
Katterine berdiri di sebuah lapangan luas dengan bibir tersenyum indah. Mobil yang di bawa Jordan dan Oliver telah berhenti di tempat ia berada. Putri kerajaan itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakak kandungnya dan pengawal setianya.
“Kakak!” teriak Katterine. Wanita itu berlari kencang ketika melihat Jordan dan Oliver berdiri berdampingan. Kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca. Katterine ingin melampiaskan rasa sedih dan ketakutannya kepada pria tangguh yang ada di hadapannya.
Jordan menaikan satu alisnya. Sebenarnya pria itu sedikit kesal. Sejak awal Katterine menyapa dirinya. Bahkan Jordan sudah membuka lebar kedua tangannya untuk menyambut adik kandungnya. Tapi, ketika tiba justru Katterine memeluk Oliver. Bukan dirinya.
“Sejak kapan kau menjadi kakaknya?” protes Jordan sambil memandang Oliver.
Oliver memandang Jordan dengan wajah bingung. Ia menunduk sambil memandang Katterine yang kini dengan erat memeluk dirinya. “Putri, apa kepala Anda bermasalah?” ucap Oliver sambil memegang dahi Katterine.
Katterine melepas pelukannya. Wanita itu memajukan bibirnya dengan wajah merona malu. Ia memandang wajah Jordan dan berhambur ke dalam pelukan kakak kandungnya. “Aku salah orang lagi?” ucapnya sambil membenamkan wajahnya karena malu.
Jordan tersenyum kecil. “Kau tidak salah orang. Oliver juga kakakmu. Kami berdua sama-sama kakakmu. Kami akan menjagamu dan melindungimu dari bahaya,” ucap Jordan sambil memeluk tubuh Katterine.
Oliver mengukir senyuman saat melihat Katterine dan Jordan yang begitu akrab dan saling menyayangi. Lagi-lagi pria itu kembali ingat dengan Letty. Ia juga ingin hubungannya dengan Letty seperti Jordan dan Katterine. Walaupun mereka berdua bukan kakak adik kandung.
Dari kejauhan, helikopter telah datang untuk menjemput Katterine, Jordan dan Oliver. Mereka semua memandang ke arah kedatangan helikopter. Katterine menyibakkan rambutnya ketika angin kencang mengacak-ngacak rambutnya dan menghalangi penglihatannya. Wanita itu menyipitkan kedua matanya ketika melihat seorang pria berjalan mendekati mereka. Dari kejauhan, helikopter muncul lagi seolah ingin menjemput seseorang juga.
Katterine yang merasa takut, bersembunyi di balik tubuh Jordan. Wanita itu memegang lengan Jordan dengan erat karena tidak ingin di culik atau berada dalam bahaya lagi. “Kak, kenapa dia ada di sini? Kakak yang membawanya?” tanya Katterine dengan suara berbisik.
Jordan memegang tangan Katterine dan memandang sosok pria yang kini berjalan mendekati posisi mereka berada. Bersamaan dengan itu, helikopter telah mendarat dengan sempurna dan menunggu mereka untuk segera naik.
Oliver melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan yang sangat sinis. “Zean Wick! Saya harap Anda tidak terlibat dalam penculikan putri Katterine,” sindir Oliver sambil memperhatikan wajah Zean.
Zean memandang wajah Oliver sekilas sebelum memandang wajah Jordan. “Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada Jordan,” jawabnya dengan suara lirih. Bahkan pria itu tidak terlihat tegas dengan kalimat yang ia ucapkan.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Jordan dengan wajah penasaran.
“Ini menyangkut Leona. Leona baik-baik saja. Dia menunggu kedatanganmu,” ucap Zean dengan wajah serius. Terdengar jelas kalau nada bicara Zean benar-benar serius. “Dia ... sangat membutuhkanmu.”
"Leona, terima kasih karena kau tidak pergi meninggalkanku," gumam Jordan di dalam hati.
Jordan mengukir senyuman bahagia ketika mendengar kabar baik yang diucapkan oleh Zean. Tidak ada kabar lain yang lebih membahagiakan selain mendengar kabar kalau wanita yang ia cintai baik-baik saja.
Oliver memiringkan wajahnya dan memandang wajah Katterine. “Tidak ada, Putri. Semua baik-baik saja.”
Katterine mengangguk pelan dengan wajah sedih. "Kenapa kalian suka sekali menyembunyikan masalah dariku," protes Katterine dengan suara kecil.
Zean memandang ke arah helikopter miliknya yang baru saja mendarat. Pria itu memandang wajah Jordan lagi. “Ikut dengan saya. Aku akan mengantarmu bertemu dengan Leona. Semua sudah aku siapkan,” ucap Zean sebelum memutar tubuhnya. Pria itu bahkan tidak menunggu jawaban dari Jordan, apa ia setuju atau tidak. Di dalam pikiran Zean hanya satu. Jordan pasti setuju walaupun yang menjemput dirinya.
Katterine melepas lengan Jordan. Wanita itu menghela napas dengan bibir tersenyum. “Kak, jangan lupa bawa senjata. Jika pria itu berbuat aneh, kau bisa menembaknya nanti,” bisik Katterine penuh semangat.
Jordan mengusap rambut Katterine dengan penuh kasih sayang. Pria itu memandang wajah Oliver yang masih ada di dekatnya. “Jaga Katterine,” perintah Jordan.
Oliver menunduk sedikit. “Saya akan menjaga Putri Katterine, Pangeran. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya.”
Jordan mengangguk pelan. Ia sangat percaya kalau Katterine akan baik-baik saja selama Oliver ada di sampingnya. Selain tangguh, Oliver pria yang sangat bertanggung jawab.
“Kak, hubungi aku ketika sudah sampai di sana,” ucap Katterine dengan suara pelan. Sebenarnya wanita itu merasa tidak rela ketika Jordan harus pergi meninggalkannya seperti itu.
Tapi, Katterine tidak memiliki pilihan lain. Jordan dan Leona telah menjalin sebuah ikatan. Mereka di jodohkan bahkan di gariskan akan segera bertunangan. Sudah saatnya bagi Katterine untuk merelakan kakak tercintanya membagi waktu untuk wanita lain. Tidak hanya untuk dirinya saja.
Oliver memandang wajah Katterine yang saat itu terlihat sedih. “Putri, Anda baik-baik saja? Ayo, kita juga berangkat.”
Katterine mengangguk. Wanita itu berjalan lebih dulu menuju ke arah helikopter. Sedangkan Oliver berada di belakang Katterine dan menjaga wanita dengan baik. Saat ponsel Oliver berdering, pria itu menghentikan langkah kakinya. Ia melekatkan ponselnya di telinga sambil memandang Katterine yang sedang berjalan.
“Ya, Dad. Ada apa? Aku sudah berhasil menemukan Katterine,” ucap Oliver dengan suara yang kuat.
“Oliver, kembalilah ke Hongkong. Bawa Katterine bersama dengan dirimu,” perintah Lukas dengan nada yang di selimuti kecemasan.
“Hongkong?” ucap Oliver tidak percaya.
“Ya. Berhati-hatilah,” sambung Lukas lagi sebelum mematikan panggilan teleponnya. Lukas memasukkan ponselnya ke dalam saku dan memperhatikan keadaan sekitar. Saat melihat keadaan aman dan baik-baik saja, Lukas segera masuk ke dalam helikopter untuk pergi meninggalkan Belanda.