KARMA

KARMA
Hanya mimpi


"Tidak!! Kamu tidak boleh pergi Mesya!!" Bisma mencoba menolak kenyataan yang kini berada di depan matanya.


"MESYAAAA!!"


"MESYAAAAAA!!!!!!"


"MESYAAAAAAAAA!!!!!"


"Hah..hah.. hah..." Nafas Bisma begitu tercekat dan terengah-engah begitu dia membuka matanya.


Bola matanya langsung bergerak-gerak melihat ke sekelilingnya saat ini. Otaknya masih belum.bisa mencerna dengan baik tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Drettt.. Drett..Drett..Drett..


Getaran ponsel di atas meja membuat Bisma sadar dari pikirannya saat ini.


"Halo??" Bisma menjawab panggilan dari telepon itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Mas, nanti kamu mau jemput aku jam berapa??"


Seketika Bisma menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia sangat hafal suara itu milik siapa. Tangan Bisma sampai gemetar saat melihat nama orang yang sedang berbicara dengannya ditelepon itu.


"Alya??" Gumam Bisma.


"Jemput ke-kemana??" Jawab Bisma dengan rasa yang campur aduk. Dia tidak tau mana yang menjadi kenyataan saat ini.


"Masa kamu lupa sih Maaasss, nanti malam kan kita mau datang ke reuni SMA kita" Ucap wanita itu dengan suara lembutnya.


"Re-reuni??" Bisma langsung melihat tanggal hari di dalam ponselnya.


"Iyaaa, kamu nggak mungkin lupa kan?? Ya udah aku tutup dulu, aku masih ada kerjaan. Nanti jemput jam tujuh aja ya, di butik aku. Sampai ketemu nanti malam Mas Bisma"


Tut...


Sampai panggilan itu di akhiri pun Bisma masih terpaku. Hingga setetes air mata tiba-tiba lolos dari kelopak matanya.


Tangan Bisma terangkat mengusap air mata yang membasahi pipinya itu. Bukan tanpa alasan kenapa Bisma bisa menangis seperti itu. Bisma saat ini masih merasakan dadanya begitu sesak, dadanya yang terasa seperti terhimpit batu itu begitu menyiksa dirinya.


"Mesya" Lirih Bisma.


Kini Bisma mulai sadar jika semua yang ia lalui bersama Mesya itu hanyalah mimpi belaka. Dia ingat saat dia merasakan kantuk yang luar biasa sehingga dia sengaja melewatkan jam makan siangnya hanya untuk berisitirahat sebentar di ruangannya. Sampai akhirnya dia terjun ke dalam sebuah mimpi yang sangat panjang.


"Tapi kenapa semuanya terasa begitu nyata?? Perasaan ini juga sangat menyakitkan. Rasa sesaknya bahkan masih bisa kurasakan saat ini" Bisma memegang dadanya yang teramat sakit itu.


"Hu.. hu.. hu.." Akhirnya suara tangisan itu lolos juga dari bibir Bisma. Dia tidak mampu menahan rasa sakit di dalam hatinya. Bayangan tentang Mesya, bagaimana dia menyakiti wanita yang dihamilinya itu di dalam mimpi. Hingga hadirnya cinta di hati Bisma untuk Mesya. Semuanya bukan hanya sekedar mimpi belaka.


"Mesya" Nama itu lagi yang Bisma ucapkan di sela-sela tangisannya.


Setelah beberapa saat hanyut dalam perasaannya. Bisma memilih pergi dari ruangannya. Pikirannya sudah tidak mampu lagi ia gunakan untuk memikirkan masalah pekerjaannya.


"Loh Bos, udah bangun??" Ucap Ferry saat Bisma keluar dadi ruangannya.


"Tolong urus kerjaan gue Fer. Gue pulang dulu" Bisma tak berhenti sedikitpun di hadapan Ferry. Ia hanya mengatakan itu sambil berjalan menjauh dari Ferry.


"Mentang-mentang Bos lo!! Seenaknya aja" Ucap Ferry yang masih di dengar Bisma. Namun Bisma sama sekali tidak peduli dengan ocehan sahabatnya itu.


Bisma benar-benar pulang ke apartemennya. Tempat yang sama dimana dia menghabiskan beberapa hari bersama Mesya di dalam mimpinya itu.


Pria berwajah tampan itu langsung masuk ke dalam kamarnya. Menelisik lebih dalam jika memang apa yang dirasakannya itu hanyalah mimpi belaka.


Bisma duduk di tepi ranjangnya. Dimana dalam mimpi itu menjadi tempat Mesya memejamkan matanya.


"Jika semua itu hanya mimpi, kenapa wangi tubuhmu masih bisa ku hirup sampai sekarang Sya??" Bisma hanya bisa bertanya dan terus bertanya tentang apa yang baru saja dia alami itu.


Entah kenapa, rasa ingin melihat wanita dalam mimpinya itu sangat besar saat ini. Padahal dari dulu dia tidak pernah peduli dengan Mesya.


Bisma melirik jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore di atas nakasnya.


"Hari ini adalah hari di yang menjadi awal masalah di dalam mimpi itu. Berarti Mesya akan datang ke sana untuk melakukan rencana jahatnya karena dia tau aku akan melamar Alya di sana"


Bisma menarik laci nakas di sampingnya. Dia mengambil kotak beludru yang sudah ia siapkan untuk melamar Alya nanti malam.


"Tapi benar jika dari dulu Mesya selalu merundung Alya??"


Bisma merogoh ponsel yang masih tersimpan rapi di dalam saku jasnya.


"Cari tau semua tentang hubungan Mesya dan Alya dari jaman mereka SMA Fer. Gue nggak mau ada satupun yang terlewatkan termasuk hal yang selama ini di sembunyikan Alya dari gue"


"Maksud lo Bos?? Memangnya kenapa dengan mereka berdua??"


"Nggak usah banyak tanya karena lo harus bawa semua laporan yang lo dapat ke acara reuni nanti malam"


"Apa?? Gila lo Bos!!"


"Gue nggak terima protes atau gaji bulan ini lo nggak gajian!!"


Tut...


Bisma langsung memutus panggilan teleponnya karena tak mau mendengar kalimat protes dari Ferry.


*


*


*


Beberapa jam pun berlalu. Kini Bisma benar-benar tiba di depan butik Alya. Rasanya sudah lama sekali Bisma tidak datang ke sana walau kenyataannya baru kemarin Bisma menjemput Alya dari sana dan mengantarkannya ke rumah.


Bisma turun dari mobilnya untuk menjemput Alya ke dalam. Namun baru beberapa langkah dia sudah mendapati sosok wanita manis dengan lesung pipitnya keluar dari butik itu.


Dialah Alya, wanita yang mengisi hatinya beberapa tahun ini. Juga wanita yang sangat dirindukannya karena kepergiannya di dalam mimpi bisma.


Alya terus mengumbar senyumnya untuk menghampiri Bisma yang sudah sangat tampan dengan setelan jas berwarna navy itu.


"Ayo berangkat sekarang Mas" Ucap Alya ketika sampai di depa pria yang terus menatap dirinya itu.


GREEEPPP...


Alya tersentak karena tiba-tiba Bisma menariknya ke dalam pelukannya.


"Mas??" Alya bingung karena tidak biasanya Bisma bersikap seperti itu di depan umum. Kekasih dinginnya itu hanya akan menunjukkan sifat manjanya saat mereka hanya berdua.


"Aku merindukanmu Alya" Bisik Bisma.


Alya hanya tersenyum di dalam dekapan Bisma, lalu tangannya bergerak membalas pelukan hangat dari Bisma itu.


"Perasaan baru kemarin kita ketemu. Kenapa sudah rindu seperti ini sih Mas??" Alya yang tidak tau apa-apa hanya menganggap rindu yang di maksud Bisma hanya gurauan saja.


"Tapi aku benar-benar merindukanmu Al"


"Iya, iya. Sekarang kita berangkat dulu. Nanti kita telat Mas" Mau tak mau Bisma harus melepaskan pelukannya pada Alya.


"Kepergian kamu itu hanya mimpi Al. Dan sekarang aku benar-benar melihatmu berdiri di depanku lagi. Kamu tidak akan percaya saat aku menceritakan semua mimpi ku itu. Apalagi saat aku hancur karena kehilangan kamu" Bisma terus terdiam sambil terus memandangi Alya.


"Mas, ayo!! Kenapa malah melamun seperti itu!!" Suara Alya menyadarkan Bisma dari lamunannya.


"I-iya, ayo berangkat" Bisma langsung menyusul Alya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


*


*


*


"Aku ketemu teman-temanku dulu ya Mas" Ucap Alya ketika mereka sudah sampai di dalam ballroom hotel tempat diadakannya acara itu.


"Iya, hati-hati. Jangan minum sembarangan apalagi menerima minuman dari orang lain!!"


"Iya Mas Bisma sayang"


Bisma tentu saja teringat kejadian di dalam mimpinya yang membuat Alya harus mengakhiri hidupnya. Sebenarnya Bisma ingin sekali menahan Mesya selalu di sisinya, namun Bisma harus menemui Ferry saat ini.


"Gimana?? Udah dapat apa??" Tanya Bisma setelah menemukan keberadaan Ferry.


"Lihat aja sendiri. Gue nggak nyangka banget kalau Mesya sejahat itu. Apalagi Alya yang masih tutup mulut sampai sekarang"


Bisma sudah tidak kaget lagi dengan apa yang di sampaikan Ferry. Namun yang membuat Bisma lebih kaget adalah Video serta info yang di berikan Ferry sama persis dengan yang ada di mimpi Bisma.


"Ada apa ini sebenarnya?" Batin Bisma.