekali. Jadi aku semalaman menyiapkan itu." jawab Liana.


"Untuk apa repot - repot datang ke sana?" tanya Gisel melanjutkan makannya.


"Maksudmu apa? Kalau aku nggak kesana, aku mungkin nggak punya kesempatan untuk mengembangkan usaha butikku." kata Liana mulai terdengar sewot.


"Maksudku, tadi dia ke Flavor Garden sebrang sana. Kalau kamu tadi bicara padaku, kamu nggak perlu capek - capek ke kantornya." jawab Gisel. Liana hanya memandang lemas Gisel dan tubuhnya kini sudah benar - benar lelah karenanya.


Liana menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya sejenak. Ia benar - benar lelah hari ini. Kemudian, lonceng pintu butik Liana berbunyi. Bukan Bella yang datang kali ini. Tetapi, itu adalah Marcus. Gisel tertegun melihat kedatangan Marcus.


"Kamu kemana saja? Aku cari di kelab, katanya kamu udah nggak kerja disana lagi. Aku cari di rumah, kamu sudah jarang ke rumah. Apa benar kamu keluar dari kelab?" tanya Marcus.


"Iya, aku sudah keluar dari kelab." jawab Gisel.


"Lalu bagaimana? Kamu bekerja di tempat Liana? Apa cukup untuk kebutuhanmu sehari - hari?" tanya Marcus.


"Kamu khawatir padaku?" tanya Gisel yang sudah melihat kekhawatiran di wajah Marcus.


"Tidak, aku hanya..."


"Marcus." Gisel memotong ucapan Marcus yang belum selesai.


"Sudah terlalu lama aku bekerja seperti itu dan banyak caci maki yang aku terima."


Marcus selangkah mendekati Gisel, meraih bahu Gisel tetapi Gisel langsung melangkah mundur.


"Aku juga ingin kamu menjaga jarakmu." kata Gisel membuat Marcus bingung.


"Ada apa denganmu, Gisel? Kamu tidak seperti biasanya." tanya Marcus.


"Aku berhenti melakukan **** dengan siapa saja mulai sekarang dan aku akan memilih jalanku sendiri." kata Gisel tegas menatap Marcus.


"Kamu tidak seperti biasanya. Apa kamu sakit?" Marcus masih tidak terlalu peduli dengan tatapan Gisel. Ia hanya menatap Gisel dengan penuh gairah.


"Berapa kamu akan membayarku?"


Pertanyaan Gisel membuat Marcua menghentikan tatapan gairahnya.


"Membayarmu?"


"Selama ini kamu gratis dan pura - pura tidak tahu bahwa pekerjaanku adalah wanita malam?" Kali ini, Gisel mulai terlihat tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Menikmati tubuhku padahal kita bukan sepasang kekasih. Kamu menghinaku, Marcus?" Gisel menyipitkan matanya. Tatapan Marcus membuat Gisel tidak nyaman. Karena selama ini Marcus hanya menginginkan tubuhnya saja.


"Kalau kamu mau berhenti, ya berhenti saja. Tapi tidak perlu memintaku membayarmu. Selama ini kita melakukannya atas dasar suka sama suka kan? Jadi kenapa kamu minta bayaran dariku sekarang?" Marcus ingin sekali menerkam Gisel dan meraba payudaranya yang ranum. Gisel membalikkan badannya dan pergi dari hadapan Marcus.


Gisel berjalan cepat dan tidak ingin melihat wajah Marcus lagi.


Tetapi tidak semudah itu Marcus menyerah. Sambil mengikuti Gisel, Marcus meneriaki namanya.


"Gisel! Aku akan datang ke rumahmu nanti malam!" teriak Marcus. Tapi sekali lagi, Gisel tidak mempedukikannya.


Gisel memasuki butik Liana dan kembali menyandarkan dirinya di sofa.


"Kenapa, Gis? Mau apa dia kemari?" tanya Liana khawatir melihat perubahan wajah Gisel.


"Rasanya sekarang aku harus benar - benar melepas kehidupan malamku. Marcus psikopat benar - benar gila!" kata Gisel.


"Ganti passcode rumahmu dan jangan biarkan dia mengganggu hidupmu lagi." kata Liana.


"Kamu juga harus beritahu Brian soal ini, Gisel."


Gisel tidak yakin apakah ia harus memberitahu Brian. Tapi melihat dari kondisinya, ia memang benar - benar harus memberitahu Brian.


*****


Selesai bekerja, ponsel Brian bunyi, tidak biasanya Gisel menelponnya pada jam segini jika ia tidak menghubunginya lebih dulu.


Brian langsung mengangkat telpon dari Gisel dan suara Gisel terdengar sangat cemas.


"Brian, kamu sudah pulang kerja?" tanya Gisel. Brian merasa sedikit heran dengan pertanyaan Gisel tapi ia mencoba memakluminya.


"Sudah. Ada apa Gisel? Kenapa kamu terdengar khawatir?"


"Datanglah jemput aku di butik Liana. Aku akan menceritakan semuanya nanti." kata Gisel.


Brian langsung menutup telponnya dan memasuki mobilnya. Setelah menyalakan mobil, dia langsung menyetir ke butik Liana.


Gisel dengan gelisah menunggu kedatangan Brian. Dengan memegangi ponselnyal, ia melihat kesana kemari berharap Brian segera datang.


Setelah Brian datang, Gisel langsung menghambur ke pelukannya.


"Akhirnya kamu datang." kata Gisel. Brian merasa Gisel kali ini benar - benar ketakutan dengan sesuatu.


"Ada apa, Gisel? Kenapa?"


"Aku mohon tolong aku, Brian." kata Gisel menatap Brian dengan mata yang nanar.


Setelah merasa tenang dengan hatinya, Gisel diajak pulang diantar oleh Brian. Brian sendiri sebenarnya paham dengan maksud Gisel. Hanya saja, Brian tidak berpikir bahwa pekerjaan Gisel, Gisel mendapatkan teror seperti ini..


"Aku ingin mengganti passcode rumahku. Aku nggak mau dia datang lagi ke rumahku." ujar Gisel.


"Memang dia sering ke rumahmu?" tanya Brian sambil menyetir dengan perlahan.


"Aku dulu kenal dia pada saat di gym. Dia sering membawakanku makanan karena tahu aku tidak begitu pintar memasak. Tapi di samping itu dia juga selalu merabaku bahkan memintaku untuk melakukan ****." cerita Gisel. Tanpa disadari wajah Brian terlihat merah menahan marahnya.


"Tapi aku nggak mau mengecewakan kamu lagi, Brian." kata Gisel membuat hati Brian sedikit berdesir. Ia tidak menyangka Gisel akan mengatakan itu padanya.


"Kenapa begitu?"


Gisel sedikit terdiam. Memikirkan jawaban apa yang sebaiknya ia berikan untuk Brian.


"Aku tidak mau menyia - nyiakan ketulusan seseorang demi keegoisanku." jawab Gisel kemudian tersenyum. Ia melihat Brian yang sedang konsentrasi menyetir.


Dalam gelap malam dan hanya diterangi oleh lampu jalanan, wajah Brian begitu tampan. Hati Gisel kini semakin hangat berada di dekat Brian.