Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Bekerja Sama


Edith memarkirkan mobilnya di sebuah lapas yang beberapa kali ia kunjungi sebelumnya. Sebelum bertemu dengan tahanan yang di maksud, ia menuliskan nama di daftar pengunjung. Ia menuliskan nama Marcus disana.


Ya. Edith bertemu dengan Marcus. Lelaki hidung belang yang sempat dijebloskan ke penjara oleh Brian. Sebenarnya Marcus tidak begitu mengenal siapa Edith. Tapi ia sangat penasaran karena ia sudah beberapa kali menolak kunjungannya. Kali ini ia setuju menemui Edith.


Marcus diantar ke sebuah ruangan oleh penjaga sel. Ia berjalan menuju ruang tunggu yang biasa digunakan oleh kerabat yang ingin mengunjungi kerabatnya.


Marcus akhirnya melihat bagaimana sosok Edith yang sesungguhnya. Cantik dengan rambut sebahu. Kenapa wanita secantik ini mau menemui tahanan di penjara? batin Marcus.


"Siapa kamu?" tanya Marcus bingung.


Edith yang ditanya tersenyum dan mengulurkan tangannya. Tapi Marcus menolak menjabat tangannya dan menunjukkan tangannya yang diborgol.


"Aku akan membantumu keluar dari sini." ucap Edith.


Marcus tertarik dengan apa yang Edith ucapkan.


"Bagaimana caranya? Tunggu, bukan bagaimana caranya, tapi apa yang kamu inginkan karena sudah mengeluarkan aku dari penjara?" tanya Marcus terdengar sinis tapi ia senang ada orang yang tidak banyak basa-basi seperti Edith.


"Langsung saja ke intinya." kata Edith mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto wanita cantik yang di potret diam-diam dari kejauhan.


"Kenal dia?" tanya Edith.


"Ah, Gisel. Siapa yang nggak kenal dia? Wanita yang melacurkan dirinya. Dan bermain dengan sempurna." ucap Marcus tersenyum lebar. "Bagaimana kamu tahu wanita itu?" tanya Marcus.


"Kamu masuk kesini karena dia kan?" tanya Edith.


"Ah, benar. Karena aku menyelinap rumahnya. Dan ada seorang pria yang tidak aku kenal membawaku kesini."


"Salim Group?"


"Ah, rupanya kamu punya hubungan dengan mereka semua. Benar kan?" tebak Marcus cerdik.


Edith tersenyum.


"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Marcus cepat.


"Buatlah penyesalan karena Gisel telah membuatmu berada disini." kata Edith.


"Berapa kau akan membayarku?"


"Aku kan sudah mengeluarkanmu dari penjara." ucap Edith.


"Yang benar saja. Aku butuh makan setelah keluar dari sini. Ya, kan?" kata Marcus licik.


Edith tidak mungkin menyebutkan nominalnya.


"Pertama, keluar dulu dari sini. Setelah itu baru bicarakan bayaranmu."


Marcus mengangguk setuju.


Edith menyudahi percakapannya dan pergi dari ruangan itu.


Beberapa hari kemudaian Edith menepati janjinya mengeluarkan Marcus dari penjara. Ia menjamin Marcus dan menandatangani berkasnya.


Setelah bisa menghirup udara segar di luar penjara, ia melihat Edith yang berpakaian rapi dengan blazernya.


Marcus tertawa melihat wanita cantik yang dipenuhi dengan dendam ini.


"Aku tidak menyangka wanita secantik kamu memiliki dendam. Kalau boleh aku tebak, ini pasti masalah cinta segitiga ya?" lagi-lagi Marcus bisa menebaknya dengan cepat. Cerdik sekali dirinya memang.


"Lakukan saja apa yang sudah menjadi tugasmu. Aku sudah menjaminmu. Jangan buat aku kecewa." kata Edith.


"Tenang saja. Kebetulan aku masih punya urusan yang belum selesai dengan wanita itu."


Edith langsung pergi meninggalkan Marcus dan menuju mobilnya. Dengan cepat ia melesatkan mobil SUV miliknya.


Marcus pergi meninggalkan lapas dengan hati yang sangat gembira.


**********


Keesokan harinya, Gisel menyimpan cincin pemberian Brian di kotak perhiasannya. Ia tidak ingin cincin itu menjadi perhatian banyak orang. Cincin itu sangat berharga bagi Gisel.


Gisel tidak tahu apartemen itu dibayar bulanan atau memang sudah dibeli oleh Brian. Ia hanya percaya bahwa Brian akan menjaganya dan melindunginya.


Gisel hari ini ke butik agak siang. Karena Liana datang pagi lebih dulu. Liana sudah memiliki janji dengan seseorang sore hari. Jadi mereka gantian berjaga di pagi hari.


Gisel menikmati paginya dengan membuat teh yang hangat. Ia juga sempat mampir ke toko roti hari ini.


Setelah bertunangan dengan Brian, suasana hatinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika sebelumnya ia merasa tidak pernah dihargai oleh lelaki, kini ia merasa sangat diistimewakan.


Ia berusaha tidak akan mengecewakan Brian dan menjadi pasangan terbaik yang pernah ada,


Ia berjalan keluar dari apartemennya,. Ia menaiki taksi dan turun di komplek pertokoan mewah dimana butik Liana berada. Tapi sayangnya, mata Gisel melihat sosok lelaki yang seharusnya ia hindari. Marcus!!


Bukankan ia seharusnya di penjara? Kenapa dia bisa keluar? Gisel tidak ingin bertatap mata dengan Marcus. Gisel langsung membalikkan badannya dan berjalan cepat menjauh dari Marcus. Ia tidak ingin Marcus melihat dirinya.


Tapi ternyata Marcus dua kali lebih cepat dari Gisel. Langkah kakinya yang panjang dengan cepat mengejar Gisel. Walaupun sudah lama tidak bertemu, Marcus masih mengenal punggung Gisel. Maka dari itu ia mengejarnya.


Dengan cepat, Marcus meraih tangan Gisel yang kemudian ditepis oleh Gisel.


"Lepaskan!!" bentak Gisel.


"Wow, tenang dulu!" ucap Marcus.


"Ngapain kamu disini? Bukannya kamu di penjara?" tanya Gisel dengan sinis.


"Kamu merasa sangat bahagia ya aku ada di penjara? Apa kamu nggak kesepian kalau nggak ada aku? Hah?" kata Marcus mendekatkan langkah kakinya setiap inci ke arah Gisel.


"Jangan dekat-dekat!" bentak Gisel.


"Tenang, aku cuma mau lihat kamu aja kok. Kok kamu semakin cantik ya? Apa aku harus menyelinap ke apartemen kamu lagi?" goda Marcus.


"Jangan gila kamu, Marcus!"


"Lalu siapa yang membuatku menggila seperti ini? Kamu meninggalkan aku dengan pria lain? Padahal kamu tahu persis tiga tahun lamanya kita bercinta Gisel!"


Plaakkkk!!!


Gisel menampar wajah Marcus dengan kencang. Ia merasa jijik dengan mendengar Marcus berbicara seperti itu.


Marcus mengelus wajahnya yang merah. Ia juga tersenyum sinis pada Gisel.


"Jadi begini kamu memperlakukan aku? Setelah dulu kita saling mencintai, kamu buang aku seperti sampah? Ingat, Gisel, kamu hanya pelacur yang tubuhmu saja sudah banyak ditiduri oleh laki-laki!!" ujar Marcus marah.


Gisel merasa sedih. Ia merasa kecewa dengan keadaan ini. Tempat itu memang tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi. Tapi suara Marcus cukup membuat orang lain bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Marcus.


Gisel merasa malu diperlakukan seperti itu oleh Marcus.


"Apa mau kamu? Mempermalukan aku di depan umum seperti ini?" tanya Gisel. Matanya sudah mulai berkabut. Ia sengat sakit hati dengan Marcus diperlakukan seperti itu di depan umum.


"Kembalilah padaku, Gisel. Jangan pria itu! Aku mencintaimu, Gisel!"


"Ikut aku, Gisel. Kita bicara lebih banyak lagi." Marcus menarik tangan Gisel dengan paksa. Gisel berusaha menolak dan menarik tangannya lepas dari Marcus. Tapi usaha itu sia-sia. Tenaga Marcus lebih besar dari kelihatannya.


"Lepaskan aku, Marcus!!" teriak Gisel. Tapi ia enggan melepas tangan Gisel.


Gisel dipaksa mengikuti kemana arah Marcus pergi. Di parkiran, Marcus menekan tubuh Gisel ke sebuah truk boks yang sedang terparkir. Gisel terhimpit disana. Tubuh Gisel dikunci oleh Marcus hingga Gisel tidak bisa bergerak sama sekali.


"Lepas!!"


Marcus memaksakan dirinya mencium wajah Gisel. Tapi Gisel menolak dan menghindari wajah Marcus.


Edith yang sudah menunggu Marcus datang, kini telah siap dengan kameranya. Ia akan segera memotret Marcus yang sedang mencium Gisel dan....


Belum sempat memotret, kamera Edith diambil oleh seseorang dengan tubuh yang kekar dan tinggi. Dengan wangi parfum yang khas, rasanya Edith langung mengenalinya.


Astaga! Brian!! pekik Edith dalam hati.


"Kamera ini bagus." kata Brian memandangi kamera milik Edith. Sedangkan Edith hanya terdiam melihat Brian ada disana.