
Mesya membanting pintu kamarnya dengan jantung yang masih berdebar tak karuan. Juga wajahnya yang masih memerah seperti tomat. Mesya memegang bibirnya yang membengkak akibat Bisma ********** dengan beringas. Untung saja Papanya sudah masuk ke dalam kamar saat Mesya pulang. Jadi tidak akan ada yang bertanya tentang keadaan Mesya yang seperti itu.
Mesya tak tau seberapa rindunya Bisma dengan bibirnya itu sampai membuat Mesya kewalahan mengimbangi permainan bibir Bisma. Jika saja tadi mereka tidak di pinggir jalan, pasti Bisma belum melepaskan Mesya sampai saat ini.
Jantung Mesya yang masih tak karu-karuan itu membuat Mesya melemparkan dirinya ke ranjang dengan asal. Menutup wajahnya yang tak berhenti tersenyum dengan bantal. Kakinya Mesya juga tak bisa diam, terus menendang-nendang ke udara sebagai luapan perasaannya yang berbunga-bunga.
"Mas kenapa kamu berubah mengerikan seperti itu" Keluh Mesya yang hanyut dalam permainan yang di buat Bisma itu.
Mesya membuang bantal yang menutupi wajahnya begitu saja. Tiba-tiba pikirannya jadi melayang jauh kelak saat mereka jadi menikah.
Wajah Mesya kembali memerah membayangkan apa yang akan di lakukan Bisma kepadanya di malam pertama mereka nanti. Jika sebuah ciuman saja Bisma bisa serakus itu, apalagi jika mereka susah bisa melakukan lebih dari itu. Mesya membayangkannya saja sudah tidak sanggup.
Membayangkan tubuh Bisma yang tegap dan berotot seperti itu saja sudah membuat Mesya panas dingin saat ini. Ditambah lagi Mesya yang pernah melihat tubuh polos Bisma di dalam mimpinya. Meski sudah tiga tahun yang lalu, bayangan itu masih tersimpan di memori Mesya.
"Apa isinya akan sama persis seperti di dalam mimpi itu??" Gumam Mesya.
"Ah tidak tidak!!" Mesya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku jadi berpikiran kotor seperti ini?? Jangan berpikir terlalu jauh Mesya!! Ingat, pernikahan ini belum terjadi" Mesya membuang semua pikiran kotornya saat ini.
Sekelebat bayangan tentang Alya tiba-tiba muncul di mata Mesya.
"Apa dulu Alya pernah berpikiran jauh seperti ini?? Betapa sakitnya dia saat semua impiannya hancur"
"Sepertinya aku harus menemuinya besok. Tapi bagaimana kalau dia membenciku??"
Mesya pikir masalah itu berawal darinya. Maka sudah sepantasnya dia meminta maaf keada Alya karena telah menyakiti hati Alya secara tidak langsung.
*
*
*
Keesokan harinya Mesya benar-benar bertekad menemui Alya. Terbukti saat ini dia telah sampai di butik sederhana di pinggiran kota. Sempat ada keraguan di hati Mesya karena dia tak kunjung keluar dari mobilnya meski sudah lebih dari sepuluh menit ia sampai di sana.
"Ayo Mesya, kamu pasti bisa!!"
Setelah meyakinkan dirinya dengan cukup lama, akhirnya Mesya turun dari mobilnya. Melangkahkan kaki jenjangnya memasuki butik Alya.
"Permisi Mbak, bisa bertemu dengan Bu Alya??" Mesya menyapa salah satu karyawan Alya.
"Maaf, dengan siapa ya??"
"Mesya, bilang saja saya ada perlu sebentar"
"Baik tunggu sebentar ya Bu" Karyawan bernama Ela itu lalu masuk ke dalam ruangan Alya.
Tak lama setelah itu, Ela keluar dengan senyum ramahnya kepada Mesya.
"Bu Mesya, silahkan masuk. Sudah di tunggu Bu Alya di dalam"
"Terimakasih, Ela" Ucap Mesya setelah kembali melirik name tag milik Ela.
Mesya menarik nafas panjangnya sebelum tangannya bergerak membuka pintu ruangan Alya.
"Selamat pagi Alya" Sebenarnya saat ini sudah tidak lagi di sebut pagi karena waktu hampir menunjukkan jam setengah sebelas siang.
"Pagi Mesya, apa kabar??" Dugaan Mesya salah besar. Tadi Mesya begitu gugup karena takut jika Alya akan menyambutnya dengan kemarahan dan dendam. Tapi saat ini yang Mesya lihat adalah senyum manis milik Alya yang sangat khas dengan lesung pipitnya. Memang dari dulu Mesyalah yang selalu berpikiran buruk tentang wanita di depannya saat ini.
"Kabar baik Alya" Jawab Mesya sedikit canggung.
"Silahkan duduk. Kapan kamu kembali ke Indonesia" Alya mendekati sofa panjang untuk duduk berdekatan dengan Mesya.
"Aku nggak nyangka kalau bisa ketemu kamu lagi Sya" Mesya melihat mata Alya yang sama sekali tidak memancarkan kebohongan di setiap ucapannya.
"Aku memang pergi tapi aku masih ingin kembali Al"
"Lalu, apa kamu sudah bertemu dengan Mas Bisma??"
Deg...
Pertanyaan yang seolah tanpa beban di dalamnya itu justru begitu menusuk bagi Mesya.
"Alya aku minta ma..."
"Mesya" Alya memotong ucapan Mesya yang sudah Alya tebak sebagai ucapan maaf karena masalah perpisahannya dengan Bisma.
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku sama Mas Bisma memang tidak berjodoh. Kalaupun saat itu kita melanjutkan pernikahan kita, pasti kita akan berpisah di tengah jalan karena nyatanya hati Mas Bisma sudah menjadi milikmu" Ucapan Alya membuat Mesya semakin merasa bersalah.
"Tapi kedatanganku ke sini memang untuk itu Al. Karena aku pernikahan kalian jadi gagal. Karena aku Kak Bisma menjadi berpaling darimu. Aku yang telah menyakiti hatimu. Aku yang salah Al, akulah penyebab perpisahan mu dengan Kak Bisma. Aku minta maaf Alya" Justru berhadapan dengan Alya saat ini membuatnya mati kutu.
"Aku sudah berusaha pergi sejauh mungkin agar Kak Bisma tidak bisa menemukan ku. Aku mau Kak Bisma tetap menikahi mu karena aku yakin jika cinta kalian akan mengalahkan perasaan Kak Bisma kepadaku. Aku tidak tau tentang batalnya pernikahan kalian sampai akhirnya aku memutuskan kembali karena aku yakin kalian sudah bahagia dengan pernikahan kalian. Untuk itu, kamu boleh marah atau dendam kepadaku Al, aku siap"
Terlihat penyesalan yang begitu jelas di wajah Mesya. Cinta yang ia dapatkan saat ini memang begitu membahagiakan untuknya. Tetapi ternyata, cinta itu juga telah melukai hati yang lainnya.
"Pantaskah jika aku bahagia bersama Mas Bisma saat ini sementara Alya harus kehilangan cintanya??" Batin Mesya.
"Mesya, apa yang kamu pikirkan?? Aku tidak pernah marah atau dendam kepadamu. Semuanya sudah berlalu, aku juga sudah melupakan perasaanku kepada Mas Bisma. Jadi kamu tidak usah terbebani dengan masa lalu ini. Sekarang kalian bisa hidup bahagia dengan cinta kalian"
Mesya mengusap air matanya dengan cepat karena sudah tak tahan lagi menahannya dari tadi.
Drett.. Drett..
Mesya melihat ponselnya yang bergetar, di sana tertulis jelas nama Bisma yang memanggilnya, namun dia enggan mengangkatnya karena merasa tidak enak dengan Alya yang berada di sampingnya.
"Angkat aja Sya, tidak usah sungkan" Ucap Alya yang tak sengaja melihat siapa yang menghubungi Mesya saat ini.
"I-iya Al"
Dengan ragu Mesya menerima panggilan itu dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Halo Mas??" Jawab Mesya dengan pelan karena masih merasa tak enak hati dengan Alya
"Sayang, kamu di mana?? Aku sudah sampai di depan butik kamu. Katanya kamu mau buka hari ini, tapi kenapa kamu belum ada di sini??"
Mesya melirik Alya, dalam jarak sedekat itu pasti Alya bisa mendengar apa yang Bisma katakan tadi. Mesya takut panggilan sayang tadi menyakiti hati Alya.
"Sebentar lagi aku sampai, tunggu sebentar ya Mas. Aku tutup dulu"
Tut..
Mesya mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban apapun dari Bisma. Dia sepertinya harus siap menerima kemarahan dari pria itu.
"Alya, ak..."
"Sayang!!" Kedatangan seseorang menghentikan ucapan Mesya.
"Mas, kamu sudah datang??"
Alya terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan pria yang memanggilnya mesra tadi.
"Oh ya Sya, kenalkan ini Mas Arya. Suami ku" Dengan senyumnya yang lebar Alya mengenalkan pria itu kepada Mesya.
"A-apa?? Suami??"