Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 66


Dokter tersebut membawa Marco menuju ke sebuah ruangan. Ternyata rumah sakit itu benar-benar luas. Seperti itulah jalan pikiran Marco. Mereka terus saja berlari. Melewati pintu dan ruangan yang Marco sendiri tidak tahu ruangan apa itu. Hingga akhirnya, dokter tersebut berhenti di sebuah kamar. Ya, ruangan itu memang seperti kamar karena ada tempat tidur beserta isinya di dalam sana.


"Dok, ruangan apa ini?"


"Rumah bawah tanah," jawab dokter itu santai.


Marco mengikuti langkah kaki dokter itu dari belakang. Kebetulan sekali ada teko dan gelas kosong di sana. Marco segera mengambil air untuk menghilangkan rasa hausnya. Setelah selesai Marco kembali mengingat cara dokter itu membawa dirinya kabur. Dokter tersebut terlihat hebat.


"Dokter, bagaimana bisa dinding yang begitu rata berubah menjadi pintu?" tanya Marco tidak percaya. Walau sebenarnya tadi ia takut tapi ia jauh lebih kagum dengan kecanggihan rumah sakit bawah tanah tersebut.


"Dan satu lagi. Anda bisa menembak? Dari mana senjata api itu?"


"Dari seorang wanita. Dia memberiku senjata api itu sebelum membawa Oliver dan Pangeran Jordan pergi." Dokter itu membuka pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian yang bersih.


"Pasti dia keluarga dua pria itu. Aku menyesal menolong mereka. Tadinya ingin menghukum mereka berdua justru hidupku yang menjadi tidak karuan seperti ini," ucap Marco dengan wajah dipenuhi penyesalan. Ia sempat berpikir kalau tidak pernah membawa Jordan dan Oliver mungkin kini hidupnya akan baik-baik saja.


Dokter itu hanya tersenyum mendengar cerita Marco. "Saya sudah lama berada di sini. Saya selalu membuat pintu darurat untuk keluar jika terjadi masalah. Ya, seperti ini contohnya." Kali ini dokter tersebut terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa stel pakaian lagi.


"Tuan, pakailah pakaian ini. Setidaknya penampilan Anda akan jauh lebih baik nanti." Dokter tersebut melirik celana Marco yang basah. Cukup memalukan memang. Wajah Marco yang begitu berwibawa kini harus memakai celana yang basah karena pipis di celana.


Marco memalingkan wajahnya. Ia malu bukan main ketika melihat penampilannya kali ini. Bahkan ketika ia kembali membayangkan kejadian menegangkan itu, Marco tidak bisa bernapas dengan normal lagi.


"Dokter, pastikan ini menjadi rahasia kita berdua. Aku akan mengirim sejumlah uang sebagai uang tutup mulut," ucap Marco sambil merebut paksa pakaian yang ada di tangan dokter tersebut. Dokter tersebut tertawa geli ketika membayangkan ekspresi wajah Marco tadi. Namun, tiba-tiba ia kembali ingat dengan pasukan Pangeran Martine yang masih ada di dalam rumah sakitnya. Wajah kecewa menyelimutinya.


"Apa hari ini akan menjadi hari terakhirku ada di sini?" gumamnya di dalam hati. Sebelum pergi Lana sempat mengatakan kepada dokter tersebut kalau mereka akan meledakkan rumah sakit itu jika keadaan mendesak. Kini dokter itu tidak tahu apa rumah sakitnya akan benar-benar diledakkan atau tidak. Yang harus ia lakukan adalah pergi menyelamatkan diri bersama Marco sebelum ledakan itu terjadi.


***


Pangeran Martine merasa di jebak. Kini sambil menatap sinis Zeroun ia terus memikirkan cara untuk mengalahkan pria itu. Wajahnya terlihat tenang walau kini jelas-jelas ia sudah tidak memiliki jalan keluar lagi. Apa lagi mereka berada di ruangan bawah tanah. Tidak mudah untuk kabur dari ruangan tersebut. Kecuali ia berhasil mengalahkan Zeroun.


"Pangeran Martine, kalau boleh saya tahu. Kenapa Anda begitu tertarik dengan keluarga saya?" Zeroun melangkah secara perlahan. Hal itu membuat Pangeran Martine semakin waspada. Walaupun ia biasa membunuh dan bertarung tetap saja ia tahu kalau kemampuan Zeroun ada di atasnya.


"Saya sudah membuat sebuah bukti kalau Anda telah mencelakai saya. Jika dunia tahu mungkin Anda akan berada di penjara seumur hidup Anda dan nama baik Anda tidak akan ada lagi," ancam Pangeran Martine.


"Maksud Anda bukti rekaman yang ada di sini?" Zeroun memainkan benda mungil yang ada di tangannya. Saat ingin masuk ke dalam rumah sakit tiba-tiba seseorang menemui Zeroun dan memberikan sebuah flasdish kepada Zeroun.


Di dalam video itu terlihat jelas kalau Pangeran Martine yang menjadi korbannya. Sesuai dengan apa yang baru saja dikatakan Pangeran Martine. Jika video itu sampai ke polisi maka nama Zeroun akan tercoreng.


"Pieter!" umpat Pangeran Martine kesal. Hanya Pieter yang memiliki video itu. Ia merasa kecewa karena anak buahnya tidak juga berhasil membunuh pria itu. Bahkan ia juga menyesal karena belum sempat merebut video tersebut dari tangan Pieter.


Sorot mata Zeroun semakin tajam ketika ia semakin dekat dengan Pangeran Martine. Tangannya terkepal kuat dan siap memukul lawannya. Ia benar-benar emosi dan tidak bisa memaafkan Martine lagi. Kelakuan pria itu sudah membuat keluarganya celaka.


BRUAAKKK


Satu pukulan Zeroun di rahang kiri Pangeran Martine berhasil menyisakan memar. Pria itu tidak tinggal diam dan membalas pukulan Zeroun. Mereka berdua bertarung dengan sengit. Para bawahan tidak ada yang berani melakukan apa-apa selain menjadi penonton.


Zeroun berusaha menghindari pukulan Martine. Tapi memang pria itu bukan pria sembarangan. Walau sudah babak belur ia tetap kuat bahkan berhasil membalas perbuatan Zeroun. Satu pukulan mendarat di perut Zeroun. Sakitnya luar biasa hingga membuat Zeroun harus mengatur napasnya yang tiba-tiba sesak.


"Anda tidak pantas menjadi seorang ayah. Anda seorang pembunuh!" umpat Pangeran Martine.


"Anda membunuh wanita yang sedang mengandung. Setega itu Anda menjadi seorang pria? Jangan salahkan orang lain yang juga berbuat tega. Kematian tetap harus di balas kematian!" Suara Pangeran Martine memenuhi ruangan bawah tanah itu.


"Apa ini ada hubungannya dengan Damian? Kalian memiliki sifat yang mirip. Sama-sama licik dan suka melempar kesalahan kalian kepada orang lain."


"Ck. Anda ingat dengan Paman saya? Apa Anda merasa bersalah karena sudah membunuhnya?"


Zeroun kembali memukul Pangeran Martine. Lelah bagi Zeroun untuk banyak bicara. Ia ingin melihat Pangeran Martine menderita. Ya, sebatas menderita. Zeroun tahu kalau ia membunuh pria itu secepat ini maka akan menimbulkan permusuhan antara Monaco dan Cambridge. Padahal baru beberapa tahun terakhir ini saja mereka berdamai.


Pangeran Martine berusaha berdiri setelah dirinya terjatuh karena pukulan Zeroun. Secara diam-diam Pangeran Martine mengambil belati. Ia menggenggamnya dengan begitu kuat.


Zeroun membungkuk dan mencengkram pakaian pangeran Martine. Ia ingin menghajar pria itu lagi sampai rasa sakit hatinya terbayarkan. Namun, tiba-tiba dengan gerakan yang begitu cepat Pangeran Martine menusukkan belatinya di perut Zeroun. Darah segar mengalir dengan begitu deras.


Zeroun melihat darah segar itu dengan wajah menahan sakit. Cengkramannya pada baju Pangeran Martine terlepas. Hingga tidak lama kemudian, Zeroun terjatuh. Pria itu tidak lagi sadarkan diri dengan pisau yang masih menusuk di perutnya.


Sedangkan Pangeran Martine mundur dengan wajah pucat. Jika dia benar-benar telah membunuh Zeroun, maka dia akan berada dalam masalah. Ada banyak orang yang melihat kejadian tersebut.


"Ayo kita pergi dari sini!" Pangeran Martine dan pasukannya melangkah pergi untuk kabur. Sedangkan pasukan Gold Dragon segera menolong Zeroun. Berharap luka pria itu tidak separah yabg mereka bayangkan.