
Setelah hubungan mereka berdua menemui kejelasan. Tak ada lagi yang namanya saling mengalah dengan alasan demi kebahagiaan salah satunya. Kini Bisma ingin membawa Mesya menemui orang tuanya. Mungkin terlalu terburu-buru karena mereka baru bertemu setelah tiga tahun lamanya berpisah. Tapi Bisma tidak sabar ingin meminta orang tuanya menikahkannya dengan wanita pujaannya itu.
Mesya sempat ingin menolak karena belum siap bertemu dengan kedua orang tua Bisma. Dia takut jika mereka akan menyalahkan Mesya terkait gagalnya pernikahan Bisma dan Alya waktu itu. Tapi karena Bisma meyakinkannya dan akan selalu melindungi Mesya apapun yang terjadi, maka kini Mesya berakhir duduk di samping Bisma yang sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya.
Sesekali Mesya mencuri padang kepada pria yang berada di sampingnya itu. Lalu pipinya akan bersemu setelah melihat wajah tampan pria itu dari samping.
"Kenapa?? Aku tambah ganteng ya??" Tanya Bisma karena menyadari beberapa kali Mesya meliriknya.
Mesya tersipu malu karena aksinya itu ternyata di sadari oleh Bisma.
"Iya aku akui kamu semakin matang Mas" Mesya mengatakannya dengan pelan karena malu memuji Bisma secara terang-terangan seperti itu.
"Wah enak dong kalau udah matang, tinggal makan aja"
"Apaan sih Mas" Ucapan serius Mesya justru di balas dengan candaan oleh Bisma.
"Aku cuma masih nggak percaya aja Mas, kalau kita bisa sama-sama kaya gini. Dulu itu sangat mustahil bagiku. Aku bahkan merasa tak pantas bersanding dengan kamu. Kamu tau sendiri bagaimana aku dulunya. Hingga aku mendapatkan karma ku di dalam mimpi itu " Tentu saja Mesya bagaikan tertimpa durian runtuh. Bisma yang begitu jauh dari jangkauannya, Bisma yang dulu tak pernah peduli kepadanya kini Mesya justru berhasil masuk ke dalam dekapannya.
"Kita memang tidak pernah tau jalannya takdir kita akan seperti apa Sya. Aku juga tidak menyangka cintaku akan berpindah ke lain hati secepat itu. Kamu juga tidak usah pikirkan masa lalu kamu. Kamu bukan Mesya yang dulu lagi. Aku juga bukan lelaki yang sempurna. Jadi kita sama-sama memperbaiki diri kita kedepannya ya??" Bisma mengusap kepala Mesya dengan lembut.
"Iya Mas. Makasih ya, kamu sudah sudi menerima ku dan mencintaiku"
"Sama-sama sayang, aku juga berterimakasih karena sudah mencintaiku sedalam ini" Tangan Bisma beralih menggenggam tangan Mesya.
"Mas, kamu sedang mengemudi!!" Mesya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Bisma.
"Nggak papa sayang, aku bisa kok" Mesya akhirnya membiarkan tangannya terus terpaut dengan tangan jemari panjang milik Bisma. Jari-jari yang begitu Mesya sukai. Menurut Mesya jari Bisma itu cantik, panjang dan tidak gendut, juga terlihat uratnya yang menonjol di beberapa sisinya.
Mobil Mesya mulai memasuki pekarangan rumah Bisma. Dulu Mesya sempat beberapa kali datang ke sana hanya untuk mendekati Mamanya Bisma. Salah satu rencananya untuk mendapatkan perhatian Bisma waktu itu. Tapi kalian tau sendiri kalau hasilnya percuma saja.
Tapi rasanya berbeda kali ini. Jika dulu Mesya begitu percaya diri masuk ke dalam rumah itu. Kini Mesya merasa takut dan malu.
"Ayo Sya. Mama dan Papa pasti sudah ada di rumah jam segini"
Mereka tiba di sana memang sudah menjelang sore hari. Bisma perkirakan jika orangtuanya sudah berkumpul di rumah. Bisma memang belum memberitahu mereka kalau dia datang membawa Mesya.
"Tapi aku takut Mas" Cicit Mesya.
"Genggam tanganku, percaya saja padaku" Bisma meraih tangan Mesya, menggenggamnya dengan begitu erat untuk menghilangkan rasa takut Mesya.
"Aku pulang Ma!!" Mesya berjalan di samping Bisma dengan menundukkan kepalanya.
"Mama di dapur Bisma!!" Sahut suara yang begitu Mesya kenal.
Bisma menoleh kembali pada Mesya, melihat wajah cantik wanita itu yang sedikit memucat karena kegugupannya.
"Tenang saya ya??" Bisik Bisma.
"Ma, Bisma bawa seseorang" Ucap Bisma karena Mamanya sedang membelakanginya.
"Sia..." Mama Bisma berlahan berbalik dan begitu terkejut dengan wanita yang berdiri di samping Bisma.
"Mesya??"
"Baik" Jawab Mama Bisma dengan singkat yang langsung membuat Mesya menciut.
"Kita bicara sambil duduk aja yuk Ma. Sekalian panggil Papa" Usul Bisma.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?? Papa ada di sini!!" Tanpa mereka sadari ternyata Papa Bisma sudah duduk di ruang keluarga yang berseberangan langsung dengan dapur.
Mereka bertiga mendekat ke sana menghampiri Tuan besar rumah itu. Mesya lekas duduk di samping Bisma dan berhadapan langsung dengan Tuan dan Nyonya Dirgantara.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang bersama Mesya, Bisma??" Mamanya melirik ke arah tangan mereka yang masih saling menggenggam.
"Bisma ingin mengenalkan wanita yang Bisma cinta ke depan Mama dan Papa" Jawab Bisma dengan tegas.
"Apa Mesya adalah wanita yang membuat kamu membatalkan pernikahan waktu itu??"
Deg...
Mesya mulai ketakutan. Tangannya semakin kuat mencengkeram tangan Bisma.
"Maafkan Mesya Om, Tante. Mesya yang salah karena masuk di antara Mas Bisma dan Alya" Mesya menahan air matanya di hadapan mereka.
"Bukan Mesya yang salah Pa, tapi aku sendiri yang gegabah mengambil keputusan waktu itu. Mesya bahkan sudah pergi meninggalkan ku selama tiga tahun ini agar aku bisa bersama Alya. Tapi aku tetap tidak bisa. Jadi aku mohon jangan sudutkan Mesya, Pa, Ma" Bisma bergantian memandangi kedua orang tuanya.
"Papa tidak menyalahkannya Bisma. Papa hanya kecewa sama kamu. Waktu itu Papa sudah melihat keraguan di mata kamu makanya Papa menyuruhmu memikirkan keputusan kamu dengan benar. Tapi kamu keras kepala dengan keputusan kamu sendiri. Akhirnya kamu tau sendiri kan buah dari keputusan gegabah mu itu??"
Bisma tau jika keputusan untuk melamar Alya waktu itu hanya karena rasa marahnya pada Mesya yang ingin melupakannya.
"Maafkan Bisma Pa"
"Papa marah karena kamu tidak bisa bertanggungjawab dengan keputusan yang kamu ambil sendiri. Terlebih lagi kamu sudah menyakiti hati Alya dan keluarganya"
Bisma menunduk di hadapan Papanya. Dia memang salah dalam hal itu, dia mengakui semuanya.
"Sekarang apa maksud kamu membawa Mesya ke sini??" Tanya Mama Bisma.
"Bisma ingin menikahi Mesya Ma. Bisma meminta restu dari Papa dan Mama"
"Kamu yakin dengan Mesya kali ini?? Apa kamu tidak akan membuat kami malu lagi jika pernikahan kali ini gagal lagi??" Mama Bisma kembali bersuara.
"Aku yakin Ma. Tidak ada lagi keraguan di hatiku saat ini. Mesya adalah wanita yang benar-benar aku cintai" Bisma menatap mata Mesya saat mengatakan kesungguhannya itu.
"Papa tidak pernah ikut campur tentang maslaah asmara kamu dari dulu Bisma. Tapi Papa tidak mau kalau kamu sampai mencoreng nama baik keluarga kita untuk ke dua kalinya. Jadi kalau kamu serius dengan Mesya dan ingin menikahinya. Papa Minta kamu menikahinya dengan sederhana dulu, lalu saat pernikahan itu sudah sah secara hukum dan agama, baru kita adakan pesta pernikahan sesuai dengan keinginan kalian. Hanya itu yang bisa membuat Papa percaya dengan langkah yang kamu ambil saat ini"
"Aku setuju Pa. Ya kan Mesya??"
"Bagaimana Mesya??" Papa Bisma meminta pendapat Mesya kali ini. Sebenarnya Papa Bisma bisa melihat wajah ketakutan Mesya dari tadi. Tapi dia hanya ingin tegas di hadapan Bisma kali ini.
"Mesya ingin meminta ijin Papa dulu Pa"
"Kalau begitu, kapan Papa kamu ada waktu?? Kita akan datang ke rumah mu secepatnya" Putus Papa Bisma.