
Semua orang yang ada di dalam kamar Leona dan Jordan terlihat was-was. Mereka memandang dokter yang sedang memeriksa keadaan Leona dengan begitu hati-hati. Leona sendiri terlihat curiga dengan ekspresi mommy mertuanya. Emelie terlihat menyimpan harapan besar atas hasil pemeriksaan Leona kali ini.
“Nona Leona hanya perlu istirahat total. Daya tahan tubuhnya lemah karena ia kurang tidur dan makan tidak teratur,” ucap sang dokter setelah selesai memeriksa. Jordan segera duduk di tepian tempat tidur.
“Apa tidak perlu penanganan lebih lanjut, Dok?” tanya Jordan masih dengan wajah khawatir.
“Sejauh ini kita lihat reaksi obat yang saya berikan. Seharusnya hanya dengan istirahat saja keadaannya sudah kembali pulih,” sambung dokter itu lagi dengan senyuman ramah.
Emelie menunduk dengan wajah kecewa. Tadinya ia berharap besar kalau menantunya sudah mengandung cucu pertama mereka. Namun, sayangnya apa yang ia harapkan tidak sama dengan apa yang ia dapat. Lana memegang tangan Emelie seolah tahu rasa kecewa Emelie kali ini.
“Saya permisi dulu,” ucap dokter itu setelah ia selesai membereskan alat medisnya. Seorang pelayan yang sejak tadi ada di dalam kamar mengantarkan dokter tersebut keluar.
Leona melirik wajah Emelie dengan perasaan tidak tenang. “Kenapa mommy berubah sedih? Sebenarnya apa yang mommy harapkan? Apa mommy sedih karena aku sakit? Tapi itu tidak mungkin. Ini hanya sakit ringan. Cepat atau lambat aku akan segera sembuh,” gumam Leona di dalam hati.
Tiba-tiba pintu terbuka lagi. Kali ini sosok yang sangat dirindukan Leona muncul di sana. Bersama sang kekasih, pria itu terlihat jauh berbeda dari penampilan sebelumnya. Dia terlihat jauh lebih rapi sekarang.
“Kwan.” Leona tersenyum bahagia melihat kedatangan Kwan.
“Kak Leona, kenapa kau tidak menyambutku?” ucap Kwan sambil membawa Alana masuk ke dalam. Pria itu sudah tahu dari Oliver kalau Leona ada di dalam kamar karena sakit.
“Maafkan aku, Kwan,” ucap Leona penuh penyesalan.
“Tidak, kak. Aku tidak akan memaafkanmu semudah itu!” Kwan berdiri di samping tempat tidur sejenak. Pria itu terlihat sedih melihat wajah Leona yang pucat.
“Maafkan aku, Kak.” Kwan melepas tangan Alana dan memeluk Leona. Pria itu merasa sangat bersalah ketika mendengar kabar yang menyerang rumah tangga Leona. Andai saja ia tahu lebih awal mungkin ia akan turun tangan untuk membantu.
“Aku baik-baik saja. Tapi, aku merindukanmu Kwan.” Leona tidak bisa menahan air matanya. Ia benar-benar merindukan adiknya itu. Jordan menjauh untuk memberikan ruang kepada Leona dan Kwan melepas rindu.
“Jordan, mommy keluar dulu ya. Jaga Leona dengan baik,” ucap Emelie. Tanpa menjawab Jordan hanya mengangguk. Pria itu memandang Emelie dan Lana yang pergi meninggalkan kamarnya.
“Ini sangat buruk. Bisa-bisanya kau sakit. Apa Jordan tidak memberimu makanan bergizi?” protes Kwan dengan wajah sedih.
“Sepertinya aku terlalu banyak makan makanan sehat, maka dari itu sakit. Bukankah dulu kita suka makan asal saja tanpa memikirkan kesehatan?” sambung Leona sambil menghapus sisa air matanya.
Kwan mengeluarkan sebuah undangan dari dalam sakunya. Ia terlihat bahagia ketika memberikan undangan tersebut kepada Leona. “Kakak harus sembuh. Aku ingin kakak ada di barisan paling depan.”
Kwan menjauh dari Leona. Pria itu merangkul pinggang Alana dengan mesra. “Aku sudah pantas menikah bukan?”
Leona tersenyum bahagia. Ia membuka kedua tangannya karena ingin memeluk Alana juga. “Selamat Alana.” Alana tersenyum bahagia sebelum memeluk Leona. Wanita itu juga merasa sedih ketika melihat Leona sakit seperti itu.
“Kakak harus cepat sembuh.”
“Terima kasih, Alana. Aku sangat senang melihat kau dan Kwan datang ke sini.”
“Kwan, Alana, kalian mau minum apa? Aku akan meminta pelayan membawakan sesuatu untuk kalian,” ucap Jordan sambil memandang wajah Kwan dan Alana bergantian.
Siang itu Leona terlihat jauh lebih ceria ketika melihat kedatangan Kwan dan Alana. Ia terus saja tersenyum bahagia. Wajahnya juga tidak pucat lagi. Jordan juga sangat bahagia melihat istrinya jauh lebih semangat.
Namun, saat di dalam kamar Leona terlihat bahagia. Di sisi lain Emelie terlihat sedih. Bersama dengan Lana ia duduk di depan televisi. Sebenarnya Emelie tidak menonton siaran yang tersaji di depannya. Ia justru melamun sambil membayangkan kehidupannya ke depan nanti.
“Nona, apa yang Anda pikirkan?” Lana memegang tangan Emelie membuat wanita itu sadar dari lamunannya.
“Lana, aku tidak tahu berapa lama aku bisa hidup di dunia ini.”
“Nona, apa yang Anda katakan? Anda tidak boleh mengatakan hal seperti itu.”
“Nona, apa ini karena Leona yang belum juga memberikan Anda cucu? Nona, mereka baru saja menikah.”
“Bukan, Lana. Bukan itu. Aku akan tetap menerima Leona apa adanya. Dia gadis yang baik dan sopan. Aku yakin dia bisa membahagiakan Jordan nanti. Hanya saja ... kehidupan kami ini seperti kehidupan para kriminal. Tidak tahu kapan damainya.”
“Nona, bukankah semua sudah paham dengan keadaan kita? Jika ada masalah tidak perlu di pusingkan. Kita semua hanya perlu bersatu saja.”
“Tidak Lana, tidak semudah itu. Kejahatan tidak boleh ada. Sejauh ini kami sudah susah payah menutupi kejahatan yang ada. Tidak jarang Zeroun turun tangan langsung untuk menguasai kantor polisi dan beberapa instansi keamanan negara hanya untuk ketenangan keluarga kami. Mau sampai kapan?”
“Nona, awalnya saya pikir Anda sedih karena dokter bilang Leona tidak hamil. Saya tidak menyangka kalau Anda memikirkan masa depan keluarga Anda hingga seperti ini.”
“Lana, apa nyaman tinggal di Hongkong. Setelah menginjak usia yang semakin tua aku mulai menyadari. Bukankah lebih baik dulu Zeroun memilih menjadi bos mafia saja? Hidup di kerajaan penuh dengan kebohongan.”
“Apa maksud Anda, Nona?” tanya Lana bingung.
“Lana, aku tidak mau Jordan dan Leona ada di istana. Begitu juga dengan Katterine. Aku ingin anak-anakku bekerja dan hidup sesuai keinginan mereka. Tidak memikirkan rakyat dan tidak pernah merasa bersalah kepada rakyat karena sudah membohongi mereka. Aku dan Zeroun telah sepakat untuk tinggal di sebuah rumah yang ada diperbukitan. Di sana kami akan menjadi petani atau peternak saja.” Emelie tertawa ketika membayangkan masa tua yang sudah ia persiapkan bersama Zeroun.
“Tapi, apa mungkin kami bisa tenang? Anak-anak kami terjebak di istana ini. Belum lagi mereka harus menghadapi musuh-musuh masa lalu daddynya. Aku tidak mau anak-anakku nanti ketika sudah punya anak akan merasakan ketidaknyamanan.”
“Nona, sebaiknya hal seperti itu di bicarakan dengan Jordan, Katterine dan Bos Zeroun langsung. Saya tidak tahu harus bagaimana. Tapi, menurut saya itu keputusan yang tepat. Asalkan Anda meninggalkan Cambridge bukan karena terpaksa.”
Emelie memeluk Lana dengan wajah bahagia. “Terima kasih Lana. Aku semakin yakin dengan keputusanku.”
“Nona, saya tahu semua keputusan yang Anda ambil adalah demi kebaikan Anda sendiri. Selama ini saya mengenal Anda sebagai wanita yang bijaksana. Anda memang sosok Ratu yang sesungguhnya. Bukan hanya Ratu untuk rakyat Anda tapi Ratu bagi keluarga Anda. Kalau boleh saya tahu, Anda ingin memberikan kuasa atas istana Cambridge kepada siapa, Nona?”
***
Roberto bersandar dengan bibir tersenyum. Ia sangat bahagia ketika melihat Marco kini ada di hadapannya. Sejak dulu memang Marco adalah sosok yang selalu ia utamakan di dalam hidupnya. Namun, Roberto tidak suka semua orang tahu tentang Marco. Alasannya hanya satu. Roberto tidak mau Marco berada dalam bahaya. Mengingat saingan bisnis Roberto sangatlah banyak.
“Aku benar-benar menyesal sudah menuduh mereka. Sepertinya aku harus meminta maaf,” ucap Marco setelah mendengar cerita lengkap dari Roberto. Ia tidak menyangka kalau ada manusia sekejam Martine dengan kedok Pangeran hidup di dunia ini. Bukankah Pangeran selalu memikirkan nasip orang susah?
“Setidaknya kau sudah menyelamatkan nyawa Oliver dan Pangeran Jordan. Mereka tidak akan mempermasalahkannya lagi.”
“Apa kau benar-benar sudah menyerahkan Katterine kepada Oliver? Aku tahu kau sangat mencintainya. Bahkan cinta mati. Sejak dulu hanya ada nama Katterine di dalam pikiranmu, bukan? Bahkan kau memiliki rumah yang kamarnya itu penuh dengan foto Katterine. Kau yakin akan melepasnya begitu saja? Tidak mau berjuang sekali lagi?”
Roberto memandang ke arah jendela. Ia melihat cuaca yang begitu cerah di sana. “Marco, aku tidak bisa memaksanya untuk mencintaiku. Sama seperti langit di luar sana. Jika sebentar lagi ia ingin mendung, maka kita akan bisa mencegahnya. Kita hanya perlu membawa payung agar tidak terkena hujan.”
“Kau ingin mengobati hatimu sebelum terluka?” ujar Marco dengan wajah yang serius.
“Hatiku sudah terluka. Ibarat hujan sudah turun dan sangat deras. Aku ada di sana terjebak dan basah. Apa aku harus menyerah? Tidak. Aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang agar bisa menemukan tempat berteduh. Tapi, aku tidak akan bisa menghentikan hujan yang sudah deras.”
“Apa kau yakin bisa menerima semua ini?”
“Aku yakin aku bisa. Oliver pria yang baik. Bahkan jauh lebih baik daripada aku. Mungkin jika KAtterine hidup denganku, jika ada perampok aku akan babak belur. Jika bersama Oliver justru perampoknya yang babak belur,” ucap Roberto dengan tawa kecil.
“Kau memang pria yang baik. Aku tidak salah memiliki keluarga sepertimu.”
“Aku ingin pergi dari kota ini. Kita kembali saja ke negara kita.”
Marco tertawa ringan. “Negara kita? Negara kita yang mana? Terlalu banyak negara yang kita tempati selama ini. Dan kau selalu bilang di sinilah kita menetap.”
“Thailand. Aku ingin tinggal dan hidup tenang di tempat kehaliranku.”