Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 8


Keesokan paginya. Katterine baru saja selesai mandi. Ia sudah memakai pakaian yang rapi. Namun, sudah satu jam mandinya berlalu ia tidak kunjung keluar kamar. Kejadian tadi malam membuatnya tidak berani menatap wajah Oliver. Ia benar-benar malu. Katterine merasa harga dirinya telah hilang karena sudah berani menodai Oliver lebih dulu.


"Apa dia marah? Apa dia akan membunuhku?" Katterine masih sibuk mondar-mandir di depan pintu. Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


Katterine kaget bukan main. Di tambah lagi saat ia tahu kalau Oliver yang mengetuk pintu tersebut.


"Bagaimana ini?" Katterine memejamkan matanya. Ia mengatur napasnya agar bisa kembali tenang. Menarik napas dalam-dalam membuangnya. Begitu terus sampai Oliver yang ada di seberang pintu merasa bosan.


"Katterine, apa kau baik-baik saja? Jika kau tidak membuka pintunya maka aku akan dobrak pintu ini sekarang juga."


"Kenapa dia sangat mencintai kekerasan?" protes Katterine mulai kesal. Ia membuka pintunya secara perlahan. Tidak lupa wanita itu memakai kain penutup wajah hingga ia terlihat seperti memakai cadar.


Setelah melihat penampilan Katterine yang aneh, Oliver semakin bingung. Ia menatap kedua mata Katterine yang sejak tadi tidak berani menatap wajahnya.


"Kenapa kau menutup wajahmu seperti itu?"


"Ada banyak debu di luar sana. Aku harus melindungi wajahku." Katterine menjawab tanpa berani memandang Oliver. Ia benar-benar takut dan gugup.


"Baiklah, kali ini alasannya di terima." Oliver menarik tangan Katterine dan membawanya ke arah meja makan. Pria itu telah menyiapkan sarapan pagi. Ia tahu kalau siang ini Katterine memiliki banyak kegiatan.


Katterine menatap wajah Oliver secara sembunyi-sembunyi sebelum menatap sarapan paginya. Ia sendiri bingung kenapa pagi ini Oliver bersikap biasa saja. Berbeda dengan dirinya yang tidak bisa tenang. Bahkan tadi malam saja tidur juga tidak nyenyak.


"Kau tidak akan bisa makan jika mulutmu tertutup seperti itu." Oliver lebih dulu memulai untuk sarapan. Pria itu terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa di antara dirinya dan Katterine tadi malam.


"Kenapa sikapnya biasa saja? Aku sangat yakin kalau tadi malam adalah ciuman pertamanya. Tapi, kenapa dia terlihat santai seolah sudah sering melakukannya?" gumam Katterine di dalam hati.


"Aku harus pergi. Nanti malam aku akan kembali. Ada hal penting yang harus aku lakukan." Oliver menyelesaikan sarapan paginya. Ia meneguk segelas air putih dan menatap wajah Katterine lagi.


"Aku sudah mengirim orang untuk mengantarkanmu. Jadi, jangan bawa mobil sendirian lagi."


Sebelum Katterine menjawab Oliver lebih dulu pergi begitu saja. Katterine segera membuka penutup mulutnya karena merasa panas dan berkeringat.


"Mau ke mana dia?" Katterine segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu mengambil kunci mobil dan tas miliknya. Ia segera berlari untuk mengikuti Oliver dari belakang.


"Jangan bilang kalau dia ingin menemui wanita lain. Lama-lama aku semakin curiga dengannya." Katterine bersembunyi di balik dinding ketika Oliver ingin masuk ke dalam lift. Pria itu masih belum sadar kalau di belakangnya ada Katterine yang tidak mau ketinggalan.


Setelah Oliver masuk ke dalam lift, Katterine juga segera masuk ke dalam lift yang lain. Ia tidak mau ketinggalan Oliver. Kali ini firasatnya benar-benar buruk. Ia takut Oliver melakukan hal yang membuatnya kecewa.


***


Beberapa saat kemudian. Katterine memberhentikan mobilnya di sebuah gedung tinggi yang tidak berpenghuni. Katterine memilih jarak yang cukup jauh agar Oliver tidak sadar kalau ia sejak tadi mengikutinya.


Katterine memperhatikan tempat sunyi tersebut. Tidak ada satu orangpun yang terlihat di sana. Hanya Oliver yang baru saja turun dari mobil dan masuk ke dalamnya.


"Tempat apa ini?" Katterine yang selalu ingin tahu segera turun dari dalam mobil. Ia membawa sebuah senjata api yang memang selama ini di beri oleh Zeroun. Katterine menyimpan benda berbahaya itu di dalam tasnya. Ia yakin akan selamat jika nanti dalam keadaan darurat.


Oliver duduk di sebuah kursi sambil memijat dahinya. Di depannya ada beberapa pasukan Gold Dragon yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya.


"Bos, Putri Katterine ada di sini." Salah satu pria yang baru saja masuk menyampaikan kabar kedatangan Katterine.


"Sudah ku tebak, dia tidak akan mau tinggal diam di tempatnya. Wanita itu selalu saja membuatku tidak tenang." Oliver masih belum memberi jawaban apapun kepada bawahannya. Ia lebih memilih mengomel di dalam hati agar tidak ada yang dengar.


"Tadi malam dia membuatku tidak bisa tidur. Bahkan aku tidak berhasil menyelesaikan misiku karena tingkah lakunya yang mengganggu. Siang ini dia muncul lagi. Apa dia tidak akan puas bersikap seperti ini sampai aku benar-benar gila?"


"Bos, apa yang harus kita lakukan terhadap putri Katterine?" salah satu pria bertanya karena sejak tadi Oliver belum menjawab.


"Biarkan saja. Dia tidak akan bisa menemukan tempat kita," ucap Oliver penuh percaya diri. Baru juga satu menit pria itu mengatakan kalimat seperti itu, tiba-tiba pintu terbuka lagi. Katterine muncul dengan wajah bingung bercampur kaget. Sepertinya tidak sulit. Agi Katterine untuk menemukan keberadaan Oliver. Mereka seperti memiliki magnet yang akan terhubung satu sama lain.


"Oliver, apa yang kau lakukan di sini?" ucap Katterine dengan senyum terpaksa di bibirnya.


Seluruh pasukan Gold Dragon segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Mereka membiarkan Oliver dan Katterine ada di dalam ruangan itu.


Oliver menghela napas sebelum berjalan mendekati Katterine. Ia menatap wajah wanita itu dengan alis saling bertaut.


"Apa yang kau pikirkan hingga mengikutiku sampai ke sini?"


"Aku ...." Katterine menunduk dengan wajah bersalah. "Aku khawatir kalau kau dalam masalah. Wajahmu terlihat tidak bersemangat tadi."


"Kau yang membuatku menjadi seperti ini. Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga tadi malam kau melalukan hal seperti itu? Aku ke sini karena ingin menenangkan pikiranku. Seumur-umur, ini adalah masalah terberat yang aku sendiri tidak tahu cara melupakannya," umpat Oliver di dalam hati.


"Oliver, kenapa kau diam saja? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Tidak ada. Aku hanya mau bilang kalau di sini adalah markas Gold Dragon. Kapan saja kau boleh datang ke sini." Oliver memegang tangan Katterine dan membawanya ke arah kursi. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja terhadap wanita itu.


"Kenapa sikapnya jadi aneh seperti ini? Dia pria yang labil. Kadang baik, kadang menyebalkan," umpat Katterine di dalam hati.


"Duduklah." Katterine duduk di kursi yang di tunjuk Oliver. Wanita itu tapi tidak mau duduk diam. Bukan Katterine namanya jika tidak memeriksa semua benda yang ada di ruangan tersebut.


"Sejak kapan kau suka mendengarkan musik?" Katterine menekan tombol power yang ada di sana. Sebuah musik secara otomatis terdengar dengan indah. Musik itu sangat pas untuk gerakan tarian salsa.


"Oliver, kau suka salsa juga? Apa bakat itu menurun pada dirimu? Termasuk suka menari. Tidak tidak. Maksudku, kau suka musik?" teriak Katterine kegirangan.


"Menurun? Menurun dari dari siapa maksudmu?" Oliver segera mematikan musiknya karena berisik.


"Duduklah, jangan sentuh apapun. Bagaimana kalau benda ini tadi meledak?" Oliver berjalan ke arah kulkas. Katterine memajukan bibirnya ke depan.


"Kata Tante Lana dulu ia mengajak Paman Lukas berdansa. Dan Paman Lukas sangat senang. Apa Oliver tidak memiliki kesamaan dengan Paman Lukas? Bagaimana jika mereka memiliki sifat yang berbeda?"