Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Adik Kesayangan


Langit sudah berubah berwarna jingga. Angin bertiup dengan kencang. Setelah berbincang dengan Leona, Jordan memutuskan untuk pulang. Tadinya ia tidak ingin pulang. Tapi, ada seseorang yang sudah menunggunya di Mansion. Jordan tidak ingin membuat seseorang yang sudah menunggunya sejak pagi itu murkah dan marah.


Jordan menghentikan laju mobil sport miliknya di depan rumah. Pria itu turun dari dalam mobil dengan segera dan berlari ke dalam. Sambil melangkah cepat, Jordan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Suara benturan sepatu Jordan dengan marmer terdengar dengn begitu jelas.


Beberapa pengawal yang melihat kehadiran Jordan membungkuk hormat untuk menyambutnya. Dari arah tangga, wanita berusia 25 tahun turun dari tangga. Wanita itu mengenakan dres berwarna putih dengan rambut tergerai indah. Bibirnya maju ke depan dengan ekpresi wajah kesal. Ia menggenggam setangkai mawar putih di tangan kanannya.


Jordan menghentikan langkah kakinya. Pria itu mengukir senyuman manis dengan kedua tangan terbuka. “Maafkan kakak, Katterine,” ucap Jordan penuh rayuan.


“Kakak menyebalkan sekali!” rengek Putri Katterine. Wanita itu mempercepat langkah kakinya dan berhambur ke dalam pelukan Jordan. Ia sangat rindu dengan kakak kandungnya. Sudah cukup lama Jordan tidak ada di istana Cambridge. “Kak, kenapa tadi tidak menjemputku di bandara?” protes Putri Katterine sambil membenamkan kepalanya di dada bidang milik Jordan.


“Maaf. Ada satu hal yang sangat penting yang harus aku selesaikan,” jawab Jordan dengan wajah bersalah. Memang sejak pagi Jordan tidak lagi ada di mansion. Pria itu telah sibuk mencari keberadaan Leona. Hingga siang tiba, ia baru berhasil menemukan keberadaan wanita itu. Ia juga datang di waktu yang sangat tepat. Tidak pernah terbayangkan di dalam pikiran Jordan jika tadi ia telambat datang dan kehilangan Leona untuk selama-lamanya.


Putri Katterine melepas pelukannya. Wanita itu menghirup aroma bunga mawar yang ada ditangannya. “Aku suka Meksiko. Kota ini memiliki bunga yang sangat indah dan wangi,” ucap Putri Katterine dengan wajah berseri.


“Ada banyak bunga matahari di taman belakang. Apa kau sudah melihatnya?” tanya Jordan dengan wajah yang sangat serius.


“Benarkah?” celetuk Putri Katterine dengan wajah berseri. “Aku belum ke sana. Ayo kak, temani aku,” bujuk Putri Katterine sembari menggandeng lengan kekar Jordan. Tanpa persetujuan sang pemilik tangan, wanita itu sudah menyeret paksa Jordan dan membawanya ke taman belakang.


Jordan memeriksa setiap sudut rumah. Ia tidak berhasil menemukan pria yang sejak tadi ingin ia temui. “Dimana Oliver?”


Putri Katterine menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Kami berpisah di depan pintu,” jawab Putri Katterine dengan wajah tidak bersemangat. “Beberapa pasukan Gold Dragon mengikutinya tadi. Apa dia mau berperang di Meksiko?” tanya Putri Katterine sambil memandang wajah Jordan.


Jordan mengangkat kedua bahunya. “Kakak tidak tahu. Ia juga tidak ada memberi kabar,” jawab Jordan sebelum memandang ke arah depan lagi.


Putri Katterine menghela napas. Wanita itu melepas tangan Jordan dan berlari menuju ke arah taman bunga yang sangat indah. Taman bunga matahari itu memang sudah ada sejak Jordan tiba di sana. Mansion mewah yang kini ia tempati selalu menjadi tempat persinggahan Oliver. Hal itu yang membuat Jordan merasa aman dan tenang tinggal di rumah megah tersebut. Baginya, tidak akan mungkin ada orang yang berani menyerang mansion milik Bos Mafia kejam seperti Oliver.


Putri Katterine berlari dan bermain di tengah-tengah taman bunga. Wanita itu memang sangat menyukai bunga. Bunga apapun itu yang terlihat layu, akan membuat suasana hatinya menjadi sedih. Hal itu yang membuat semua orang di istana Cambridge selalu merawat kebun bunga dan tidak memberikan kesempatan kepada bunga-bunga itu untuk layu.


Seorang pria berjalan mendekati Jordan. Pria itu membungkuk hormat. “Malam ini Nona Leona akan berkunjung ke sebuah club malam yang sedikit jauh dari kota, Pangeran,” ucap pria itu dengan suara berbisik.


Jordan mengangkat satu alisnya. Kedua matanya masih melihat Katterine yang telah sibuk bermain bunga. “Siapkan semuanya. Aku ingin menemuinya nanti malam.”


“Baik, Pangeran,” jawab pria itu sebelum pergi meninggalkan Jordan.


***


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Setelah membuat alasan yang sangat tepat, Jordan berhasil pergi meninggalkan Mansion. Katterine tidak menghalanginya sedikitpun walau saat itu ia harus di tinggal kakak kesayangannya.


Jordan baru saja turun dari mobilnya. Di sampingnya, ada seorang pengawal yang masih setia menemani Jordan di sampingnya. Jordan memandang luar club itu Dengan saksama. Tidak ada yang spesial dari club itu. Semua penampilan, hampir sama dengan club-club lain yang pernah ia kunjungi.


Sejenak ia berpikir, apa salah ia mencintai wanita seperti ini. Bagaimana kalau nanti pihak kerajaan tidak menyetujui keinginannya untuk bersama.


“Pangeran, mari kita masuk.” Pria yang berdiri di samping Jordan memecah lamunan singkatnya. Jordan memakai topengnya lalu berjalan masuk ke dalam. Walau sudah sejauh ini, tapi Jordan belum sanggup untuk memperlihatkan identitas aslinya di depan semua orang.


Jordan menatap dingin, sebelum melangkah masuk ke dalam club itu. Malam ini dia hanya ingin bertemu dengan Leona. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan kepada wanita tangguh itu.


Suara musik Dj baru saja di mulai. Semua orang mulai memenuhi lantai dansa. Beberapa lampu warna-warni, sudah kembali menghiasi club itu. Menghidupkan suasana hingga membuat semua orang menjadi bahagia. Berdansa dengan penuh keceriaan, melupakan semua masalah yang ada.


Di ujung tersedia meja bar yang sangat panjang. Beberapa minuman beralkohol, dengan aneka warna tersedia di sana. Waiters seksi juga terlihat mondar-mandir melayani para tamu. Membawa gelas bertangkai dan sebotol minuman.


Jordan memilih duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari lantai dansa. Musik yang terdengar keras, membuat pembicaraan Jordan dan degan seorang pria tidak terdengar yang lainnya. Jordan terus memperhatikan lokasi itu. Sebuah club biasa, yang tidak mungkin pernah di pandang oleh orang-orang kelas atas.


Dari kejauhan, seorang wanita memperhatikan keduanya. Tersenyum tipis, sebelum pergi meninggalkan club malam itu.


“Apa kau yakin malam ini dia ada disini?” tanya Jordan lagi untuk kembali memastikan.


Sudah beberapa menit ia duduk di sana. Tapi tanda-tanda Leona muncul sama sekali tidak ada. Jordan sudah mulai kesal. Ia tidak ingin kecewa dan gagal. Kali ini ia ingin menemui Leona dan berpamitan pada wanita itu. Bukan hanya itu saja. Jordan juga ingin mengatakan kepada Leona. Kalau dalam waktu dekat ia akan kembali dan menemui Leona lagi.


“Berdasarakan informasi yang saya dapatkan. Nona Leona juga baru saja tiba di tempat ini, Pangeran,” jawab  pria itu lagi.


“Tapi tempat ini sangat biasa. Apa kau tidak bisa melihatnya. Tempat ini sangat kecil. Tidak mungkin ia tidak terlihat. Kecuali, jika ia bersembunyi dan menghindariku ....” Jordan semakin kesal, karena merasa di bohongi dan gagal bertemu dengan Leona malam itu.