
Setelah menyelesaikan urusannya di perusahaan rekannya yang ada di Meksiko, Leona kembali mengotak-atik ponselnya. Kali ini ada target baru yang harus segera ia habisi. Orderan itu memang baru saja ia terima. Tapi, Leona ingin menyelesaikannya dengan segera. Di tambah lagi. Targetnya kali ini ada di Meksiko. Bahkan kota yang sama dengan tempatnya berada saat itu.
Leona belum menyadari Zean yang sudah mengetahui identitasnya. Dengan wajah berseri, Leona mencari gedung yang tinggi. Wanita itu mengukur jarak yang akan mempertemukannya dengan targetnya saat itu.
“Bos, gedung itu sangat pas. Target kita akan segera tiba setengah jam lagi dan duduk di cafe yang berhadapan dengan gedung tersebut,” ucap salah satu anak buah Leona.
“Hmm, ide yang bagus. Ayo segera kita selesaikan. Aku ingin beristirahat,” ucap Leona dengan wajah penuh semangat.
Beberapa menit kemudian, Leona sudah ada di atas gedung. Wanita itu mulai membidik sasarannya. Memang saat itu sasarannya sudah sangat pas. Sudah duduk di cafe dan siap menerima hadiah tembakan dari Leona.
Leona menarik secara perlahan pelatuk senjata apinya. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang menyapanya. “Baby Girl!” teriak Jordan dari kejauhan.
DUARRR
Tembakan Leona meleset. Peluru itu menyampar ke sisi lain. Tidak berhasil terkena dahi target yang sudah ia incar dengan sangat teliti. Semua orang yang ada di cafe itu pontang-panting tidak karuan saat mendengar tembakan yang muncul tiba-tiba. Bahkan target yang menjadi sasaran Leona berhasil kabur dengan yang lainnya dengan wajah ketakutan.
Teriakan Jordan yang tiba-tiba saja terdengar memecah kosentrasinya. Leona mengumpat kesal. Ini untuk kesekian kalinya ia gagal melakukan sebuah misi pembunuhan. Dengan wajah kesal. Leona memutar tubuhnya. Kedua matanya menatap wajah pria yang baru saja menyapanya dengan tatapan kesal.
“Kau lagi!” umpat Leona dengan wajah tidak terima.
“Apa aku mengganggumu? Baby girl?” sambung Jordan dengan wajah tidak bersalah sedikitpun. Pria itu sudah terlihat jauh lebih sehat. Luka di dahinya mengering hingga hanya menyisakan bekas kemerahan saja.
“Kemunculanmu selalu saja membuat efek buruk bagi rencanaku. Sudah dua kali misiku gagal. Sekali lagi kau muncul dan mengagalkan rencanaku, maka aku akan menjadikanmu pengganti targetnya,” ancam Leona.
Leona memandang Jordan dengan tatapan sinis. Wanita itu menurunkan senjata snipernya sebelum menghela napas. Ia tidak tahu, kenapa pria yang kini ada di hadapannya selalu saja muncul di waktu yang tidak tepat. Membuat dirinya gagal dalam melakukan sebuah misi.
“Apa tergetnya lolos lagi?” sindir Jordan dengan senyuman kecil. Karena sudah tahu kalau Leona memang pembunuh, membuat Jordan memperlakukan Leona layaknya memang wanita tangguh.
Leona membuang napasnya dengan kasar. Wanita itu terlihat tidak tertarik untuk menceritakan kegagalannya. “Kenapa kau selalu mengikuti. Bukannya kau seorang bos mafia? Apa kau tidak memiliki pekerjaan yang bisa kau lakukan? Kenapa harus selalu mengikutiku?” protes Leona dengan wajah yang sangat serius.
“Menjadi mafia bukan sebuah pekerjaan Babygirl. Bos Mafia hanya sebuah posisi yang akan di cari jika di bawah sedang mendapatkan masalah,” jawab Jordan dengan wajah serius. Masih dengan penampilannya yang biasa. Namun, kali ini Jordan menggunakan topeng untuk melindungi identitasnya. "Bisnisku di minuman beralkohol tidak nyawa manusia," sindir Jordan lagi.
Leona menyipitkan matanya. Sindiran Jordan berhasil mengenai hatinya yang paling dalam. “Aku tidak suka melihat pria jahat. Pria-pria itu memang kayak mati.” Leona berjalan mendekati Jordan. “Satu lagi ... Kau pria pertama yang selalu saja selamat karena telah mengikutiku," ucap Leona dengan sorot mata yang sangat tajam dan penuh dengan ancaman.
Jordan tertawa riang. Perkataan Leona memang seperti sebuah lelucon baginya. Jangankan mengalahkannya. Bahkan tiap kali bertarung saja Leona selalu kalah.
“Kau masih memiliki hutang budi, Leona. Aku menyelamatkan nyawamu semalam. Apa kau lupa?” ucap Jordan.
“Hei! Aku tidak memintamu untuk hadir dan menolongku semalam,” ujar Leona dengan nada meninggi. "Kau juga yang membawaku ke tempat itu!" teriak Leona dengan suara meninggi.
Jordan menghela napas. Pria itu membuka topengnya lalu menatap wajah Leona dengan seksama. “Aku mencintaimu, Leona," ucap Jordan cepat.
“Baiklah. Aku percaya kalau kau memang benar tidak mencintaiku,” tegas Jordan dengan wajah yang serius.
Leona menatap wajah Jordan sebelum membuang tatapannya ke arah lain. “Kalau begitu, apa aku boleh pergi sekarang?” tanya Leona dengan hati bersabar.
Jordan mengangkat kedua bahunya. “Ya, tentu saja. Tapi, sebelumnya ... lakukan satu hal untukku.”
Leona mengernyitkan dahinya. “Apa itu?”
Jordan berdiri di hadapan Leona dengan wajah yang sangat serius. Pria itu mengukir senyuman penuh arti. “Pandang aku selama 10 detik. Kau tidak boleh mengedipkan mata selama 10 detik. Ingat, kau harus memandang wajahmu sendiri melalui mataku,” ucap Jordan dengan wajah yang sangat serius.
Leona tertawa kecil. “Hanya itu saja? Tidak ada yang jauh lebih sulit?” ucap Leona penuh percaya diri.
“Ok, di mulai.” Jordan menatap wajah Leona dengan seksama. Pria itu menatap dengan penuh cinta kepada Leona. Ya, memang Jordan telah cinta mati pada Leona. Pria itu bertekad untuk mendapatkan hati dan seluruh cinta yang di miliki Leona.
Leona memandang wajah Jordan dengan saksama. Wanita itu menatap kedua bola mata pria yang kini berada sangat dekat dengannya. Bukan hanya sepuluh detik. Bahkan, hingga satu menit. Leona belum juga mengedipkan mata. Wanita itu terus saja menatap mata Jordan.
Seperti ada daya tarik tersendiri ketika melihat kedua mata Jordan. Leona merasa tenang dan nyaman. Bahkan ia bisa merasakan dengan jelas rasa cinta dan ketulusan pria itu.
“Kau kalah,” celetuk Jordan. Pria itu mengukir senyuman karena berhasil mengetahui perasaan Leona. Bibirnya mengukir senyuman puas.
Leona tersadar ketika mendengar ucapan Jordan. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain. Ia terlihat grogi dan tidak tahu harus berbuat apa. Walau begitu, Leona tetap saja memasang wajah sok hebat. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Jordan. Apa lagi terlihat merespon rasa cinta pria itu.
Jordan mengukir senyuman yang indah. “Aku memintamu memandangku 10 detik. Kenapa kau menatapku hingga 10 menit. Apa kau tertarik dengan mata indahku ini?” ucap Jordan dengan wajah berseri bahagia. “Atau ... Kau berhasil menyadari rasa cintamu itu?” sambung Jordan lagi.
Leona menatap wajah Jordan dengan bibir membisu. Wanita itu mendorong tubuh Jordan sebelum memutar tubuhnya sendiri. Leona ingin segera pergi meninggalkan Jordan di tempat itu. Tapi, gerakan Jordan jauh lebih cepat. Pria itu menarik pergelangan tangan Leona sebelum membuat tubuh Leona merapat dengan tubuhnya. Satu tangannya berada di rambut Leona dan menarik wajah wanita itu agar mendekat dengan bibirnya.
Satu kecupan di daratkan Jordan di bibir Leona tanpa permisi. Pria itu memejamkan mata lalu mulai memainkan bibirnya dengan gerakan yang sangat lembut. Terlihat jelas sentuhan penuh cinta yang di miliki oleh Jordan saat itu. Walau terkesan memaksa. Tapi, Leona sendiri tidak merasakan hal seperti itu.
Leona memejamkan matanya. Debaran jantungnya tidak karuan. Satu tangannya berada di dada bidang Jordan. Awalnya ingin mendorong tubuh pria itu. Tapi, setelah Jordan mulai menyentuh bibirnya dan memberi kehangatan di sana. Leona lupa dengan semuanya. Bahkan wanita itu terhanyut dalam sentuhan bibir Jordan. Kedua matanya terpejam. Leona sudah lama tidak merasakan keadaan nyaman seperti itu. Untuk detik itu, Jordan telah berhasil membuat dirinya merasa tenang. Bahkan merasa di sayang dan di lindungi
“Untuk sekarang. Aku ingin waktu berhenti. Aku ingin kau berada di dekat tubuhku seperti ini dalam waktu yang lama,” gumam Jordan di dalam hati. Pria itu menarik pinggang Leona dan membuat tubuh wanita itu lebih rapat lagi. “Aku mencintaimu, Leona. Sangat mencintaimu. Cintaku tulus. Aku berjanji tidak akan menyakitimu seperti pria yang sudah pernah membuatmu terluka."
Ciuman itu adalah ciuman pertama antara Jordan dan Leona. Namun, menjadi ciuman pertama bagi Jordan Zein. Si pangeran Cambridge yang tidak pernah mengenal cinta dan dekat dengan wanita. Pesona ratu mafia itu memang telah berhasil membuat Jordan melupakan identitas dirinya. Ia tidak peduli, bagaimana latar belakang Leona. Jordan hanya tahu, ia jatuh cinta pada Leona dan ingin memiliki wanita itu. Menjadikan Leona Ratunya di Istana Cambride nantinya.
Masih penasaran dengan sosok Katterine? Part selanjutnya akan dijelaskan..😊