
"Sutopo, kenapa kau ikut tidur di tempat tidur?!"
Viona benar-benar kesal melihat pria yang menggeliat bak seekor kucing dengan kondisi mata masih tertutup.
Berbagi tempat tidur sempit jelas bukan tujuan Viona.
"Kita sudah sepakat kan, tadi malam aku tidur di tempat tidur dan kau tidur di lantai!"
"Aduhh! Kau ini berisik sekali!" keluh Arun.
"Aku berisik karena kau tidak mendengarku!" balas Viona.
Arun membuka matanya, memandangi Viona yang terlihat hendak meledak. Wajahnya memerah dengan deru napas seperti banteng.
"Di lantai terlalu keras, badanku sakit, jadi aku pindah ke tempat tidur. Lagipula, ini kan memang tempat tidurku, aku tidak salah kan?" Arun menyampaikan pendapatnya.
Viona mendelik gusar mendengar pembelaan pria itu.
"Ya, memang yang kau katakan itu benar, tapi kan.."
"Sudahlah, aku masih mengantuk! Aku mau tidur!"
Viona benar-benar merasa dongkol dengan Arun yang lagi-lagi bersikap seenaknya. Viona segera turun dari tempat tidur. Sudah saatnya kembali ke rutinitas karena pagi sudah tiba.
...*****...
"Vio!"
Seruan dari Mas Gede membuyarkan lamunan Viona. Viona bergegas menuju ke ruangan Mas Gede.
Viona mengamati Mas Gede yang saat ini sedang mengoleskan cat kuku pada kuku-kukunya. Hari ini pria itu mengenakan celana kargo hitam, paduan blazer berwarna hijau neon dengan kaus krem jala-jala. Pulasan cat kukunya bahkan senada dengan pakaiannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Viona.
"Vio, begini, aku baru saja mendapat kabar yang begitu mendesak dari rumah."
Mas Gede menutup kembali botol cat kukunya dengan ekspresi gusar terlihat jelas di wajah.
"Daddy aku sakit," lanjutnya.
"Ayah Mas Gede?"
Mas Gede mengangguk.
"Benar ayah mas Gede?"
"Viona, memangnya aku punya berapa Daddy? Apa kau pikir aku ini simpanan sugar daddy?"
Mas Gede melemparkan pertanyaan bertubi-tubi yang membuat Viona hanya bisa meringis.
"Kau ini kebiasaan berpikir aneh-aneh," ketus Mas Gede.
"Hehe, maaf," Viona meringis.
Habis Mas Gede sendiri yang membuatku berpikir aneh-aneh!
"Yah, hubungan aku dengan daddy memang bermasalah, daddy menentang semua yang aku lakukan."
"Aku pikir berita sakit daddy hanya akal-akalan daddy saja untuk memperbaiki hubungan kami. Tapi ternyata beliau benar-benar sakit."
Viona masih mendengarkan cerita Mas Gede dengan saksama.
"Aku tahu, ini sangat berat bagiku. Tapi saat ini, aku pikir inilah keputusan yang harus aku ambil. Aku berencana untuk meliburkan semua kelas sampai waktu yang belum bisa kupastikan," ucap Mas Gede penuh kegetiran.
"A-apa?! Libur?" Viona terperangah.
"Ya, Vio. Kondisi saat ini tidak memungkinkan untukku. Aku tidak punya kemampuan membelah diri. Seandainya saja bisa, sebagian diriku akan mendampingi daddy, sebagian lagi di sini," sahut Mas Gede.
"Lagipula, aku tidak tahu mungkin saja ini saat-saat terakhir aku bisa mendampingi daddy setelah sekian lama kami tidak pernah cocok."
Viona termenung, seketika ia teringat dengan perseteruan dengan orang tuanya.
"Vio, aku tidak mungkin bisa tetap memberimu gaji karena bisnis ini terhenti. Kau bisa mencari pekerjaan lain, tapi jika suatu hari aku kembali, aku harap kau masih bersedia mendampingiku lagi," lanjut Mas Gede.
Mata pria pesolek itu berkaca-kaca.
"Aku akan memberimu tambahan bonus. Kau juga boleh memakai seluruh koleksi outfitku. Semuanya supaya kau tidak terlihat seperti seorang fashion teroris."
"Sebagai gantinya, aku harap kau bersedia meluangkan waktu untuk sekadar bersih-bersih agar tempat ini tidak menjadi sarang laba-laba."
Viona merasa sangat sedih dengan keputusan Mas Gede. Selain ia merasa turut prihatin dengan kondisi orang tua Mas Gede, ia juga merasa sedih karena kehilangan pekerjaan.
"Jadi, kapan Mas pergi?" tanya Viona.
"Hmm, mungkin lusa, setelah aku menyelesaikan beberapa hal lain," jawab Mas Gede.
"Vio, ini bukanlah perpisahan. Ini hanya penundaan. Setelah semua selesai, kita akan bersama kembali. Bisakah kita sepakati hal ini?" tanya Mas Gede.
Viona mengangguk pelan, saat ini ia pun ragu apakah bisa mendapatkan pekerjaan baru dalam waktu dekat.
Ponsel Viona berdering, Viona melihat layar datar itu dengan perasaan gusar yang makin menjadi.
...*****...
Viona mengamati Arun yang saat ini sedang mengambil pakaian andalannya. Kaus longgar dengan celana jeans yang langsung membuat dahi Viona makin berkerut.
"Sutopo, apa kau sungguh hanya punya kaus dan celana jeans?" tanya Viona.
"Hei, aku ini adalah tipe pria yang tidak perlu memakai banyak jenis pakaian hanya untuk terlihat tampan. Aku bahkan sudah tampan sejak dalam kandungan," protes Arun.
"Ya, tapi kita akan menemui orang tuaku, setidaknya pakailah pakaian yang lebih formal!" keluh Viona.
"Apa orang tuamu itu presiden?" cibir Arun.
"Bukankah kau punya jas hitam yang keren?"
"Oh, itu bukan punyaku, dan sudah kukembalikan," jawab Arun.
Viona pun akhirnya turut serta membongkar lemari pakaian pria itu. Ia tentu harus menampilkan Arun sebagai sosok pria berpenampilan baik.
"Hei, kalau kau hambur begitu, harus kau bereskan kembali!" keluh Arun.
"Pakai ini!"
Viona menyerahkan selembar kemeja kotak-kotak yang sudah lusuh, tertimbun di dasar lemari.
"Yang benar saja! Ini pakaian yang bahkan sudah tidak layak dipakai!"
"Sudah pakai saja! Lalu rambutmu, tolong ditata yang rapi!"
"Memangnya ada masalah dengan rambutku?!"
Viona kembali mencari-cari sesuatu yang kiranya bisa membuat penampilan Arun terlihat semakin mencerminkan pria baik-baik.
Viona bahkan membongkar kopernya, ia menemukan sebuah kacamata berbingkai tebal yang dulu dibelinya hanya agar terlihat cerdas dan serius.
"Pakai ini!"
"Kau pasti bercanda!" keluh Arun. "Kenapa aku harus memakai kacamata kutu buku begini?" protesnya.
"Sudah! Pakai saja agar kau terlihat serius dan cerdas!"
...*****...
Jantung Viona bergemuruh, ia benar-benar sangat tegang selama perjalanan menuju ke rumah orang tuanya.
Viona pulang ke rumah karena ibu meneleponnya. Bagi Viona, saat inilah waktu yang tepat untuk memperkenalkan Arun sebagai suami.
Viona mencuri pandang ke arah Arun yang terlihat kesal karena harus berpenampilan bak seorang kutu buku. Selain agar pria itu terlihat cerdas dan serius, Viona tentu tidak mau Arun digoda oleh Sany. Tentu saja Sany tidak boleh menggoda Arun. Jika sampai pria itu tergoda oleh godaan Sany, pernikahan ini jelas terancam hancur berantakan.
"Ingat ya! Pokoknya kau jangan bicara jika tidak ditanya. Jika ditanya, jawab seperlunya saja, jangan berlebihan. Jangan meninggi hanya untuk merendah. Jangan merendah hanya untuk meninggi. Lalu abaikan saja Sany!"
Viona mengulang kembali detail yang harus dipahami Arun.
"Sany? Siapa dia?"
"Sepupuku," jawab Viona singkat.
"Mengapa aku harus mengabaikan Sany?"
"Pokoknya abaikan saja! Atau kau bisa berpaling hati dari pacarmu!"
"Haha!" Arun terbahak.
"Aku berpaling hati dari pacarku, atau kau tidak mau cemburu?"
Viona mencebik sinis.
"Aku tidak akan cemburu padamu, aku tidak punya hak untuk cemburu!"
"Haha!"
Tawa pria itu terdengar makin dibuat-buat.
Viona berdoa dalam hati, semoga ia bisa melalui semua ini dengan baik.
...*****...