
Aran benar-benar merasa kesabarannya sudah setipis lembaran tisu yang dibagi dua. Padahal selama ini ia sudah terlatih untuk menahan emosi. Hanya saja baginya, penghinaan yang dialami Viona dan Arun, sama saja dengan menghina harga dirinya.
"Mas..."
Viona menggenggam erat tangan Aran yang terkepal guna menahan Aran sambil menatap Aran dengan tatapan memohon.
"Lho, kenapa kalian tidak makan?" tanya Sany. "Viona, ayo dimakan, kenapa hanya dilihat saja?"
"Terima kasih, melihat makanan sebanyak ini aku langsung merasa kenyang," ...