
Eylana akhirnya tampak bernapas lega setelah meladeni dengan susah payah serta berat hati pada kunjungan Lady Moreau yang datang tiba-tiba mengunjunginya.
“ jika hanya ingin membicarakan Louis, bisa saja katakan di dalam surat tanpa perlu datang tiba-tiba dan mendadak, ” batin Eylana dengan lelah serta sedikit kekesalan hanya untuk bersiap-siap menyambut Lady Moreau.
Eylana berpikir seperti menyia-nyiakan waktu hanya untuk mendapatkan informasi tentang Louis yang hanya mengunjungi sebuah butik. Karena informasi tersebut membuat pikiran Eylana terbang jauh dan semakin liar.
Eylana beranjak dari kursinya menuju kamarnya, Eylana memiliki ide yang lebih baik untuk meredakan kecemasan serta pikiran nya yang berlebih saat menyangkut Louis.
Eylana membuka pintu kamar tidur nya dengan perasaan bersemangat serta antisipasi dan langkah kakinya langsung menuju kucing berbulu putih yang sedang tertidur di tumpukan selimut dengan perban yang melilit tubuhnya.
Eylana kemudian berjongkok dan dengan hati-hati mengamatinya serta memiliki keinginan kuat untuk mengelus bulu putihnya yang bersih seperti hamparan salju.
“ sangat cantik, aku ingin mengelus-elus nya tapi jika kucing ini terbangun, bagaimana?, ” batin Eylana dengan kontemplasi.
Eylana berpikir dengan sangat keras, pada akhirnya rasa gemas dari hewan berbulu yang tertidur dengan memamerkan perut bulat yang berbulu terlalu sulit untuk ditolak.
Perlahan demi perlahan tangan Eylana bergerak menuju kepala hewan berbulu mungil itu, saat tangannya menyentuh bulu halus, hati Eylana berdebar sangat kencang. Godaan hewan berbulu di depan nya sulit untuk di tolak.
Eylana tidak berani menganggu waktu tidur hewan berbulu ini, saat Eylana asik mengelus-elus hewan berbulu di depan nya, tiba-tiba hewan berbulu itu berubah posisi tidur dan bersuara dengan suara manis serta lembut bagi yang mendengarnya.
Tangan Eylana kaku serta jantung berdebar dengan kencang karena suara halus serta manis dari hewan sekecil ini di depan nya. Eylana masih asik mengelus-elus dan tenggelam seperti menemukan penghiburan baru dari rasa masam di benak sebelumnya.
Eylana tidak menyadari bahwa ada seseorang di belakangnya dan sebuah tangan menepuk pundak Eylana dengan lembut.
Eylana bergidik serta terkesiap dan tangan nya menggantung di udara, Eylana kemudian berbalik ke belakang nya dan melihat Jane dengan senyum canggung.
“ Jane, kau hampir saja mengagetkanku, kenapa kau datang tanpa bersuara dan seperti mengendap-endap, ” desis Eylana pada Jane.
Eylana tidak bisa mengatakan dengan suara seperti biasanya, karena dia takut kucing putih di depannya akan terbangun karena suaranya.
“ aku minta maaf nona muda, aku tidak bermaksud untuk membuatmu kaget, ” balas Jane lembut dengan senyum kecil.
“ baiklah, aku maafkan. Lain kali kau tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Apa kau mengerti, Jane?, ” pinta Eylana dengan lembut serta sedikit tegas pada Jane.
“ tentu, ngomong-ngomong apa yang kau lakukan, nona muda?, ” sambung Jane yang mengganti topik pembicaraan agar situasi tidak terlalu canggung.
“ seperti yang kau lihat, aku tidak bisa menahan untuk menyentuh bulu halus di sekujur tubuh hewan kecil ini, ” balas Eylana dengan tatapan berbinar dan masih mengelus-elus hingga akhirnya kucing yang tertidur mulai membuka matanya dan melihat menatap orang yang membangunkan dari tidurnya.
“ li- lihat Jane, kucing itu terbangun, ahhhh kenapa sangat cantik, ” pekik Eylana yang masih mengagumi kucing yang terbangun dan sepenuhnya menatap Eylana dan Jane dengan tatapan polosnya.
“ kau benar Nona muda, kucing itu masih memandangi mu, ” terang Jane pada rasa bersemangat Eylana.
Kucing itu membuka matanya perlahan dan mendongak melihat perlahan-lahan orang didepan nya dengan tatapan polos serta sesekali mengeong-ngeong.
Eylana serta Jane hanya semakin yakin bahwa kucing ini seperti harta karun yang tak sengaja mereka temukan sebelumnya.
Eylana yang tak sabar mencoba berusaha untuk menggendong kucing di depan nya dalam dekapan nya dengan sangat hati-hati. Karena sebelumnya kucing ini memiliki luka yang parah.
Eylana berjalan dan duduk di atas ranjang tempat tidurnya, masih mendekap kucing yang terlilit perban di sekujur tubuhnya dengan kehati-hatian dan tatapan penuh kasih sayang.
“ Jane, bagaimana kondisi kucing ini, tidak ada yang aneh. Selama aku pergi, kan?, ” tanya Eylana lembut dengan nada kekhawatiran yang terlihat jelas.
“ yakinlah nona muda, sebelumnya aku sudah membawa lagi pada tabib. Tabib mengatakan kondisi kucing sudah membaik dari sebelumnya. Asalkan rajin mengolesi obat yang diberikan tabib serta mengganti perban, ” jawab Jane dengan suara yang riang.
Eylana mulai mengeluarkan nafas lega dan menatap kucing dengan tatapan prihatin serta kasih sayang.
“ aku senang mendengarnya, jangan terluka lagi, yah? Aku sedih melihatmu dalam kondisi terluka, si kecil, ” pungkas Eylana penuh kasih sayang pada kucing.
Kucing itu hanya menatap Eylana dengan tatapan polos dan hanya membalas mengeong-ngeong. Eylana kemudian menyadari kenapa dia berbicara pada kucing, karena kucing tidak mengerti bahasa manusia.
Kemudian Eylana tertawa dan Jane yang melihat nona mudanya bahagia ikut tertawa. Suasana di kamar Eylana sangat hangat ditambah kehadiran kucing putih yang sebut saja si kecil.
Eylana menyadari sepertinya ada sesuatu yang terlewat dan menoleh menatap Jane dengan tatapannya.
“ Jane, kurasa aku tidak bisa memanggil kucing ini si kecil, sangat tidak sesuai, kan?, ” celetuk Eylana tiba-tiba pada Jane.
“ hmm bagaimana jika nona muda memberikan nama untuk si kecil atau apakah nona muda sudah terpikirkan sebuah nama yang tepat untuk kucing ini, ” jawab Jane dengan riang dan menatap Eylana dengan antisipasi yang sama.
Eylana kemudian berpikir keras. Nama apa yang cocok untuk kucing dalam dekapannya dan tidak terlalu monoton serta pasaran untuk diucapkan.
Eylana dengan hati-hati mulai mengangkat kucing itu dengan kedua tangannya agar Eylana bisa memerhatikan kucing itu dengan sempurna serta tak terlewat.
“ kucing ini memiliki bulu putih yang mengingatkan ku pada musim salju yang memiliki kilau putih serta mata biru yang memesona seperti halnya permata. Aku akan memberikan nama sebagai “ Snowflake ”, ” papar Eylana dengan tatapan kasih sayang serta senyum manis.
“ nama yang sangat indah, nona muda, ” sahut Jane dengan perasaan bahagia dan memuji Eylana atas pemberian nama untuk kucing putih di pelukannya.
“ Snowflake, hari ini nama mu adalah Snowflake dan milikku, ” lontar Eylana manis dengan kasih sayang.
Kucing itu hanya membalas tatapan Eylana masih dengan wajah yang polos serta membalas dengan mengeong-ngeong.