
Viona masih menatap ke arah gawai cerdasnya. Memandangi benda pipih itu guna menanti sang kekasih yang belum juga memberi kabar.
Jangankan telepon, mengirim pesan singkat pun tak ada. Hati Viona jadi makin gundah gulana. Pikiran berlebihan merasuki benaknya. Jangan-jangan kekasihnya marah dan langsung memutuskan untuk berpisah secara sepihak.
"Mba Viona, tolong antarkan dokumen ini ke ruangan Pak Theo, sekalian minta tanda tangan beliau."
Celin, senior Viona menyodorkan setumpuk dokumen ke meja kerja Viona.
Viona bergegas menuju ke ruangan Pak Theo.
Sesampainya ...