
Apple Knox 59
"Apakah ada acara hingga kalian mengundang kami kemari?" tanya Apple.
"Aku naik jabatan dan itu artinya gajiku bertambah," sahut Lea.
"Aku ikut senang mendengarnya. Congratulation, Dear," ucap Apple dan memeluk Lea dari belakang.
"Thank you, Darling," jawab Lea tersenyum.
Lalu Lea dan Julian menyelesaikan sesi memasaknya dan menghidangkannya di meja.
Kemudian Apple dan Knox pun mulai memakannya.
"Bagaimana? Apakah rasanya enak?" tanya Julian.
"Lumayan bagi pemula sepertimu," sahut Apple.
"Ini masakan Lea. Dan kau hanya membantu melihatnya saja, Julian," kata Knox.
"Tidak, dia juga membantuku sekitar 40 persen," sahut Lea.
"See?" ucap Julian menyombongkan dirinya pada Knox.
"Lea, kau lembur lagi semalam?" tanya Apple.
"Aku selalu mengingatkannya tapi sepertinya dia benar benar workaholic," sahut Julian.
Lea hanya mengedikkan bahunya tanpa menjawab apa pun.
"Jaga kesehatanmu, Lea," ucap Apple.
"Ya, Nyonya," sahut Lea tersenyum.
Mereka makan siang bersama dengan suasana akrab bagaikan empat sahabat yang sedang berkumpul.
(Novel Julian dan Lea ntar dipisah ya.. ada judul baru dan belum tau kapan rilisnya tapi sudah disiapkan ma Author. Tungguin aja)
*
*
"Ada apa?" tanya Knox ketika Apple dan Knox sedang dalam perjalanan menuju butik.
"Aku sedang memikirkan Lea," jawab Apple.
"Karena kebiasaannya yang bekerja tak mengenal waktu?" tanya Knox.
"Ya, empat tahun tinggal bersamanya cukup membuat kami sangat dekat dan seperti saudara kandung. Tapi dia tak terlalu terbuka padaku meskipun aku selalu terbuka padanya," jawab Apple.
"Ck, aku serius," sahut Apple memukul lengan Knox.
"Lea tak pernah sekalipun berhubungan dengan seorang pria. Banyak pria yang mendekatinya, tapi tak satupun diterimanya," lanjut Apple.
"Mungkin dia terlalu sibuk bekerja dan tak punya waktu untuk berpacaran," sahut Knox.
"Ya, mungkin saja. Dia benar benar workaholic dan jam tidurnya sangat sedikit karena hal itu. Dia bahkan suka menawarkan dirinya untuk pergi tugas ke luar kota atau ke luar neger hanya karena ingin kesibukan. Dan menurutku itu berlebihan," kata Apple.
"Dia tahu apa yang dipilihnya selama itu tak membahayakan dirinya," ucap Knox.
"Ya, tapi aku tetap khawatir padanya. Dia hanya memiliki aku di kota ini dan keluarganya tinggal sangat jauh," kata Apple.
"Kau bisa kapan saja menemuinya jika kau masih khawatir padanya. Hmm?" ucap Knox.
"Ya," sahut Apple.
Knox tersenyum dan mengusap kepala Apple.
*
Sesampainya di butik, Apple dan Knox langsung masuk. Apple pun langsung mencoba gaun pengantin yang sudah dipesan sebelumnya.
"Berat badanku bertambah sepertinya," gumam Apple ketika memutar tubuhnya di kaca.
"Hei!! Aku ingin melihatnya," ucap Knox dari luar.
"Tidak, ini akan menjadi kejutan di acara pernikahan kita, Honey," sahut Apple dari dalam ruang ganti.
"Baiklah, i love you," jawab Knox dan kembali duduk di kursi tunggu.
"I love you too," sahut Apple dari dalam dengan suara yang cukup keras dan membuat beberapa pegawai di sana tersenyum.
Apple sudah mencoba tiga gaun dan akhirnya dia memilih gaun terbaik lalu membungkusnya.
"Sudah?" tanya Knox.
"Ya, aku suka terlalu lama memilih dan semua gaun itu bagus," sahut Apple.
"Kita pulang?" tanya Knox.
"Hmm, kita makan malam di mansion saja," jawab Apple.
Dan mereka langsung pulang menuju mansion dan menunggu jam makan malam tiba.