
Gisel dan Brian sudah sampai di restoran yang sebelumnya sudah di reservasi oleh Brian. Restoran bergaya Eropa itu terlihat indah dan dekorasinya terlihat nyaman dipandang mata. Brian menarik kursi untuk Gisel. Gisel merasa bahagia sekali dengan sikap Brian yang manis seperti ini.
Brian memesankan steak dua porsi untuk makan siang. Gisel bisa makan makanan apapun, jadi dia tidak pernah protes diajak makan apa saja oleh Brian. Sebenarnya hari ini Gisel hanya 'terima jadi' dari Brian. Mulai dari restoran, menu dan semuanya, Brian yang melakukannya. Gisel hanya terpana melihat sikap Brian hari ini.
"Tempat ini bagus." kata Gisel.
"Mulai hari ini aku akan membawa kamu ke tempat yang bagus." ucap Brian.
"Contohnya?" tanya Gisel tersenyum.
"Apa tempat yang belum pernah kamu kunjungi?" tanya Brian.
"Bali? Lombok? Aku suka pantai. Pasti terasa menyenangkan bisa pergi ke pantai." jawab Gisel.
"Iya, tidak perlu jauh-jauh ya, di Indonesia saja banyak tempat yang bagus."
"Tapi aku nggak mau pergi sendiri, lho." kata Gisel
"Iya, kamu tenang aja kalau itu."
Pesanan mereka datang. Steak itu terlihat sangat lezat. Cacing di perut Gisel teriak dengan sangat cepat ingin menyantap steak yang sangat lezat dihadapannya itu.
"Aku yakin, kamu pasti suka." kata Brian.
"Ini kelihatan enak banget. Kita makan yuk?" ajak Gisel yang sudah lama tidak memakan steak.
Brian mulai memotong dagingnya menjadi potongan kecil yang bisa dimasukkan kemulut hanya dalam sekali suap. Stelah memotong daging, ia memberikan piringnya pada Gisel. Gisel yang sedang berusaha memotong daging itu terkejut Brian yang menukar piringnya.
"Makanlah."
Gisel tersenyum dan mulai menyuapi satu potong daging steak yang terasa begitu lumer di mulut Gisel ketika ia mengunyahnya.
"Gimana? Suka kan?"
Enak banget. Thanks ya, Bri, sudah ngajak aku kesini. Aku suka banget."
Brian tersenyum. Ia juga menyuapi bagiannya.
Belum lama mereka memakan steak, ada kue dengan ukuran kecil datang ke meja mereka.
"Mas, kita nggak pesan ini. Bri, kamu pesan?"
Brian mengangguk.
"Terima kasih ya, Mas."
Setelah meletakkan kue berukuran kecil diatas meja, pelayan itu pergi meninggalkan meja.
"Kamu bisa menghabiskan semua itu, Bri? tanya Gisel.
"Kalau nggak habis, bawa pulang saja, kamu makan berdua Liana." kata Brian terdengar santai.
"Oke, Bri." kata Gisel. Ia merasa hari ini Brian memperlakukannya dengan sangat spesial. Belum pernah ia diperlakukan seperti ini sebelumnya. Ini adalah kali pertamanya.
Setelah selesai menyantap hidangan steak yang lezat, Gisel minum segelas air putih secara perlahan. Terasa lezat sekali makan siang kali ini. Ia melihat kue diatas meja yang belum disentuh sama sekali.
"Bri, ini gimana? Kamu masih sanggup makannya?" tanya Gisel.
"Bungkus saja nanti bawa pulang." kata Brian. Baru saja ingin memanggil pelayan untuk membungkuskan makanannya, Brian menahannya.
"Potong dulu kuenya." Kata Brian.
"Sayang, kuenya cantik banget." kata Gisel.
dengan cepat , Gisel mengeluarkan ponselnya dan memotret kue yang cantik itu.
Brian juga memberikan pisau agar Gisel memotong kue itu.
Betapa kagetnya Gisel ketika tengah memotong kue itu, ada sesuatu yang keras di dalam kue.
"Ini apa ya, Bri? Nggak bisa dipotong loh."
"Masa sih? Coba sekali lagi." kata Brian. Gisel masih berusaha memotong kue itu, tapi tetap tidak bisa.
"Keras. Apaan sih? Masa ada coklat di dalamnya?"
Dengan rasa penasaran, Gisel mencoba memotong lagi dari sisi yang lain.
"Keras juga, Bri. Apa ya?" tanya Gisel.
Brian sangat gemas dengan Gisel. Ia bangkit dari duduknya dan segera membantu Gisel memotong kue itu. Setelah kue berhasil dipotong, Brian mengeluarkan kotak kecil yang memang sudah tertanam di dalam kue itu.
Deg, apa itu? tanya Gisel dalam hati.
Brian membuka kotak kecil itu dan menunjukkan pada Gisel cincin berlian asli yang ada dalam kotak itu.
Brian menekuk salah satu kakinya dan membungkuk dihadapan Gisel. Gisel menengok ke arah kanan dan kiri. Ia merasa malu dilihat banyak orang disana. Wajahnya memerah dan ia sudah terlambat menutupi wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Gisel, kamu tahu betapa aku menunggumu selama ini? Aku ingin bersamamu sepanjang waktu. Aku tidak ingin hidupku merasa sepi lagi tanpa hadirnya dirimu. Aku ingin kamu selalu berada disisiku, mendampingi hidupku dan menerangi setiap langkahku yang gelap. Gisela, would you be my wife?"
Ahh... hati Gisel berdegup dengan kencang. Apa ini? Apa? Brian mencoba untuk melamarnya di restoran? Gisel sangat malu tapi ia ingin sekali menjawab Brian saat ini juga. Ia bahagia sekali dilamar oleh Brian seperti ini. Ia tidak serakah kan? Ia tidak serakah jika menginginkan Brian mengingat masa lalunya yang begitu kelam.
Gisel menitikkan air matanya. Ia langsung menghapus air matanya yang terjatuh membasahi pipinya. Ingin rasanya ia menangis dengan keras disana. Tapi ia terlalu malu melakukannya. Gisel tersenyum dan menatap mata Brian.
"Yes, Brian." jawab Gisel. Tidak sanggup menahan tangisannya ia langsung memeluk Brian. Hatinya berdebar dilamar oleh Brian ditempat umum seperti ini. Tapi Gisel tidak menanyakan alasannya melamar di tempat seperti itu. Gisel merasa bahagia sampai tidak dapat berkata-kata.
Brian melingkarkan cincin mata berlian yang indah itu ke jemari Gisel. Setelah cincin itu disematkan ke jemari Gisel yang kecil, Kini Jemari itu semakin terlihat cantik karena ada cincin yang menghiasi jari-jari manisnya. Brian mencium tangan Gisel dengan penuh kasih. Menatap mata wanita itu yang kini dipenuhi air mata kebahagiaan.
Brian mengusap pipi Gisel yang dipenuhi air mata. Gisel pun tertawa.
"Jelek ya?" kata Gisel.
"Kamu cantik, kok." jawab Brian.
"Aku malu, Bri." kata Gisel.
"Ini adalah rencanaku. I love you, Gisel." kata Brian tersenyum.
"I love you too, Bri." sahut Gisel. Ia memeluk Brian sekali lagi sebelum, akhirnya benar-benar pergi meninggalkan restoran itu. Gisel yang tadinya merasa malu dilihat banyak orang, kini berubah menjadi perasaan bahagia.
Belum pernah ada lelaki yang memperlakukan Gisel sebegitu istimewanya seperti Brian memperlakukannya. Brian adalah lelaki setelah Ayahnya yang memperlakukan Gisel dengan istimewa.
Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Brian. Ia tidak ingin merasa sepi dan kecewa lagi karena lelaki. Cukuplah hanya Brian yang ada dihatinya kini.
Brian mengantar Gisel kembali ke butik. Ia harus cepat kembali, karena akan bergantian dengan Liana yang juga akan makan siang.
"Nanti jangan pulang sendiri ya. Aku akan menjemputmu." kata Brian. Gisel mengangguk. Sebelum Gisel turun dari mobilnya, Brian mengecup dahi Gisel. Gisel merasakan degup jantungnya yang berdebar kencang. Perasaan baru yang menghinggapi hatinya kini benar-benar membuatnya bahagia.
"Aku masuk ya. Aku mau gantian dengan Liana. Dia pasti juga mau makan siang."
"Take care ya." kata Brian. Gisel mengangguk. Ia turun dari mobil sambil membawa kue yang ada di restoran tadi. Ia akan memakannya bersama dengan Liana.
Gisel tidak sabar ingin menceritakan tentang makan siang hari ini pada Liana. Bagaimana wajahnya nanti jika Liana tahu bahwa Brian telah melamarnya? Ah pasti senang sekali. Hati Gisel masih sangat berbunga-bunga. Ia berjalan dengan hati yang riang hingga sampai di butik.